LPG 3 Kg Tidak Pernah ‘Langka’

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Distribusi LPG 3 kg di Jateng dan DIY, tidak pernah langka. Apalagi jumlah tabung LPG 3 kg yang beredar dilapangan sudah ada 37.936 tabung di Jateng dan 4.798 tabung di DIY. Kenyataan yang terjadi di lapangan, sering ada warga yang sebenarnya berhak mendapatkan, justru kesulitan. Hal itu ditenggarai akibat adanya penyelewengan dan pendistribusian yang tidak tepat sasaran.

"Yang kami temukan dilapangan, banyak warga yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan LPG 3 kg, justru mendapatkan. Dimana yang berhak menggunakan adalah rumah tangga miskin dan rentan miskin serta usaha mikro kecil. Dilapangan justru ada rumah makan, penginapan dan pengusaha menengah keatas lainnya yang menggunakan," kata Unit Manajer Community dan CSR MOR IV PT Pertamina, Andar Titi Lestari dalam FGD mekanisme distribusi LPG 3 Kg tepat sasaran di Hotel Grand Artos Magelang, Kamis (28/08/2019).

Disampaikan Andar, saat sidak ke sejumlah daerah, pihaknya menemukan  distribusi LPG 3 kg yang tidak tepat sasaran. "Saat sidak beberapa waktu lalu itu, kami menemukan 254 tabung LPG 3 kg yang tidak tepat sasaran. Kemudian ada 126 tabung LPG 5,5 kg  yang juga tidak tepat sasaran. Kami mendapatkan itu di beberapa rumah makan, penginapan dan pengusaha menengah keatas bukan mikro kecil," ungkapnya.

Sementara Ketua Hismawa Migas Kedu, Sutarto Murti Utomo menyampaikan, jika pendistribusian yang carut marut sekarang ini, akibat kesalahan saat program konversi minyak tanah ke gas beberapa tahun lalu. Dimana saat itu, banyak warga yang secara ekonomi mampu juga mendapatkan tabung LPG 3 kg dan kompor tersebut.

Akibatnya, saat ini banyak warga yang harusnya mendapatkan LPG 3 kg, justru kesulitan. "Inilah yang terjadi. Jadi sebenarnya tidak ada kelangkaan itu. Namun karena adanya distribusi yang tidak tepat sasaran dan penyelewengan dilapangan," imbuhnya.

Selain dua nara sumber tersebut, dalam FGD yang dilaksanakan Forum Wartawan Ekonomi Semarang (Warek) ini, juga menghadirkan Mukti Sarjono dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Tengah serta akademisi dari Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM), Nia Kurniaty. (Bag)

 

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI