Kodim Proyeksikan Kopi Sebagai Solusi Pagerejo

Editor: Ivan Aditya

WONOSOBO, KRJOGJA.com – Usai TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-100 yang bertempat di Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, Wonosobo jajaran Kodim 0707 Wonosobo memproyeksikan tanaman kopi untuk dijadikan dari permasalahan pertanian pagerajo. Mengingat para petani wilayah setempat perlahan beralih profesi lantaran dianggap kurang menguntungkan.

Panglima Kodam VI Jateng, Mayjend Tatang Sulaiman menyebutkan alasan para petani untuk beralih profesi merupakan sebuah kewajaran, karena fluktuasi harga dari hasil pertanian kerap membuat para petani kesulitan untuk mendapatkan untung.

“Boro-boro untung, bisa mendapatkan hasil agar cukup untuk dijadikan modal saja sudah untung. Contohnya cabai, sekarang cabai harganya murah sekali. Beberapa petani cabai mengalami keterpurukan diwaktu-waktu ini. Jadi menurut kami, kopi menjadi solusinya,” terang Pangdam usai penutupan TMMD Reguler ke-100 di lapangan Desa PagerejoKertek, Kamis (26/10/2017).

Menurut Pangdam, tanaman kopi dipilihnya karena memiliki potensi besar serta daya jual yang tinggi. Beberapa kopi dari Wonosobo, lanjutnya, telah memiliki nama baik dalam negeri maupun sampai luar negeri. Bahkan beberapa kali, kopi Wonosobo kerap meramaikan festival kopi di berbagai event nasional. Hal itu menjadikan kopi asal Wonosobo mempunyai peluang yang cukup besar untuk dipasarkan.

“Belum lama ini, Diaspora Indonesia yang berada di negara Kuwait telah memperkenalkan kopi Jawa Tengah, khususnya Wonosobo disana. Bahkan Istri Sultan Keraton Jogja memproyeksikan kota pelajar tersebut sebagai kota Kopi dengan meminta sokongan bahan biji kopi dari Wonosobo. Beberapa cerita tersebut sudah dapat membuktikan kopi Wonosobo layak ditingkatkan produksinya,” tutur Pangdam.

Sementara menurut Dandim 0707/Wonosobo, Letkol (Czi) Dwi Hariyono, tanaman kopi juga dapat dijadikan sebagai tanaman keras yang mampu mencegah timbulnya erosi tanah maupun longsor. Mengingat kondisi geografis Desa Pagerejo terdiri dari tebing dan bukit yang berada pada kaki gunung Sindoro.

“Asalkan para petani mau beralih bersabar menunggu masa panen kopi sejak penanaman, maka bisa diprediksi masyarakat akan dapat hidup sejahtera dari hasil kopi,” tandasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI