Melihat Krandegan, Memaknai Jogo Tonggo

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Lepas magrib adalah waktu yang ditunggu Musa Al Fitri (31) warga RT 01 RW 05, Dusun Borangan, Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Wirid dan doa setelah salat wajib sudah tuntas ia baca.

Musa duduk bersimpuh di sajadah berbulu lembut berwarna merah di pengimaman Masjid Kembangkurung Dusun Borangan. Rumah ibadah itu mulai hening, hanya terdengar sedikit obrolan, pertanda para jemaah sudah menyelesaikan zikir mereka. Bahkan sebagian sudah pulang ke rumah masing-masing.

Musa mulai membuka mata pelan-pelan. Membuka mata setelah cukup lama terpejam, membuatnya merasa silau dengan sorot terang cahaya lampu di plafon pengimaman. Setelah bisa menyesuaikan diri, barulah Musa beranjak dari tempatnya bersimpuh.

Langkah kakinya diarahkan menuju beberapa jemaah seumuran siswa SD hingga remaja SMA yang menunggunya di dekat beranda masjid. Mereka bersila menghadap bangku kayu yang cukup panjang, kitab suci Al-Qur’an berjajar di atasnya. Musa dengan ramah menyapa dan langsung duduk sila di dekat pemuda Krandegan itu. Ustaz itu sudah siap mengajari para santrinya mengaji.

Tetapi ada pemandangan berbeda dalam aktivitas petang itu. Ada jarak di antara para pemuda dan guru ngaji mereka. Semuanya pun mengenakan masker.

Memang ada sedikit gangguan bernapas ketika mereka membacakan ayat suci Al-Qur’an di hadapan Ustaz Musa. Akan tetapi, sama sekali tidak mengurangi kekhusyukan para santri. Aktivitas mengaji selesai ketika azan salat isya berkumandang.

Penerapan protokol kesehatan di Krandegan dilaksanakan secara ketat sejak awal pandemi. Terlebih, beberapa warga desa itu adalah penyintas Covid-19. Musa Al Fitri adalah salah satunya. “Saya penyintas Covid-19, dulu dinyatakan positif dan tanpa gejala, sehingga cukup jalani isolasi di ruang PAUD desa,” tuturnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (06/11/2020).

Musa merupakan bagian dari Klaster Gowa, salah satu episentrum penyebaran Covid-19 yang cukup populer pada masa awal pandemi di Indonesia. Ia mengaku berangkat sampai ke Makassar, tapi tidak sempat mengikuti kegiatan karena pertemuan di Gowa itu dihentikan pemerintah setempat. “Namun, saya sempat transit di sebuah masjid di Makassar, bersama rombongan dari daerah lain,” katanya.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Purworejo, atau sekarang bernama Satgas Penanganan Covid-19, melakukan penelusuran dan pendataan para jemaah yang baru pulang dari Gowa. Musa masuk dalam data itu. Ia menjalani rapid test dan dinyatakan reaktif, sehingga ia harus menjalani uji swab.

Petugas GTPP mengimbau Musa untuk melakukan isolasi mandiri hingga hasil uji swab keluar. “Saya sempat berpikir untuk dirawat di rumah sakit saja kalau hasilnya positif. Tapi rencana itu diurungkan karena ternyata ada juga yang terpapar virus di rumah sakit,” ungkapnya.

Musa pun memikirkan cara mencukupi kebutuhan keluarga apabila dinyatakan positif terkonfirmasi dan harus jalani isolasi. Isolasi, katanya, adalah momok bagi pasien Covid-19 karena mereka harus menghentikan interaksi dengan orang lain. Namun, Musa tenang setelah melihat langkah-langkah Pemerintah Desa (Pemdes) Krandegan dalam ‘ngopeni’ warga yang terdampak Covid-19.

Pemdes telah mempersiapkan segala hal guna mencukupi kebutuhan warga terdampak. “Sejak diminta melakukan karantina mandiri, kebutuhan untuk keluarga kami dicukupi oleh pemdes. Kala itu, pemdes memang sudah ada program Kampung Tangguh Covid-19 dan salah satu unggulannya adalah Meja Antilapar. Bahkan, makanan diantar petugas ke rumah, kami merasa sungguh ‘kopen’,” terangnya.

Program desa itu menenangkan keluarga Musa, sehingga pria itu memutuskan untuk isolasi mandiri dengan difasilitasi pemdes. “Akhirnya benar saja, meski sudah bersiap-siap, saya kaget ketika gugus tugas memberitahu hasilnya positif Covid-19. Ya sudah, saya jalani saja isolasi di ruang PAUD kompleks kantor desa, terhitung mulai 16 Mei 2020,” paparnya.

Kendati diisolasi, Musa tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga dengan sarana media sosial. Lewat komunikasi itu, Musa mengetahui jika kebutuhan keluarga di rumah sudah dicukupi oleh pemerintah desa.

Musa menjalani ramadan hingga merayakan Idulfitri di dalam ruang isolasi dengan hati tenang. “Saya tenang saja, tawakal dan serahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Alhamdulillah saat lebaran, pemdes juga memfasilitasi silaturahmi terbatas dengan protokol kesehatan, antara saya dan keluarga,” ucapnya.

Sikap pasrah dan berpikir positif, memperkuat imun Musa Al Fitri. Tubuhnya mampu melawan virus impor dari Negeri Tirai Bambu itu. Musa menjalani swab kedua dan dinyatakan sembuh dari Covid-19 pada 30 Mei 2020.

Musa belajar banyak hal dari proses yang dilaluinya sejak dinyatakan sakit hingga menyelesaikan isolasi. “Jadi kalau sakit, kunci kesembuhannya adalah pikiran kita harus selalu segar, tenang, berserah diri kepada Tuhan, jangan sekali-kali berprasangka buruk. Tentu tetap diimbangi asupan gizi dan istirahat cukup,” tegasnya.

Ustaz yang dikenal sebagai hafiz Al-Qur’an itu menjalani hari-hari setelah sembuh tanpa ada diskriminasi dari lingkungan. Masyarakat sudah paham dengan pandemi dan tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah penularan. Pemdes secara rutin melakukan sosialisasi tentang pandemi sejak Maret 2020. “Saya ingat, nomor Whatsapp (WA) saya masuk dalam grup warga dan setiap hari grup itu mendapat kiriman poster Covid-19. Kami juga diminta ikut memasang poster itu jadi status WA. Benar saja, sosialisasi terus menerus mengubah pandangan masyarakat, dan saya merasakan hasilnya, yakni tidak adanya diskriminasi pascasembuh dari Covid-19,” paparnya.

Musa dan keluarganya kini kembali beraktivitas seperti biasanya. Musa kembali mengajar para calon hafiz di SD Muhammadiyah Desa Jono, menjadi guru mengaji di masjid dusunnya, dan juga menjadi imam di sejumlah masjid. “Hanya yang membedakan adalah penerapan protokol kesehatan. Kami wajib menggunakan masker, sering mencuci tangan pakai sabun, menghindari kerumunan, dan selalu menjaga fisik,” ucapnya.

Musa Al Fitri bukan satu-satunya penyintas Covid-19 di Desa Krandegan. Total lima warga desa itu terkonfirmasi positif dan menjalani isolasi mandiri di sarana yang disediakan desa atau di rumah masing-masing.

Satgas Covid-19 yang dibentuk memainkan peran dalam membantu mereka yang terdampak langsung penyakit itu. “Misalnya ada satu pasien yang memiliki ternak sapi dan sawah. Anggota satgas secara sukarela membantu memberi pakan sapi dan merawat sawah selama warga itu diisolasi,” kata Kepala Desa Krandegan, Dwinanto.

Lima penyintas itu adalah bagian dari ratusan warga terdampak pandemi di Krandegan, yang merasakan manfaat program penanganan Covid-19 dari pemdes. Pemdes Krandegan memiliki strategi besar bagaimana dapat menjalankan kegiatan yang didominasi program jaring pengaman ekonomi, tanpa menggunakan dana pemerintah sepeser pun. “Konsepnya adalah kemandirian,” jawab Dwinanto.

Konsep tersebut mulai digagas desa sejak awal pandemi di Indonesia. Dwinanto memiliki pandangan bahwa Covid-19 akan berdampak luas, tidak hanya menimbulkan persoalan kesehatan, melainkan juga masalah ekonomi dan sosial. Namun, ada banyak keterbatasan apabila menggunakan alokasi dari pemerintah, seperti dana desa.

Dwinanto membayangkan harmoni kehidupan di desa apabila mereka yang mampu mau berbagi dengan warga kurang mampu. Pihak pemdes melihat pemetaan penduduk dan disimpulkan ada 25 persen warga termasuk keluarga kurang mampu, sedangkan 75 persen kategori mampu. “Maka, konsep ‘telu nulung siji’ kami terapkan. Berminggu-minggu melaksanakan sosialisasi termasuk membentuk kelembagaan yang kami sebut Satgas Covid-19, akhirnya kami bertekad menerapkannya mulai 8 Mei 2020,” tuturnya.

Lurah Krandegan meyakini, konsep ‘telu nulung siji’ atau tiga keluarga mampu membantu satu keluarga kurang mampu, adalah solusi di tengah pandemi. Pelaksanaan program bakal fleksibel dan tanpa ganjalan regulasi lantaran pelaksanaanya tidak menggunakan anggaran negara. Konsep itu terus dimatangkan ketika desa membentuk Satgas Jogo Tonggo pada 15 Mei 2020.

Dalam ‘telu nulung siji’, warga mampu yang memiliki sawah diajak bersedekah dan membayarkan zakatnya dalam bentuk gabah. Khusus zakat, ada perhitungan yang detail untuk menentukan besarannya. Program juga dijalankan secara transparan, antara lain dengan melaporkan setoran sedekah dan zakat, serta penggunaannya kepada masyarakat.

Pemerintah desa menyampaikan aneka laporan, dan juga banner sosialisasi Covid-19 dan program-program desa lewat grup WA warga. Warga pun diajak melakukan sedekah status, yakni memasang setiap materi sosialisasi yang disampaikan desa dalam grup, menjadi status WA mereka.

Pola sedekah status itu menjadikan tidak ada satu pun warga yang luput dari pesan pemdes. Akhirnya tumbuh kepercayaan dari masyarakat terhadap program-program penanganan pandemi yang digagas desa.

Kepercayaan itulah yang menumbuhkan rasa empati masyarakat, sehingga mau secara sukarela membayarkan sedekah dan zakat. “Butuh waktu lama sehingga program kami sampai ke titik sekarang ini. Pemdes memanfaatkan media sosial untuk sosialisasi poster digital tentang penanganan ekonomi terdampak pandemi dan poster soal manfaat sedekah serta zakat,” katanya.

Dwinanto menjelaskan, penggalangan sedekah dan zakat dilaksanakan setiap musim tanam. Petani pemilik sawah mendata hasil panen selama satu musim, kemudian diperhitungkan nilai zakat dengan nisab 720 kilogram. Jika petani sudah mencapai nisab tersebut, mereka berkewajiban membayarkan zakat sebesar sepuluh persen dari hasil panen. “Beda sedekah yang lebih fleksibel lagi, karena dibayarkan semampunya dan seikhlasnya,” ucapnya.

Satgas pun tidak asal menghimpun gabah, tetapi juga memberi pelayanan kepada petani lewat program irigasi gratis selama musim kemarau. Petani tidak lagi kebingungan mencari air untuk mengairi tanaman padi. Timbal balik itu membuat petani merasa terbantu, tidak hanya memperlancar proses budidaya, namun juga meningkatkan hasil produksi gabah.

Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap program sedekah dan zakat itu, selalu dijaga satgas dan pemdes. Dwinanto menegaskan, pengelolaan program dilakukan secara transparan. Pemanfaatan sedekah dan zakat pun dilakukan secara terpisah. “Untuk zakat hanya khusus disalurkan sesuai syariat Islam, tidak bisa sembarangan dan harus diberikan kepada mustahik atau mereka yang berhak menerima. Adapun untuk sedekah, lebih fleksibel, termasuk untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat,” terangnya.

Program ‘telu nulung siji’ pun berjalan, dan Ramadan 1441 H menjadi ujian pertamanya. Satgas Jogo Tonggo membuat program Meja Antilapar, Pasar Bergerak, Bantuan Cair Langsung (BCL), dan Baju Lebaran untuk Si Kecil.

Meja Antilapar menyediakan makanan berbuka puasa gratis untuk siapa pun yang membutuhkan. Posko siaga mengadakan paket sembako murah yang dijual dari rumah ke rumah lewat program Pasar Bergerak.

Desa juga menyalurkan BCL, berwujud uang Rp 300 ribu untuk keluarga terdampak pandemi namun belum terjangkau PKH, BPNT, atau BLT dari pemerintah pusat. “Menjelang lebaran, ada program baju untuk si kecil. Keluarga kurang mampu kerap kesulitan membelikan baju lebaran untuk anak mereka, maka dibelikan oleh desa,” katanya.

Sebagian gabah hasil sedekah digiling menjadi beras dan dimasak untuk program Meja Antilapar. Sebagian lainnya diuangkan untuk program BCL, Baju Lebaran untuk Si Kecil, dan Pasar Bergerak. Rangkaian program mempertahankan ekonomi masyarakat di tengah pandemi itu berjalan sukses.

Hasil pemanfaatan sedekah dan zakat itu dilaporkan secara utuh kepada warga lewat grup WA, sehingga mereka paham bahwa sebagian hasil panen yang disetorkan kepada satgas, dimanfaatkan dengan benar. Pelaporan, tambah Dwinanto, juga memuat nama-nama para dermawan.

Nama para pembayar sedekah dan zakat, berikut jumlah yang dibayarkan, juga ditulis secara jelas. Dwinanto tidak membolehkan dermawan mengatasnamakan ‘hamba Allah’. “Tujuannya semata-mata demi transparansi, misalnya jika ada yang sudah membayar tapi tidak tercantum, pasti akan ketahuan. Tapi jika ada yang tidak mau namanya ditulis terang, kami gunakan nama samaran, tapi tetap jelas dan si pembayar juga tahu,” paparnya.

Program sosial tidak lantas berhenti selepas lebaran. Program BCL tetap dilanjutkan dengan penyaluran sebulan sekali, sedangkan Baju Lebaran untuk Si Kecil dihentikan. Pemdes juga memodifikasi Meja Antilapar dengan mendirikan dapur umum, sedangkan Pasar Bergerak diganti pasar online.

Program dapur umum dan BCL tetap diadakan karena masih ada warga kurang mampu yang membutuhkan uluran bantuan dari desa. “Setiap hari, perempuan Desa Krandegan memasak puluhan porsi dengan menu nasi lengkap dengan sayur dan lauk, untuk dibagikan kepada warga. Adapun untuk BCL, nilainya kami sesuaikan dengan sedekah, infak, dan zakat yang dihimpun,” tambahnya.

Kegiatan menghimpun sedekah dan zakat gabah diteruskan. Bahkan untuk musim panen kedua tahun 2020, berhasil dihimpun lima ton gabah dari 117 petani. Jumlah yang sangat besar dan dipastikan cukup untuk kebutuhan program sosial hingga musim panen berikutnya.

Langkah itu diambil karena pihak pemdes mulai memikirkan program pemberdayaan masyarakat yang memiliki manfaat jangka panjang. “Program-program pada masa awal pandemi lebih bersifat darurat, karena ketika itu ada pembatasan secara nasional yang berdampak para perekonomian warga. Kini situasi berubah dan kami ingin meningkatkan kesejahteraan lewat pemberdayaan,” katanya.

Ekspansi program Jogo Tonggo menjadi jalan meningkatkan kesejahteraan karena Dwinanto meyakini adanya ceruk ekonomi yang tetap dapat bertahan, bahkan berkembang baik di tengah pandemi. Untuk memudahkan pelaksanaan program pemberdayaan, pemdes mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Muda.

Pemdes dan BUMDes mengawali ekspansi dengan membuat pemetaan potensi yang dimiliki Desa Krandegan. Analisis dan kajian tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan, dilakukan ketika mulai menentukan bisnis apa yang akan dibentuk.

Hingga pada kesimpulan bahwa Desa Krandegan memiliki 52 pelaku UMKM yang memproduksi atau memasarkan 300 produk. Mereka dinilai sebagai potensi yang bisa diangkat dengan jalan dibantu cara meningkatkan kualitas produk dan strategi pemasarannya.

BUMDes juga menyimpulkan jika peningkatan kesejahteraan akan lebih mudah didorong dengan pemanfaatan teknologi informasi yang kini berkembang pesat. “Maka BUMDes mendirikan toko online, dengan konsep awal benar-benar menjadikan toko itu etalase, dengan tim admin dari BUMDes,” terang Dwinanto.

Toko itu kini dimodifikasi dengan mengadopsi sistem marketplace, dengan nama Tokodesaku. Sistem marketplace memungkinkan pelaku UMKM mengelola konten yang disediakan aplikator. “Kapan pun, pelaku UMKM bisa membuat sendiri konten promosinya tanpa tergantung pada admin,” katanya.

Bahkan, toko online itu dijadikan aplikasi berbasis Android dan bisa diunduh lewat aplikasi Google Play Store. Pada tahap awal, Tokodesaku hanya diperuntukkan bagi pelaku UMKM di Krandegan. Namun, BUMDes kini mulai menjangkau pelaku bisnis kecil dari luar desa.

Toko daring itu, lanjut Dwinanto, cukup efektif mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia mencontohkan seorang perajin geblek rumahan yang selama ini hanya menerima pesanan tetangga, kini bisa memasarkan produknya hingga ke luar Purworejo.

Sektor bisnis lain yang coba dirambah adalah angkutan daring, dengan merilis aplikasi bernama Ngojol. Angkutan daring menjadi pilihan karena warga selama ini kesulitan mengakses sistem yang disediakan aplikator besar seperti Gojek dan Grab. Angkutan online hanya menjangkau wilayah perkotaan dan tidak ada pengemudi yang ‘pick up’ penumpang atau pesanan barang di Krandegan. “Kalau mengantar bisa, tapi mengambil tidak bisa. Daripada kesulitan, kami buat sendiri aplikasinya,” ungkapnya.

Aplikasi itu disambut baik oleh masyarakat karena BUMDes melibatkan warga Krandegan sebagai mitra kerja. Sedikitnya seratus warga terdaftar sebagai pengemudi ojek motor maupun mobil.

Bahkan, warga luar desa mulai meminta izin untuk ikut bergabung sebagai mitra. Namun, untuk tahap awal, katanya, manajemen aplikator hanya mengizinkan warga Krandegan sebagai mitra.

Ngojol mulai banyak dimanfaatkan masyarakat desa yang memiliki keperluan ke berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo, dengan tarif Rp 2.000 per kilometer. Ratusan warga Krandegan dan sekitarnya pun telah mengunduh serta memasang aplikasi Ngojol di ponsel mereka. “Ketika dioperasikan, jangkauan efektif antara pengemudi dan konsumen maksimal dua kilometer, meski tidak begitu jauh tapi jarak itu cukup efektif. Soal aplikasi Ngojol ini, kami berharap pemerintah membantu perizinannya,” ujarnya.

Berikutnya adalah upaya pemdes merintis Sistem Pelayanan Online Desa Krandegan (Sipolgan). Sipolgan adalah aplikasi pelayanan masyarakat berbasis teknologi Android. Program ini memiliki fitur-fitur antara lain kanal surat-menyurat, portal berita desa, pengumuman, profil desa, kontak perangkat desa, keuangan, dan tombol laporan darurat.

Bahkan aplikasi juga memiliki fitur cek penerima bantuan. Pengguna aplikasi dapat mengecek nama warga yang terdaftar sebagai penerima berbagai jenis bantuan dari pemerintah. “Fitur itu dibuat sebagai bukti tranparansi desa. Semua informasi dibuka kepada masyarakat, sehingga mereka tahu bagaimana pemerintahan desa bekerja,” terangnya.

Menurut Dwinanto, warga tidak perlu datang ke kantor desa untuk mengurus surat menyurat. Semua layanan administrasi dapat diakses menggunakan aplikasi tersebut. Warga tinggal memasukkan nama dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) ke dalam setiap fitur yang akan digunakan. “Misalnya perlu membuat surat pengantar, mereka tinggal mengikuti perintah dalam aplikasi, maka surat langsung jadi dan tinggal dicetak,” ungkapnya.

Aplikasi juga menyediakan kanal bagi warga yang ingin berkomunikasi langsung dengan perangkat desa. Warga tinggal masuk ke fitur lapor perangkat desa, akses komunikasi WA para perangkat Desa Krandegan sudah tersedia.

Aplikasi Sipolgan, katanya, akan menjadi salah satu ikon teknologi dan cabang usaha BUMDes Karya Muda. Aplikasi itu juga dijual kepada desa-desa lain di Kabupaten Purworejo. “Sedikitnya ada 22 desa yang sudah membeli aplikasi sistem pelayanan online dari BUMDes Krandegan. Untuk fiturnya disesuaikan dengan keinginan pemerintah desa setempat,” tuturnya.

Dwinanto menegaskan, proses pemberdayaan yang sedang dijalankan di Desa Krandegan adalah pengejawantahan dari konsep Jogo Tonggo. Jogo Tonggo bukanlah sekadar soal bagaimana menjaga kesehatan warga, mencukupi kebutuhan pangan, atau gotong royong warga menjaga keamanan di tengah panemi.

Lebih luas lagi, Jogo Tonggo tak sekadar mengurusi sektor pangan, kesehatan dan keamanan, tapi juga sektor ekonomi serta inovasi. Selain berhasil menekan penyebaran Covid-19, kata Dwinanto, Jogo Tonggo harus bisa menjadi jalan menuju masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. “Meski belum seratus persen berhasil, tapi kami membuktikan bahwa konsep Jogo Tonggo dapat melahirkan kesejahteraan. Tentu untuk mencapai tujuan itu, butuh konsistensi dan kekompakan seluruh elemen masyarakat,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI