Ketekunan Penyandang Tuna Netra Baca Alquran Braile

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Riuh rendah alunan ayat suci terdengar dari masjid Al Ikhlas yang berdiri kokoh di tengah komplek Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra (PPSDN) Penganthi Temanggung, selepas Dhuhur, Senin (19/04/2021). Tidak kurang dari 50 penerima manfaat membaca Alquran secara bergantian, sebagian menyimak dan menghafalnya.

Dalam membaca kalam Ilahi, mereka mengandalkan ujung jari. Syaraf-syaraf di ujung jari mengirimkan sinyal ke otak yang selanjutnya otak perintahkan mulut untuk melafalkannya.

Seorang penerima manfaat, Muhammad Zaroh Riyadin (20) asal Temanggung mengatakan perlu ketekunan untuk menguasai membaca huruf braile Alquran. Dua tahun di panti dirinya tidak sepenuhnya mampu membaca dengan lancar.

“Saya belajar mengenal huruf hijaiyah braile, dilanjut merangkai hingga membaca. Dengan ketekunan Alhamdulillah bisa juga membaca Alquran,” kata Zaroh.

Mensyukuri karunia Allah dapat membaca Alquran, kata dia, pada bulan Ramadan ini memperbanyak tadarus, yang dilakukan secara mandiri dan berkelompok. Biasanya usai salat wajib lima waktu dan tarawih.

Dia mengemukakan tantangan dalam membaca Alquran braile adalah harus konsentrasi saat membaca. Jari harus peka, apalagi bila Alquran lama yang sudah sering dibaca, sebab tanda-tanda timbul, huruf cenderung rata.

“Alquran lama tanda-tanda timbul sudah masuk dan rata. Ini sudah dibaca. Kertas yang basah pun sulit dibaca,” kata dia.

Dia mengatakan di Panti Penganthi, mereka yang telah pandai membaca mengajari yang belum. Harapan, penerima manfaat yang beragama Islam dapat membaca Alquran braile.

Pekerja sosial PPSDN Penganthi Temanggung, Sutarni mengatakan PPSDN Penganthi memfasilitasi penerima manfaat untuk beribadah dengan baik selama Ramadan. Diantaranya sahur bersama, sholat subuh dilanjutkan kuliah pagi, berbuka puasa bersama hingga sholat tarawih dilanjutkan membaca Alquran. “Pembimbing memberikan ruang bagi penerima manfaat untuk dapat beribadah sesuai tuntunan agama,” kata dia.

Dia mengatakan dalam membaca Alquran braile, bagi yang belum mampu mendapat pelatihan membaca dari dasar hingga mahir. Kendala membaca braile adalah jari harus peka dan kemampuan anak sangat yang berfariasi.

Dia mengatakan penerima manfaat mendapat pendampingan meski telah mampu membaca Alquran braile. Kemampuannya dievaluasi, dan yang telah betul-betul mahir untuk mengajari temannya yang belum dapat.

“Kami juga mendatangkan guru khusus untuk mengajari membaca Alquran braile,” kata dia sambil menambahkan sampai saat ini dari 100 penerima manfaat yang telah dapat membaca Alquran braile sekitar separuhnya.

Dia berharap semakin banyak Alquran braile. Sehingga ketika membaca tidak bergantian. Alquran itu didapat dari anggaran kementrian dan bantuan dari donatur. (Osy)

BERITA REKOMENDASI