Membangun Literasi Digital, Strategi Krandegan Wujudkan Kesejahteraan

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Raut kesedihan masih jelas menggurat pada wajah Supriyani. Pikirannya menerawang, mengingat hari ini, Kamis (19/08/2021), tepat sebulan dari kematian suaminya, almarhum Purwanto. Perempuan 37 tahun warga RT 02 RW 06, Dusun Teges, Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo itu goyah.

Hatinya gundah memikirkan masa depan kedua anaknya, Jinan Fatiya (10) dan Dai Rizal (9). Tidak ada lagi suami yang menguatkan semangatnya untuk terus berjuang menjadi tulang punggung keluarga.

Selama setahun terakhir perempuan itu menjadi tumpuan ekonomi keluarga, tepatnya setelah Purwanto jatuh sakit. Supriyani yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga, banting setir menjadi pengusaha kecil-kecilan. Ia manfaatkan keahliannya membuat binggel atau geblek, makanan tradisional Kabupaten Purworejo yang terbuat dari tepung ketela. Jajanan itu dipasarkan secara daring dengan memanfaatkan media sosial. Penghasilan menjual makanan tradisional itu memang tidak besar, tapi cukup membantu perekonomian keluarga.

Dalam keterbatasannya karena akibat penyakit kronis yang ia derita, Purwanto terus memotivasi Supriyani. Hingga Covid-19 yang tak pernah pandang bulu dalam memilih siapa yang diinfeksi, merenggut jiwa Purwanto, tepat sebulan lalu.

Kini setelah kepergian Purwanto, Supriyani tinggal sendirian menyusun batu demi batu, demi membangun bisnisnya. Meskipun hanya dari binggel, Supriyani optimis usahanya itu bakal membawa keluarga kecilnya lebih sejahtera. “Sejak awal menjalankan usaha ini, saya sudah memanfaatkan teknologi digital yang ada di ponsel saya. Saya diajari suami untuk memasarkan produk secara daring,” katanya kepada KRJOGJA.com.

Kemajuan teknologi informasi yang dimanfaatkan dengan baik telah mendukung pemasaran binggel yang dibuat oleh Supriyani. Barangkali tanpa pemahaman yang baik tentang teknologi informasi dan digitalisasi di banyak sektor, nasib keluarga almarhum Purwanto itu tidak semujur sekarang. “Saya sekarang memang masih terpukul atas kematian suami, namun ke depan saya berharap kehidupan saya dan anak-anak bisa lebih sejahtera,” tegasnya.

Pemanfaatan ruang digital sudah menjadi bagian dari upaya warga Desa Krandegan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Terlebih setelah berbagai kebijakan digitalisasi berbagai sektor pelayanan dan ekonomi dicanangkan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Krandegan. Masyarakat pun tergerak untuk ikut menyesuaikan diri.

Cerita Supriyani menjadi salah satu kisah di mana teknologi bisa dimanfaatkan dengan baik, meskipun tentu masih ada keterbatasannya. “Saya belum bisa membuat lapak di toko online yang skalanya besar seperti pengusaha yang lain. Tapi bagi saya hasil menggunakan aplikasi media sosial untuk menjual produk sudah sangat lumayan,” katanya.

Pemasaran binggel buatan Supriyani sepenuhnya dilakukan secara daring. Ia memasang status dan membagikan foto serta narasi produk dalam aplikasi percakapan WhatsApp.

Pemasaran semakin lancar ketika pemdes meluncurkan aplikasi toko online desa bernama Tokodesaku. “Dulu, sebelum suami berpulang, dalam satu bulan rata-rata saya mampu menjual hingga tiga puluh kilogram binggel. Konsumen saya bahkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia,” terangnya.

Dalam penjualan online, harga yang dipatok Supriyani adalah Rp10.000 untuk satu kemasan mika plastik, Rp30.000 ribu per besek kecil, dan Rp35.000 ribu besek besar.

Selain itu, sistem pemasaran digital juga memudahkan perempuan itu dalam mengirimkan barang. “Semua sudah terkoordinasikan dengan baik, lewat perangkat seluler. Jadi jika ada pesanan, saya tidak perlu repot mengantar. Saya tinggal menunggu kurir untuk mengambil barang di rumah,” tuturnya.

Kisah lain diceritakan Wahyudin Nur Abadi, perajin busur panah di RT 01 RW 03, Dusun Bojong Kulon, Krandegan. Pria itu benar-benar telah menikmati manisnya buah digitalisasi. Produk buatannya laris manis dijual sejumlah reseller secara daring.

Ditemui di bengkel panah belakang rumahnya, Wahyudin mengatakan, jika sekarang fokus menekuni produksi. Ia tidak lagi mengurusi soal pemasaran. “Untuk sekarang sepenuhnya biar tim pemasar daring yang bergerak sendiri, saya fokus produksi saja untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ungkapnya.

Pemasaran digital menjadi tumpuan utama bagi usaha Wahyudin. Bayangkan, dalam satu bulan sedikitnya seratus set busur dan anak panah laku terjual lewat sejumlah toko daring yang bekerja sama dengannya.

Sejumlah pemuda desa juga kini mulai ikut memasarkan busur panah yang digunakan untuk olahraga profesional itu secara daring. Wahyudin mengatakan, semakin banyaknya orang yang memasarkan, nantinya akan meningkatkan produksi.

Kondisi itu yang kini sedang disiasati Wahyudin bekerja sama dengan Pemdes Krandegan. Pemdes dibantu akademisi Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, kata Wahyudin, sedang membangun fasilitas edukasi panahan pada lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi di Dusun Bojongkulon.

Infrastruktur tersebut tidak hanya menjadi destinasi wisata saja, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi calon karyawan industri kecil busur panah di Krandegan. “Kelak, produksi akan dimaksimalkan sehingga mampu memenuhi setiap permintaan pasar. Andaikan tidak ada revolusi pemasaran digital, keinginan untuk membesarkan kerajinan ini menjadi industri yang lebih besar barangkali cuma jadi angan-angan belaka,” terangnya.

Digitalisasi memang bukan hal yang baru bagi masyarakat Krandegan. Masyarakat sudah paham betul bahwa digitalisasi adalah keniscayaan, sesuatu yang kini mereka hadapi dan bakal menjadi tulang punggung berbagai aktivitas di masa depan.

Literasi digital masyarakat Krandegan tidak terbentuk begitu saja. Butuh proses panjang untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya sektor teknologi informasi tersebut.

Sekira setahun lalu, soal digitalisasi itu masihlah sesuatu yang abu-abu bagi sebagian masyarakat Desa Krandegan. Padahal jaringan internet sudah masuk dan cukup merata di desa tersebut.

Pemdes memasang jaringan internet gratis untuk masyarakat sejak tahun 2015. Kabel fiber optik sepanjang dua belas kilometer dipasang untuk menyambungkan pusat server di kantor desa dengan pemancar. Namun, pemanfaatan internet kala itu baru sebatas untuk aktivitas di media sosial atau permainan daring. Masih sedikit warga yang memanfaatkannya untuk kegiatan produktif dan kreatif.

Pengelola sistem IT Desa Krandegan Abdurrohman Allabiq mengatakan, perjalanan digitalisasi di desanya diawali dari kebijakan pemdes pada awal tahun 2020. Pemdes mulai membuat terobosan pelayanan publik secara digital. Penyebaran informasi dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi media sosial.

Namun ternyata sebagian masyarakat kesulitan menggunakannya. “Saat itu masih banyak yang belum paham penggunaan aplikasi. Jadi, meski dibuatkan programnya, masih banyak warga yang menyelesaikan berbagai urusan administrasi secara manual,” tuturnya.

Sosialisasi terus dilakukan pemdes. Ketika pandemi tiba-tiba terjadi, masyarakat pun terkondisikan untuk lebih dekat dengan digitalisasi untuk mempermudah berbagai aktivitas kehidupan. “Situasi sekarang sudah jauh berbeda, masyarakat sudah banyak yang mengakses aplikasi layanan publik desa. Mulai banyak juga yang memanfaatkan internet untuk aktivitas ekonomi,” ucapnya.

Kepala Desa Krandegan Dwinanto membenarkan bahwa literasi digital masyarakat Krandegan dari waktu ke waktu semakin mapan. Pemahaman dan kecakapan dalam memanfaatkan media digital di desanya dibangun lewat proses yang panjang dan konsisten.

Meratanya internet di desa dengan pemasangan pemancar hingga mencapai dua belas titik, tampaknya tidak serta merta mengubah masyarakat menjadi berbudaya digital. Dwinanto membuat terobosan dengan membentuk grup WhatsApp khusus untuk warga, perangkat desa, pemuda karang taruna, dan warga Krandegan di perantauan.

Pemdes membagikan berbagai informasi perkembangan desa lewat grup percakapan itu setiap hari. “Pelan-pelan kita beri pemahaman kepada masyarakat bahwa komunikasi digital itu sama pentingnya dengan bercakap secara langsung. Setelah mereka paham bahwa piranti digital tidak sekadar sarana bermain semata, kami mulai kenalkan berbagai aplikasi,” tuturnya.

Proses itu dimulai sejak tahun 2020, ketika pandemi mulai merambah Indonesia. Dwinanto memiliki pemikiran bahwa dunia digital akan menjadi tumpuan utama kehidupan masyarakat karena pandemi dipastikan akan membatasi berbagai aktivitas mereka.

Era disrupsi teknologi yang dimulai sekitar sepuluh tahun terakhir diyakini akan semakin merambah ke berbagai sisi kehidupan. Dwinanto mengajak masyarakat untuk semakin ramah dengan perkembangan teknologi informasi.

Konsep pemikiran itu, kata Dwinanto, juga sejalan dengan visi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, yakni membangun literasi digital masyarakat Indonesia. “Pemerintah kabupaten menerjemahkan kebijakan pusat dengan adanya berbagai aplikasi digital untuk pelayanan publik. Kami pun mencoba menerjemahkan visi itu dengan membuat sistem serupa yang lebih eksklusif, sekaligus inklusif,” terangnya.

Eksklusif yang dimaksud Dwinanto adalah aplikasi layanan itu hanya digunakan masyarakat Krandegan saja. “Sementara itu aplikasi inklusif di sini adalah aplikasi yang kami buat untuk dapat dimanfaatkan warga desa lain. Untuk membuat aplikasi itu, kami melibatkan Bumdesa Karya Muda Desa Krandegan,” paparnya.

Aplikasi yang pertama dibuat adalah Sistem Pelayanan Online Desa Krandegan (Sipolgan). Aplikasi itu memuat kanal untuk membuat surat administrasi, profil desa, portal desa, panggilan darurat, pengumuman, lokasi penting, laporan warga, laporan keuangan desa, hingga belanja daring.

Masyarakat tidak perlu lagi datang ke kantor desa untuk mengurus administrasi kependudukan. Prosesnya selesai cukup lewat sentuhan jari. Pemdes juga secara terbuka melaporkan berbagai kegiatannya dalam kanal laporan keuangan pada aplikasi Sipolgan.

Pemdes mendaftarkan aplikasi tersebut ke Google Playstore, sehingga masyarakat bisa mengunduhnya secara gratis. Aplikasi tersebut pun telah diunduh sedikitnya oleh lima ratus warga. “Pada saat awal pandemi dan pemberlakuan pembatasan, banyak sekali yang memanfaatkan aplikasi tersebut. Meski pun masih ada juga yang datang untuk mengurus secara manual,” ucapnya.

Mereka yang masih datang ke kantor desa, lanjutnya, tetap mendapat pelayanan, namun diminta mengunduh dan memasang aplikasi pada perangkat selulernya. “Baru sekitar lima puluh persen warga yang mengakses Sipolgan secara rutin. Warga yang belum menggunakan aplikasi tersebut sebagian besar adalah para lanjut usia yang kesulitan menggunakannya,” paparnya.

Pemdes terus melakukan sosialisasi dengan mengajak generasi muda menjadi ujung tombak penggunaan aplikasi itu. Dwinanto berharap mereka bisa mengajari lingkungan agar menjadi lebih melek digital.

Selain Sipolgan, Pemdes Krandegan juga membuat aplikasi toko digital Tokodesaku. Tokodesaku menjadi lapak jualan seluruh produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dihasilkan masyarakat Desa Krandegan. “Tokodesaku menjadi muara dari upaya kami meningkatkan literasi digital para pelaku UMKM di Krandegan,” ucapnya.

Bersamaan dengan peluncuran Tokodesaku pada Agustus 2020, pemdes menggelar sosialisasi pemasaran digital bagi para pelaku UMKM. Mereka diajari cara memiliki akun usaha, berjualan secara daring, membuat alamat surat elektronik, foto produk, menulis narasi, pengemasan, dan trik agar produk mereka dapat cepat dikenal publik.

Pelaku UMKM dari berbagai kelompok usia secara aktif mengikuti pelatihan tersebut dan mulai menerapkan strategi pemasaran daring dalam menjalankan usaha. Tapi lagi-lagi bukan tanpa kendala. Pelaku UMKM dari kalangan perempuan dan berumur paruh baya, masih saja kesulitan menerapkan pemasaran daring. “Pelan-pelan, terpenting mereka memahami dulu potensi pemasaran digital dan mau menerapkan. Soal teknis, kami sosialisasikan setahap demi setahap,” katanya.

Sekarang ini, aplikasi Tokodesaku sekarang ini digunakan sekitar enam puluh pelaku UMKM Krandegan untuk memasarkan produk mereka. “Memang kalau dihitung, belum semua UMKM memanfaatkan layanan Tokodesaku, tapi bukan karena mereka tidak mau, melainkan para pelaku ini terbatas kemampuannya dan tidak punya tenaga untuk membantu pemasaran digital,” ucapnya.

Tokodesaku menghubungkan langsung antara UMKM dengan konsumennya. Selain menggunakan sistem jasa pengiriman paket, konsumen dan pelaku UMKM melalui kurir lokal dapat bertemu langsung guna melakukan transaksi.

Pemdes Krandegan juga membuat terobosan dengan merilis aplikasi transportasi daring yang diberi nama Ngojek Online (Ngojol). Ngojol dioperasikan layaknya aplikasi serupa berskala raksasa semacam Gojek dan Grab. Aplikasi itu bersifat inklusif karena tidak hanya dipakai warga Desa Krandegan.

Jumlah unduhan aplikasi untuk kategori masyarakat pengguna atau user, mencapai di atas seribu. Sementara aplikasi untuk pengemudi atau driver, diunduh lebih dari dua ribu perangkat seluler. Adapun pengemudi Ngojol motor dan mobil terdata empat ratus kendaraan.

Aplikasi Ngojol menerapkan tarif Rp2.000 per kilometer untuk sepeda motor dan Rp4.000 per kilometer untuk ojek mobil. “Sebaran pengemudi sudah ada di hampir seluruh Kabupaten Purworejo,” katanya.

Biaya yang dikenakan tersebut, lanjut Dwinanto, untuk sementara seluruhnya menjadi hak pengemudi. Bumdesa Karya Muda Krandegan sebagai aplikator belum memungut sepeser pun dari setiap transaksi karena aplikasi itu masih terus dikembangkan.

Kendati demikan, Dwinanto mengaku ada kendala biaya dalam pengembangan aplikasi tersebut. Biaya yang secara kontinyu muncul bersumber dari beban langganan Google Map. “Google Map sebenarnya gratis, tapi dalam batas penggunaan tertentu ternyata ada biayanya. Padahal tentunya pengemudi selalu memasang peta dalam kondisi aktif,” ujarnya.

Teknologi informasi juga diaplikaskan untuk kesiapsiagaan bencana di desa tersebut. Pemdes bekerja sama dengan Pusat Studi Bencana LPPM UNS memasang alat Early Warning System (EWS) banjir di Sungai Dulang dan Sungai Jali.

Ide penggunaan aplikasi digital itu mengemuka karena Krandegan merupakan desa langganan banjir. Sebelum ada EWS, pantauan banjir dilakukan secara visual dengan mengerahkan warga ke hulu Sungai Jali dan Dulang. Apabila ada kenaikan muka air secara drastis, pemerintah desa dikabari untuk segera melakukan langkah antisipasi.

Teknologi EWS yang dipasang meliputi sensor banjir bertenaga surya dan server. “Jika ada kenaikan volume air yang melebihi ambang batas aman, alat akan mengirimkan peringatan kepada perangkat seluler kami,” tuturnya.

Peringatan tersebut tidak hanya diteruskan untuk warga Krandegan, tetapi juga disampaikan kepada beberapa desa tetangga yang lokasinya lebih rendah. “EWS tentu sangat bermanfaat tidak hanya bagi warga kami, tapi juga beberapa desa tetangga,” ucapnya.

Program digitalisasi yang dikerjakan Pemdes Krandegan dan masyarakatnya dua tahun terakhir memang begitu terstruktur. Namun, Dwinanto mengakui masih adanya tantangan besar dalam pengembangannya, yakni terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) bidang digital yang mau tekun bersama pemdes membangun literasi digital di desa tanpa memperoleh penghasilan layak. “Saya kira tantangan ini dihadapi semua desa, dan pasti terus kami jawab, antara lain dengan memajukan Bumdesa Karya Muda serta mengangkat potensi lokal yang viral seperti UMKM busur panah, dengan konsep pengembangan berkelanjutan,” tegasnya.

Kendati demikan, digitalisasi beberapa sektor itu telah menarik perhatian pemerintah provinsi dan pusat untuk melihat lebih dalam ke Desa Krandegan. Berbagai penghargaan diraih desa tersebut. Bahkan Menteri Kominfo Johnny G Plate secara khusus memberikan apresiasi.

Dalam kegiatan video conference bersama di Surakarta pada 1 April 2021, Menteri Kominfo menyampaikan bahwa keberadaan internet dan terobosan teknologi yang dilakukan Pemdes Krandegan akan mendorong masyarakat untuk melakukan berbagai inovasi.

Menkominfo berharap terobosan itu bisa menjadi contoh dan ditiru oleh 83.218 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia. “Desa Krandegan dan Desa Kemuning sudah membuktikan bahwa kita bisa dan kedua desa ini menjadi role model untuk kita wartakan, kita sebarkan, kita sampaikan ke seluruh Indonesia bahwa kita mampu dan bisa menggunakan ruang digital bagi kepentingan masyarakat. Mari kita bangun ruang digital untuk kepentingan pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup yang sudah tersedia,” tegas Johnny (www.kominfo.go.id).

Tidak hanya Menkominfo Johnny G Plate, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar juga memberikan apresiasi. Bahkan, Abdul Halim Iskandar menyempatkan waktunya berkunjung secara pribadi ke Desa Krandegan pada Rabu (18/08/2021).

Abdul Halim didampingi istri yang datang tanpa protokoler, berdiskusi cukup panjang dengan Dwinanto yang didampingi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Paryono. Menteri juga mencoba beberapa aplikasi layanan yang dibuat bumdesa. “Pak Menteri mencoba Sipolgan. Bahkan beliau juga ingin merasakan naik ojek menggunakan aplikasi Ngojol tapi tidak jadi. Setelah diskusi, beliau minta diantar ke UMKM busur panah milik Wahyudin,” tutur Dwinanto.

Kunjungan singkat itu, kata Dwinanto, penuh makna. Abdul Halim Iskandar memang sudah lama ingin berkunjung ke Krandegan setelah desa itu viral di jagat maya karena berbagai program dan inovasinya. Namun kesempatan itu sulit didapat karena adanya pandemi. “Baru kali ini dapat terwujud, itu pun kunjungan pribadi tanpa ada pendampingan dari pejabat kabupaten atau provinsi. Pak Menteri tegaskan tidak mau ada kerumunan, jadi meminta kunjunganya dirahasiakan,” ungkapnya.

Mendes PDTT juga menyampaikan pesan yang kurang lebih sama dengan Menkominfo Johnny. Menurut Dwinanto, Abdul Halim berharap berbagai program peningkatan literasi digital yang dilakukan di Krandegan dan terbukti meningkatkan kesejahteraan, dapat direplikasi di desa-desa lain di Indonesia.

Harapan dua menteri Kabinet Indonesia Maju itu sejalan dengan pemikiran Dwinanto. Ia juga memiliki mimpi agar aplikasi dan program inklusif buatan Desa Krandegan dapat diaplikasikan di desa lain, serta memberi manfaat bagi masyarakat.

Dwinanto meyakini, jalan untuk menjadikan masyarakat Desa Krandegan dan desa-desa lain di Indonesia menjadi lebih melek digital, semakin terbuka lebar. Dunia digital sudah bukan hal tabu bagi masyarakat. “Siapa pun yang memiliki literasi digital yang mumpuni dan tentunya kreatif, akan sukses menapaki kehidupan di masa depan. Sebab, untuk saat ini, digitalisasi adalah sebuah keniscayaan,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI