Kerja Ikhlas Tentara, Demi Kesejahteraan Warga

Editor: Ivan Aditya

DERU Suara mesin molen memecah keheningan sudut utara-timur Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, tepat pukul 13.00 WIB. Sejumlah pria berkaus loreng dan bersepatu PDL berdiri di sekitar mesin, menunggu adonan semen, pasir, batu, dan air tercampur rata.

Jalan batu berkontur curam dengan kemiringan hampir 45 derajat menjadi tantangan bagi pasukan gabungan TNI dan yang dibantu Polri dan warga. Selain menjaga agar mesin tidak menggelinding liar ke bawah, mereka juga harus memperhatikan pijakan sehingga tubuh tidak tergelincir pasir atau batu.

Pergantian musim di bulan Oktober pun menjadi tantangan bagi mereka. Terlebih setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan potensi terjadinya fenomena La Nina, yang menyebabkan turunnya hujan dalam beberapa hari ke depan.

Prakiraan yang memang mulai terbukti ketika cuaca cerah pagi hingga tengah hari, tiba-tiba berubah mendung pekat. Perwira Seksi (Pasi) Teritorial Kodim 0708 Purworejo Kapten Inf Dhaliman paham betul dengan informasi anomali cuaca itu. Matanya tajam menatap langit ketika rintik gerimis mulai menyentuh wajah. Namun ia yakin, tidak akan ada hujan lebat untuk hari ini. Gemuruh guntur penanda musim hujan masih belum terdengar.

Namun prediksinya hari itu agak meleset ketika rintik gerimis tiba-tiba menjadi deras. Dhaliman menyapu pandangan pada anak buahnya yang mulai basah kuyup. Tapi ia tersenyum, tidak satu pun prajurit yang mengeluh. Jangankan hujan, ribuan musuh yang ingin mengganggu keutuhan NKRI pun siap mereka hadapi.

“Kalian, tolong perhatikan campuran semen dan pasirnya, ya. Konstruksi jalan ini harus kuat,” instruksi Dhaliman kepada prajuritnya.

Dhaliman merupakan perwira lapangan yang mengawasi jalannya TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-109 Kodim 0708 Purworejo. Tugasnya mewakili Komandan Satgas (Dansatgas) TMMD Reguler 109 Kodim 0708 Purworejo Letkol Inf Lukman Hakim SSos MSi, yang juga Dandim 0708. Dhaliman dan dansatgas selalu berada di Sedayu mengawasi pelaksanan program.

Ada empat program utama TMMD reguler tersebut, yakni membangun akses jalan penghubung Dusun Sejati dengan Dusun Wonosari sepanjang 1.665 meter, membangun rumah tidak layak huni milik Norman Sihombing, mendirikan sarana MCK dan wudu di Masjid Tiban Al Barokah Wonosari, dan membangun poskamling di Pasar Menoreh. Sebanyak 110 pasukan gabungan TNI tiga matra dan Polri mengerjakan empat proyek secara bersamaan.

Tiga belas hari sejak TMMD resmi dilaksanakan, kegiatan sudah menunjukkan hasil yang nyata. Jalan sudah terbangun mencapai 65 persen. Bangunan rumah tidak layak juga sudah berdiri dan selesai 75 persen, sarana MCK masjid 70 persen, dan poskamling 75 persen.

Komandan Kodim 0708 Purworejo Letkol Inf Lukman Hakim SSos MSi menjelaskan, jalan baru itu adalah akses untuk menghubungkan desa dengan objek wisata Glamping De Loano. Glamping yang dikelola Badan Otorita Borobudur (BOB) itu terletak di ujung timur Dusun Wonosari.

Untuk mengakses objek kekinian itu, wisatawan hanya bisa melalui jalan di Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Akses kendaraan secara langsung dari arah Sedayu belum terbuka karena masih berupa jalan setapak di dalam hutan pinus Perhutani. “Jalan yang ada baru sampai Dusun Wonosari, itu pun kondisinya sudah rusak berat,” kata Lukman kepada KRJOGJA.com, Selasa (06/10/2020).

Pembangunan jalan sebagai akses menuju Glamping De Loano itu merupakan usulan desa yang disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo, kemudian dikomunikasikan dengan TNI agar bisa masuk dalam program TMMD reguler. Para prajurit membangun jalan berkonstruksi cor blok, dengan lebar empat meter dan ketebalan dua belas sentimeter.

Guratan lurus melintang ditoreh di permukaan jalan untuk mencegah ruas licin ketika dilintasi kendaraan. Prosedur konstruksi yang wajar ketika membangun jalan rabat di lokasi berbukit seperti di Sedayu.

Pembangunan akses ditargetkan selesai pada H-7 sebelum TMMD ditutup pada 22 Oktober 2020. “Proses selanjutnya selama seminggu adalah merapikan akses itu, sehingga jalan benar-benar siap digunakan masyarakat setelah program selesai, juga tahan lama,” terang Lukman.

Selain jalan, pasukan juga membangun rumah layak untuk keluarga Norman Sihombing, warga Dusun Wonosari. Selama bertahun-tahun, keluarga miskin itu tinggal di rumah bambu berlantai tanah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Pemerintah desa mengusulkan keluarga itu untuk menerima bantuan rehab rumah kepada Baznas Kabupaten Purworejo.

Namun, karena kondisi rumah reyot itu tidak mungkin diperbaiki, pasukan mendirikan bangunan baru di dekatnya. Bangunan berukuran 6×6 meter dengan konstruksi dinding batako dan lantai semen. “Bantuan Baznas Rp 10 juta kami wujudkan menjadi rumah yang jauh lebih layak dibanding sebelumnya. Kami berharap keluarga Pak Norman kelak akan kerasan tinggal di rumah baru mereka,” ucapnya.

Sementara itu, sarana MCK dan sarana wudu merupakan jawaban atas kendala yang selama ini dihadapi jemaah Masjid Tiban Dusun Wonosari. Sarana yang dimiliki masjid itu dirasa kurang memadai dibandingkan jumlah jemaah yang hampir seratus orang.

Pemerintah desa mengusulkan pembangunan sarana MCK dan tempat wudu kepada TNI dan disetujui. Kodim 0708 Purworejo memfasilitasi penggalangan dana melalui program Coorporate Social Responsibility (CSR) Bank BNI 46. Kebetulan juga, seorang warga mewakafkan sebidang tanah di samping masjid sebagai lokasi bangunan itu.

Dandim berharap, pembangunan sarana masjid bisa menjadi ladang ibadah bagi para prajurit TNI yang mengerjakannya. “Semoga menjadi amal kebaikan yang terus mengalir bagi kita semua, terutama untuk prajurit dan warga yang terlibat langsung secara ikhlas dalam pembangunannya. Kami juga sampaikan kepada prajurit agar setiap aktivitas TMMD diniatkan sebagai ibadah,” ungkapnya.

Selain program fisik, prajurit juga melaksanakan penyuluhan bela negara. Mereka mengingatkan pentingnya persatuan dan kebersamaan demi menjaga keutuhan NKRI dari berbagai ancaman asing. “Kami juga sampaikan tentang protokol kesehatan dan kewajiban warga menjaga kesehatan demi mencegah pandemi Covid-19. Prajurit juga memberi contoh dengan menerapkan protokol kesehatan selama kegiatan TMMD,” paparnya.

Kiprah TNI dan Polri dalam membangun Desa Sedayu mendapat apresiasi dari Pengendali Kegiatan Operasional (PKO) TMMD Reguler 109 Kodam IV Diponegoro. Kodam IV menerjunkan tim untuk melakukan pengawasan dan evaluasi di lokasi TMMD Desa Sedayu.

Pamen Ahli Bidang Ekonomi Kodam IV Diponegoro Kolonel Inf Tri Suseno memimpin kegiatan pengawasan itu, didampingi Pabandya Bakti TNI Asisten Teritorial Kodam Letkol Inf May Artantyo. Keduanya mengecek satu per satu lokasi kegiatan TMMD di desa perbatasan itu.

Kolonel Inf Tri Suseno mengatakan, pusat komando mengapresiasi pelaksanaan program di Desa Sedayu yang dinilai lancar dan cepat. Menurutnya, keberhasilan itu tentu tidak lepas dari peran serta masyarakat dalam membantu TMMD.

Setiap harinya, ada sekitar 30-40 warga yang terjun langsung membantu TNI membangun jalan, rumah, sarana MCK masjid, dan poskamling. “Kami melihat ada sinergisitas yang sangat bagus antara TNI dan masyarakat. Inilah bentuk pertahanan negara dan kemanunggalan TNI bersama rakyat,” ujarnya.

Tri menjelaskan, program TMMD akan memberikan manfaat secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat Sedayu. Jalan yang dibangun akan memudahkan warga yang selama ini terkendala akses untuk menuju ke wilayah di sekitarnya. Bahkan, manfaatnya bakal lebih besar lagi karena jalan itu menembus sampai Glamping De Loano.

Di samping itu, pembangunan jalan juga akan mempermudah warga memasarkan berbagai produk hasil bumi. “Akses pasar semakin terbuka, tentunya ke depan akan semakin meningkatkan perekonomian masyarakat, seiring semakin mudahnya mereka memasarkan hasil panen,” katanya.

Kolonel Tri Suseno juga mengapresiasi keikhlasan prajurit yang rela meninggalkan keluarganya untuk menjalankan tugas TMMD. Sebagian besar pasukan menginap di bekas bangunan SD Wonosari selama pelaksanaan program.

“Prajurit secara tulus dan ikhlas meninggalkan anak istri demi tugas negara dan mengabdi untuk masyarakat. Saya berharap semua prajurit tetap bersemangat, selalu sehat, dan jangan lupa untuk tetap menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Sejak awal, program TMMD mendapat sambutan positif masyarakat. Mereka mengaku sangat terbantu dengan empat program utama TMMD di Sedayu. Salah satunya adalah Subarkah, Ketua Takmir Masjid Tiban Al Barokah Wonosari. Tidak hanya mengapresiasi, Subarkah juga turun langsung membantu TNI mengerjakan bangunan MCK dan tempat wudu.

Subarkah menuturkan, masjid itu belum memiliki sarana kamar mandi dan WC yang representatif. Jemaah masjid mengumpulkan infak selama bertahun-tahun dan berhasil merehab bangunan utama. “Sementara MCK belum tersentuh, alhamdulillah bisa masuk dalam program TMMD reguler,” ucapnya.

Warga sekitar masjid tidak berpangku tangan melihat prajurit TNI dan Polri mendermakan tenaga dan pikiran demi menyelesaikan pembangunan MCK. “Kami turun langsung, tapi untuk teknis konstruksinya diserahkan kepada anggota TNI. Warga hanya membantu meringankan tugas mereka,” katanya.

Apresiasi juga partisipasi juga ditunjukkan para perempuan warga Dusun Wonosari. Belasan ibu rumah tangga mendirikan dapur umum untuk memasak menu sarapan, makan siang, dan makan malam khusus untuk prajurit yang bekerja.

Mereka membentuk tujuh kelompok yang masing-masing beranggotakan delapan orang. Setiap tim bertugas memasak menu untuk tiga kali makan di rumah Sastrowiyono yang dijadikan posko dapur umum.

Salah satu warga, Milah mengatakan, mereka datang ke posko dapur umum setiap pukul 03.00 WIB untuk mulai memasak sarapan prajurit. “Kami masak sekalian untuk keluarga di rumah. Jadi saat menunya matang, kami ambil sebagian kecil untuk sarapan suami dan anak. Kami memang diizinkan membawa pulang makanan karena memang tidak sempat pulang untuk memasak,” terangnya.

Milah mengaku senang menjadi relawan yang memasak untuk para prajurit. Ia menganggap pengorbanannya dan perempuan Dusun Wonosari di dapur umum sebanding dengan apa yang diberikan TNI bagi desa. “Kami senang dengan kehadiran tentara, karena jalan jadi baru dan bagus,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Desa Sedayu Ahmad Said SSos menambahkan, program TMMD menjadi berkah bagi warga desanya. Infrastruktur yang hampir tidak pernah terpikirkan untuk dibangun, yakni akses langsung menuju Glamping De Loano, akan segera terwujud. Sejak glamping berdiri, lanjutnya, Sedayu tidak secara signifikan merasakan manfaatnya karena objek itu hanya bisa dijangkau dari wilayah Kulonprogo.

Akses tersebut sejalan dengan upaya desa merevitalisasi kembali Pasar Menoreh. “Sebagai desa penyangga kawasan otoritatif Borobudur, Sedayu mendapat bantuan Rp 60 juta dari BOB untuk membangun ulang pasar wisata itu menjadi lebih unik, menarik, dan instagramable,” paparnya.

Ahmad Said meyakini, pasar yang dibuka setiap Minggu sore itu bakal semakin ramai karena dapat dikaitkan langsung menjadi paket wisata Glamping De Loano. Wisatawan yang berakhir pekan dengan menginap di glamping dapat berkunjung untuk berwisata kuliner di Pasar Menoreh.

TMMD, kata Said, tidak sekadar program membangun jalan, bangunan fisik lain, atau karakter bela negara masyarakat. “Lebih dari itu, TMMD membuka banyak peluang baru yang kelak bisa ditangkap oleh warga kami. Peluang ekonomi yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sedayu,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI