Manfaatkan Limbah, Ade Budidaya Magot BSF

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Ade Krisnawan Sanjaya tidak lagi bingung membuang limbah organik dari warung makan dan rumah tangga. Warga Jalan Raya Kedu -Temanggung No 58 Desa Kedu Kecamatan Kedu Temanggung itu memanfaatkan untuk pakan maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dibudidaya.

Ia pun mendulang rupiah, selain dapat membantu permasalahan sampah organik yang menggunung di kabupaten tersebut. Sekitar 325 kg maggot BSF mampu mengurai sekitar 1 ton sampah organik hanya dalam kurun waktu 2-3 minggu.

Ditemui di rumahnya, Ade mengatakan pada masa Pandemi Covid-19, permintaan maggot BSF meningkat. Permintaan baik dari telur maupun maggot fress atau larva berusia sekitar 2 minggu. Harga terlur dijual Rp 5 ribu per gram dan maggot fress Rp 8 ribu per kilo gram.

” Permintaan dari peternak ikan dan peternak unggas. Maggot BSF kaya protein, yang cocok bagi ikan dan unggas, sehingga ternak cepat gemuk, selain sebagai pakan alternatif,” kata dia, Senin (14/12/2020).

Dikatakan dirinya kualahan untuk memenuhi pasar. Sejauh ini konsumen langsung datang ke rumah untuk membelinya. Mereka mengetahui dari konsumen yang sudah membeli. Promosi sejauh ini dari media sosial namun itu hanya pada telur.

Dia berkisah, budidaya maggot sebenarnya tidak sengaja. Saat pergi bermain ke rumah teman di Tegal, beberapa bulan lalu pulangnya disuruh membawa telur lalat BSF sekitar 10 gram. Dari telur menetas dan bersiklus menjadi lalat. Lokasi ternak di ruang tidak terpakai di lantai dua, di atas warung makan.

” Pakan bermula sayur limbah keluarga, kini menjadi limbah organik warung yang dikelola bersama istri, dan sejumlah warung tetangga,” kata dia.

Dikatakan dirinya baru dapat memenuhi pasar sekitar 60 kilogram maggot BSF untuk per tiga atau empat hari. Sedang telur lalat BSF sekitar 30 gram per tiga hari. Kedepan, karena budidaya tersebut prospektif maka akan ditingkatkan.

Pada masa Pandemi Covid-19, kata dia, warga banyak di rumah, karena desakan ekonomi dengan harus tetap ada penghasilan, atau jenuh, sebagian memanfaatkan pekarangan dan lahan yang ada untuk budidaya ikan, atau unggas. Tetapi pakan juga mahal sehingga mencari pakan alternatif yang diantaranya maggot BSF.

Dia menyampaikan secara prinsip tidak ada kendala dalam budidaya maggot BSF. Maggot BSF mudah pemeliharaanya, yang peting jauh dari predator alaminya, seperti semut, cicak dan tikus. Tantangannya adalah dalam penyediaan pakan, untuk maggot BSF. Pakan haruslah steril dari obat-obatan kimiawi pabrik.

” Pakan diambilkan dari warung makan, atau pasar, yakni limbah organik seperti daun-daun dan buah-buahan busuk. Lebih banyak yang dibudidaya, lebih banyak pula pakannya. Sehingga perlu jaringan untuk mendapatkan pakan. Sebisa mungkin gratis, akan percuma jika bayar, sebab budidaya maggot BSF adalah memanfaatkan limbah.

Ade mengatakan dalam budidaya maggot BSF, sebenarnya nyaris semuanya dapat dimanfaatkan atau dijual. Contohnya, rumah kepompong dan bangkai lalat untuk pakan ternak, dan kunyahan maggot BSF dijadikan pupuk. ” Di era Pandemi Covid-19 ini, harus dapat memanfaatkan lahan dan pekarang untuk budidaya yang menghasilkan rupiah,” kata dia. (Osy)

BERITA REKOMENDASI