Lima Kunci Sukses Budidaya Udang Vanamei

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Udang vanamei merupakan komoditas ekspor yang banyak dibudidayakan petambak di wilayah pesisir selatan Provinsi Jawa Tengah. Tingginya harga jual dan cepatnya masa budidaya, membuat petambak tergiur dengan nilai ekonominya. Mereka meyakini dapat memperoleh keuntungan berlipat, bahkan modal bisa kembali hanya dalam satu siklus budidaya.

Namun, besarnya potensi keuntungan dari budidaya udang bernama latin Litopenaeus Vannamei itu kerap membuat petambak lupa. Mereka ditengarai kurang memperhatikan sejumlah faktor pendukung kesuksesan budidaya. “Faktor mendasar yang paling sering dilupakan petambak adalah soal daya dukung lahan,” ucap Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Sugeng Raharjo, kepada KRJOGJA.com, Selasa (15/12/2020).

Menurutnya, petambak kerap membudidayakan udang melebihi kapasitas tambak yang dibuat. Idealnya setiap meter persegi luas tambak, diisi maksimal seratus ekor benur.

Namun, tambak kerap diisi hingga 300 – 500 ekor benur. Budidaya dengan kepadatan tinggi, lanjutnya, menyebabkan udang rentan penyakit dan hasilnya tidak dapat maksimal.

Budidaya dengan kepadatan tinggi, lanjutnya, optimal dilakukan rata-rata untuk tiga siklus. “Budidaya tiga siklus masih oke, produksi tetap bagus. Tapi untuk siklus keempat dan seterusnya, pasti banyak masalah,” katanya.

Sugeng mencontohkan, pola budidaya yang memperhatikan daya dukung lahan antara lain dilakukan petambak di India. “Mereka tetap konsisten membudidayakan udang dengan kepadatan 70 – 80 ekor permeter persegi. Hasilnya memang luar biasa, selain penyakit bisa ditekan, bobot udang jadi maksimal,” ujarnya.

Faktor kedua setelah daya dukung lahan, kata Sugeng, adalah biosecurity. Petambak harus memperhatikan ancaman organisme yang bersifat predator atau menjadi inang bibit penyakit.

Upaya mengamankan tambak yakni dengan membuat pagar penghalang di tanggung tambak. “Agar binatang seperti kepiting tidak masuk tambak. Kepiting itu inang berbagai macam virus dan bakteri, yang bisa menulari udang budidaya,” ungkapnya.

Tandon air juga menjadi faktor penting budidaya udang vanamei. Air sungai maupun laut yang akan dijadikan media budidaya, seharusnya diolah sebelum masuk tambak.

Pengolahan dalam tandon dilakukan dengan pengendapan selama beberapa hari, atau ditaburi kaporit. “Tandon ini yang juga sering dilupakan, dalam bayangan petambak, air bisa langsung dimasukkan tambak dan ditaburi benih. Padahal bisa jadi terkandung polutan dan dan bibit penyakit dalam air yang diambil dari sungai atau laut itu,” paparnya.

Faktor sukses berikutnya adalah tambak memiliki sarana instalasi pengolahan limbah (IPAL). IPAL sederhana antara lain dengan membuat saluran zig-zag untuk mengendapkan limbah. Selain itu, keberadaan mangrove juga berguna untuk mengurangi polutan tambak.

Dikatakan, limbah tambak udang termasuk jenis yang sederhana karena tersusun atas berbagai material organik bahan pakan udang. “Sehingga pengolahannya pun sederhana, bahkan lumpur sisa endapan itu bisa menjadi pupuk. Kalau dikatakan ada petani protes tanaman mati, biasanya disebabkan air payau buangan tambak yang mengalir masuk sawah, sehingga memang seharusnya limbah tambak dialirkan ke sungai atau laut,” terangnya.

Petambak juga wajib melakukan pengecekan kondisi air setiap hari. Sasaran pengecekan adalah plankton, bakteri, dan kualitas air. Pemerintah menyiapkan sejumlah pos pelayanan terpadu untuk membantu petambak mengetahui kualitas air. “Untuk Jawa Tengah bagian selatan, kami ada pos di Yogyakarta. Silakan petambak berkoordinasi dengan petugas di sana,” katanya.

Sugeng menegaskan, lima faktor seperti memperhatikan daya dukung lahan, menyiapkan tandon air, memiliki sarana IPAL, mengecek kualitas air, dan menerapkan biosecurity, merupakan syarat mutlak agar budidaya sukses dan berlangsung panjang. Namun, Sugeng optimis dengan masa depan budidaya udang vanamei di wilayah Jateng selatan.

Pasalnya, daya dukung lingkungan lebih baik dibandingkan dengan wilayah pantai utara Jawa. Jarang terdapat industri dan aliran sungai di wilayah selatan, sehingga jumlah polutan juga lebih sedikit. Selain itu, perairan selatan juga lebih dalam sehingga air lautnya jernih.

“Keberhasilannya lebih bagus di selatan, tapi kondisi itu harus terus dijaga semua pihak, sehingga manfaat ekonomi budidaya udang vanamei itu bisa dinikmati untuk jangka panjang,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI