Ketika Seniman Purworejo Temukan ‘Passion’ di Bogowonto

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Sungai Bogowonto yang membelah Kabupaten Purworejo memiliki nilai sejarah yang panjang dan bermakna bagi masyarakat setempat. Sungai itu menjadi tempat para pejuang bertempur membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, mulai era Diponegoro hingga perang kemerdekaan. 

Baca Juga: Gusti Yudha Padukan Kopi dan Seni Budaya Yogya

Bogowonto pun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Purworejo. Bahkan kebudayaan sungai masa lampau diperkirakan pernah berjaya, terbukti dengan ditemukannya beberapa situs cagar budaya di tepiannya. 

Sisi sejarah dan budaya sungai itu menjadi perhatian sejumlah seniman Purworejo. "Kami bangga hidup di sekitar Bogowonto, sungai ini sumber kehidupan warga yang sangat patut kita syukuri keberadaannya," tutur seniman pantomim, Mahestya Andi Sanjaya, kepada KRJOGJA.com, usai pentas di Bogowonto, Senin (9/9/2019). 

Rasa syukur itu memotivasi Mahestya Andi bersama penari Melania Sinaring Putri, seniman puisi Fajar Chalik, penembang lagu jawa Heru Probo dan seniman rias Titi Prabandari untuk mencoba mengkolaborasikan seni yang mereka dalami. Mereka memanfaatkan tepian Kedung Rong atau aliran Bogowonto di Kelurahan Pangenrejo Kecamatan Purworejo, sebagai panggung terbuka. 

Baca Juga: Jumat-Sabtu, Festival Kesenian Sleman 2019 di Ambarrukmo Plaza

Mahestya mengatakan, pentas kolaborasi itu bertemakan ucapan syukur kepada alam. "Alam telah memberi manusia segalanya, maka untuk kesinambungan, kita harus menjaganya. Jangan pernah merusak alam," tegasnya. 

Penari Melania Sinaring Putri mengemukakan, pentas sekitar setengah jam itu diawali dengan nyanyian kidung jawa oleh Heru Probo. Kemudian disisipi puisi yang dibacakan Fajar Chalik. "Disela tembang dan puisi, kami menari, bertreatikal," ungkapnya. 

Melania membawa properti berupa gunungan perlambang bumi yang terbuat dari anyaman rumput. Mahestya Andi menunjukkan gerakan perwujudan kehidupan dan terima kasih kepada alam. 

Sementara beberapa murid seniman rias Titi Prabandari menampilkan gerak mengiringi teatrikal itu. "Pentas berakhir hingga kidung dan puisi selesai dibacakan," ucapnya. 

Heru Probo menambahkan, kolaborasi singkat itu merupakan pentas dadakan. Tidak ada perencanaan khusus untuk pagelaran di tepi sungai itu. "Beberapa hari sebelumnya saling berkomunikasi, akhirnya disepakati pentas di sungai. Lalu kami ketemu di lokasi, jadi tidak ada latihan sama sekali," terangnya. 

Menurutnya, pentas tersebut bukan untuk mencari sensasi. Seniman, lanjutnya, harus bisa memanfaatkan berbagai momentum dan tempat untuk berkesenian. "Kami merasa menemukan passion ketika ada ajakan pentas di sungai, kami coba dan ternyata hasilnya memuaskan," tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI