Membudayakan Sadar Bencana, Kurangi Dampak Tsunami

TERLETAK di pesisir dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 25 kilometer, menjadikan Kabupaten Purworejo sasaran telak apabila terjadi tsunami di Samudera Hindia. Bencana itu pernah menerjang Purworejo pada tahun 2006, dipicu oleh gempa bumi tektonik di lepas Pantai Pangandaran. Tidak ada warga setempat yang menjadi korban, karena wilayah pesisir Purworejo masih sepi kala itu. 

Bagaimana jika bencana itu terulang sekarang? Mungkin kondisinya akan berbeda, karena sekarang banyak warga Purworejo yang beraktivitas di pesisir sebagai nelayan tangkap, petambak udang, atau membuka usaha pariwisata. Sebagian dari mereka pun memilih tinggal dekat pantai.  

Lahan pasir pantai yang dulu gersang dan terbengkalai, saat ini hampir penuh tambak udang dan bangunan semipermanen milik warga. "Bayangkan jika tsunami terjadi sekarang, jelas berdampak pada masyarakat," kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo, Drs Edi Purwanto, kepada KR, Kamis (28/9). 

Faktanya, gempa bumi kuat tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Potensi gempa di Pantai Selatan Jawa kuat karena wilayah itu merupakan zona aktif subduksi. Lempeng Hindia-Australia dan Lempeng Eurasia bertemu di selatan Jawa.

Beberapa peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) 
yang meneliti lapisan tanah di pesisir Purworejo mengungkap adanya potensi 
tsunami. Mereka menemukan deposit bekas tsunami yang diperkirakan terjadi 
pada tahun 1600-an, 1700-an, dan dekade 1880. Peristiwa itu diperkuat 
dengan adanya catatan milik pemerintah Belanda. 

Menurut Edi, para peneliti kini fokus mengamati gempa bumi berskala rendah di pesisir selatan Jawa Timur dan Jawa Barat yang sering terjadi akhir-akhir ini. Di sisi lain, gempa justru jarang terjadi di pesisir Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian barat. Fenomena inilah yang perlu diwaspadai, sebab tumbukan lempeng di wilayah dengan intensitas gempa yang rendah malah menyimpan energi besar yang berpotensi 
terlepas menjadi gempa berskala kuat. 

"Ada potensi yang disebut Jawa Megathrust dengan kekuatan mencapai 8 SR. Perlu juga diingat pendapat para ahli bahwa gempa bumi memiliki siklus yang pasti akan terulang," tuturnya.  

Kekuatan alam memang tidak dapat dihalangi. Namun, manusia wajib mengantisipasi dampaknya. Prinsip itulah yang dipegang BPBD Kabupaten Purworejo. Sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat pesisir agar sadar potensi bencana tsunami terus dilakukan.   

Pada kenyataannya, bukan hal yang mudah untuk menyadarkan masyarakat 
pesisir Purworejo. Di awal sosialisasi dilakukan, mereka sulit mempercayai ancaman bahaya tsunami. Sebab bencana besar memang tidak pernah melanda, kecuali tsunami Pangandaran yang dampaknya hampir tidak dirasakan warga di wilayah tersebut. 

Sosialisasi diawali dengan pembuatan rencana kontijensi tsunami tahun 2015. BPBD menggelar sosialisasi keliling desa pesisir, memasang perangkat Early Warning System (EWS) di tujuh desa, dan membuat jalur evakuasi. Para relawan juga dilatih dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) yang dibentuk di desa-desa rawan tsunami. Puncaknya adalah gladi lapang tsunami yang digelar di Desa Gedangan, Kecamatan Purwodadi. 

Untuk memudahkan pelaksanaan tugas pemantauan kerawanan bencana, relawan memanfaatkan sarana komunikasi terkini. Salah satunya yakni media sosial (medsos) yang dipandang efektif untuk saling mengabarkan situasi dari wilayah masing-masing. 

"Kami memanfaatkan kemajuan teknologi, salah satunya yakni media sosial. Hasilnya, informasi semakin cepat menyebar sehingga memudahkan koordinasi," tambah Edi.  

Salah seorang warga Desa Gedangan, Sujadi, mengatakan, tsunami tidak pernah dirasakan warga di desanya. Ombak tahun 2006 tidak sampai menerjang desa karena terhalang gumuk pasir di tepi pantai. "Kami tahu dulu ada tsunami, tapi di sini aman-aman saja," ucapnya. 

Bencana tsunami termasuk asing di telinga warga. Awalnya warga tidak 
tahu apa yang harus diperbuat apabila bencana itu datang. Namun, kini 
Sujadi mengaku paham bagaimana mengantisipasi bencana. Apalagi 
pemerintah juga memasang EWS di Gedangan. 

"Kami jadi semakin tenang, setidaknya bakal tahu akan ada tsunami dan langsung lari lewat jalur evakuasi ke titik kumpul, lalu berangkat ke pengungsian," paparnya. 

Upaya mencegah dampak tsunami juga dilakukan oleh relawan lingkungan. Kelompok relawan yang sekarang ini gencar menghijaukan pesisir adalah Komunitas Mangrove Purworejo (Komangjo). Komunitas ini menanam aneka jenis bakau di Sungai Pasir yang menghubungkan muara Sungai Bogowonto dengan Sungai Jali. Mereka berhasil menghijaukan sungai di wilayah Desa Jangkaran Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo hingga Desa Gedangan. 

"Awal 2015 kami mulai menanam bakau. Hal paling sulit adalah mengajak 
warga untuk terlibat dalam konservasi pesisir," ujar Sapto Pamungkas, 
salah satu relawan Komangjo. 

Pada awal masa penanaman, petambak menjadi 'lawan' usaha penghijauan. Mereka tidak mau lahan tambak berubah menjadi hutan mangrove. Tetapi setelah diberikan edukasi secara perlahan, mereka akhirnya paham. Apalagi setelah merasakan manfaat ekonomi dari geliat sektor pariwisata. 

Sapto mengatakan, hutan mangrove memiliki fungsi untuk mencegah abrasi dan menahan tsunami. Perakaran tanaman mencengkeram kuat dan daunnya yang lebat dapat menjadi pemecah ketika ombak besar menerjang. "Segala upaya menjaga diri dari tsunami dilakukan, masyarakat dan pemerintah terlibat bersama, namun sesiap apapun, kami tetap berdoa semoga bencana itu tidak datang," tandasnya.(Jarot Sarwosambodo) 

 

BERITA REKOMENDASI