Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Konsep Pertanian Polikultur

Editor: Ivan Aditya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) yang difasilitasi Muhammadiyah Tobacco Control Centre (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang) mengadakan webinar dengan tema ‘Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Konsep Pertanian Polikultur’, Sabtu (04/07/2020). Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbicara sebagai keynote speaker dalam acara ini dan beberapa petani dari banyak daerah juga berbicara di forum yang dipandu moderator Dr Rochiyati Murni N SE MP dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Magelang ini.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di forum ini mengajak banyak pihak untuk bersama-sama menanam makanan pendamping beras. Kondisi dunia ketika pandemi berjalan, ekonomi sudah minus. “Karena itu pangan harus menjadi yang utama, yang kemudian energi dan air,” kata Ganjar.

Sedang Rektor UM Magelang Dr Suliswiyadi MAg mengatakan pandemi Covid-19 tidak semata-mata berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi masyarakat. Di sektor pertanian, FAO sudah memperingatkan potensi krisis pangan global.

“UM Magelang telah melakukan berbagai macam kegiatan seperti penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat terdampak pandemi Covid-19, sekaligus upaya meningkatkan ketersediaan pangan bagi masyarakat,” jelasnya.

Salah satu kegiatan yang telah dilakukan UM Magelang kepada petani adalah melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para petani yang tergabung dalam FPMI. Dengan dibentuknya FPMI pada tahun 2018, para petani berbagai provinsi bisa saling berdiskusi, berbagi pengalaman tentang kegiatan pertaniannya, sehingga bisa meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya dalam meningkatkan produk sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan.

Sementara itu Ketua MTCC UM Magelang Retno Rusdjijati MKes disela-sela kegiatan webinar mengatakan MTCC jaringan pengendalian tembakau fokusnya kepada para petani, terutama para petani tembakau yang sekarang banyak beralih ke tanam atau diversifikasi dengan produk lain. Saat terjadi pandemi Covid-19 seperti saat ini banyak yang mengalami masalah, diantaranya sudah produksi tetapi harganya di pasaran masih rendah serta adanya kendala di bidang pemasaran. (Tha)

BERITA REKOMENDASI