Mata Dewa: 70 Persen Pemilik Tanah Setuju Pembebasan

Penetapan itu, katanya, memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada masyarakat yang menolak, namun muncul pula warga setuju tanahnya dibebaskan. “Kemudian ada pertanyaan, mengapa yang setuju baru muncul sekarang. Sebab kami berhati-hati, tidak gegabah karena ini masalah riskan dan banyak masyarakat yang belum memahami. Saat ini, kami dianggap makelar tanah, dianggap mencari keuntungan pribadi, tapi kami punya pertimbangan matang sebelum bersikap,” tegasnya.

Dikatakan, proyek strategis itu tidak akan berhenti hanya karena ada penolakan warga. Melihat fakta pembangunan proyek strategis di berbagai daerah, katanya, pekerjaan itu akan tetap diselesaikan pemerintah apapun konsekuensinya. “Maka mereka yang setuju rata-rata pemikirannya simpel, yakni melawan negara kami tidak mungkin kuat, yang penting pemilik lahan jangan dirugikan,” tuturnya.

Namun, Sabar mengaku masih ada sebagian pemilik lahan yang menolak rencana tambang itu. Mereka rata-rata khawatir kehilangan mata pencaharian setelah aset yang dimiliki dibebaskan negara.

Sabar mengaku pada awal penetapan lokasi Desa Wadas sebagai tambang batu, ia termasuk keras menolak. “Tapi di sisi lain ada sebagian yang setuju, maka kami bersipak untuk menolong mereka yang sudah mau. Kami menghimpun data tanpa ada paksaan, terkumpul hingga 300-an yang setuju, semua secara sukarela,” terangnya.

BERITA REKOMENDASI