Menerobos Pandemi, Mewujudkan Generasi Cerdas Berkarakter

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Raut wajah Ajeng (12) siswi kelas VII SMP Negeri 40 Purworejo sumringah begitu memasuki ruang tamu rumah Faisal (14), teman juga tetangganya, di Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Hari itu ia akan mengikuti kegiatan Kelompok Belajar (Pokjar) yang diselenggarakan sekolahnya di seluruh desa sekecamatan. Senang bukan kepalang karena Ajeng akan bertemu dengan teman sekolah dan gurunya.

Ajeng termasuk lulusan ‘covid’, generasi yang menuntaskan pendidikan SD dan masuk jenjang SMP di masa pandemi. Ia sudah merasakan pembelajaran daring sejak kelas VI SD. Metode kelulusan SD pun tidak melalui ujian, hanya berdasarkan rata-rata nilai lima semester terakhir, yakni mulai semester 2 kelas IV, kelas V, dan kelas VI.

Belajar dan berdiskusi secara langsung dengan guru adalah kesempatan pertama baginya. Sejak diterima di SMP Negeri 40 Purworejo, Ajeng sama sekali belum pernah mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah barunya itu.

Sepanjang pandemi, baru kali ini ia bisa belajar bersama teman-teman dari sekolahnya yang baru. “Senang sekali saat pertama kali diberi tahu akan ada pokjar. Jadi tahu rasanya belajar di jenjang SMP,” katanya kepada KRJOGJA.com, Sabtu (28/08/2020).

Gadis ini mengikuti pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di rumah Faisal. Ada sekitar dua belas siswa dari Desa Kesawen, mengikuti pokjar di rumah itu. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, satu menerima materi Bahasa Inggris dan sisanya Bahasa Indonesia.

Ajeng bergabung dengan siswa kelas VIII dan IX. Penggabungan kelas tersebut tidak menjadi masalah baginya. “Saya sudah kangen berangkat sekolah, bertemu dengan teman-teman baru. Jadi, meskipun terbatas, pokjar ini bisa mengobati kerinduan akan sekolah,” tegasnya.

Sejak pandemi Covid-19, SMP Negeri 40 Purworejo mengikuti kebijakan pemerintah untuk menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Aktivitas di dalam kelas dialihkan ke rumah, guru pun memberi materi melalui berbagai aplikasi berbasis internet.

Kepala SMP Negeri 40 Purworejo Himawan Susrijadi mengatakan, sekolah mendorong guru untuk kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik. Himawan menyadari, ada ancaman penurunan kualitas pendidikan akibat pembelajaran tidak langsung itu.

“Anak terbiasa bertemu dengan gurunya di dalam kelas. Namun, selama PJJ pertemuan langsung terpaksa tidak bisa dilakukan,” ungkapnya.

Sekolah memang menerapkan kurikulum khusus pandemi dalam pembelajaran daring. Materi pelajarannya lebih ringan dibandingkan kurikulum yang diberlakukan sebelum pandemi.

Meskipun demikian, bukan berarti transfer ilmu menjadi mudah. “Persoalannya adalah, anak belum tentu paham dengan materi yang disampaikan,” ucapnya.

Menurutnya, kendala pemahaman itu dapat teratasi jika orang tua atau kerabat dari siswa juga paham dengan materi pelajaran. Anak pun bisa bertanya kepada mereka. Apabila tidak ada yang paham, siswa bisa mencari jawaban menggunakan mesin pencarian Google.

BERITA REKOMENDASI