Merebaknya PMK Akibatkan Pedagang Sulit Dapatkan Stok Sapi Kurban

Editor: Agus Sigit

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia beberapa bulan terakhir berdampak pada pedagang sapi kurban di Kabupaten Purworejo. Pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan ternak untuk dijual di lapak mereka.

Pedagang sapi di Desa Winongkidul Kecamatan Gebang, Marus mengatakan, perdagangan sapi kurban menjelang Idul Adha tahun 2022 kembali lesu. “Turun kurang lebih 30 persen dari kondisi tahun lalu,” katanya kepada KRJOGJA.com, Senin (20/6).

Kelesuan terjadi di sektor penawaran maupun permintaan. Pada sisi penawaran, pedagang kesulitan mendapatkan pasokan sapi kurban karena beberapa pedagang di kabupaten sekitar melakukan pembatasan.

Marus hanya menjual sapi yang dibelinya dari pasar hewan di Purworejo atau peternak yang sudah menjadi mitra. “Kalau dulu beli sapi sampai ke Muntilan Magelang, Ambarketawang Yogyakarta, atau Kebumen, tapi tahun ini hanya di Purworejo saja,” ujarnya.

Untuk musim kurban tahun 2022, Marus hanya memiliki stok 70 ekor sapi. “Turun 30 persen dari tahun lalu. Sebab biasanya stok kami jelang Idul Adha bisa lebih dari 100 sapi,” ucapnya.

Pedagang lain, Suroto menambahkan, penjualan sapi kurban juga mengalami penurunan hingga 30 persen dibandingkan tahun 2021. Kondisi itu membuat pedagang tidak berani menaikkan harga jual.

Sapi kurban ukuran standar dijual mulai Rp 20 juta hingga Rp 35 juta sesuai ukurannya. Adapun sapi ukuran jumbo dijual mulai Rp 50 juta. “Harga jual stabil, mau menaikkan tidak berani karena pasti akan pengaruhi penjualan,” ungkapnya.

Pedagang, katanya, juga melakukan antisipasi untuk mencegah ternaknya terinfeksi PMK. Mereka menjaga kesehatan ternak dengan merawat kandang ternak kurban. “Kandang kami bersihkan secara rutin, lalu ditaburi kapur dan disemprot disinfektan. Untuk sapi, kami beri pakan yang cukup gizi, diberi antibiotik dan vitamin,” tandasnya. (Jas)

 

BERITA REKOMENDASI