Minim Penari, Eksistensi Dolalak Lanang Terancam

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Eksistensi kesenian tari Dolalak Lanang atau Dolalak dengan penari laki-laki semakin terancam di Purworejo. Hampir semua grup kesenian Dolalak selalu berpenari perempuan. Padahal penari laki-laki adalah cikal bakal munculnya Dolalak.

Pada awal kemunculannya Dolalak diciptakan dan dibawakan penari laki-laki. Kaum pria berperan karena ketika itu Dolalak muncul sebagai manifestasi tiruan gerakan pasukan Belanda di tangsi militer.

Grup Dolalak Lanang bermunculan di seantero Purworejo dan eksis hingga awal dekade 1990-an. Mereka hidup karena banyak mendapat order pentas dan diminati penonton.

Ketua Sanggar Seni Swastika Zuletri Susanto mengatakan, eksistensi grup penari pria mulai surut setelah dekade tersebut. "Grup penari perempuan mulai muncul, ternyata lebih diminati masyarakat. Akhirnya grup penari pria semakin tergeser," ujarnya kepada KRJOGJA.com, Kamis (26/4/2018).

Menurutnya, sudah jarang grup Dolalak Lanang tersisa di Purworejo. Berdasar penelusuran, lanjutnya, grup yang masih tetap eksis adalah kelompok Budi Santoso dari Desa Kalharjo Kecamatan Kaligesing. "Sepertinya yang sekarang eksis dan mencoba mempertahankan pakem Dolalak Lanang ada di Kaliharjo. Penarinya sekarang sudah generasi ketujuh," ungkapnya.

Untuk mencegah kepunahan, Sanggar Seni Swastika menggelar pentas Dolalak Lanang grup Budi Santoso di pelataran Romansa Kuliner Purworejo belum lama ini. Gayung bersambut ketika rencana itu mendapat sambutan positif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Pemkab Purworejo.

Selain Dolalak Budi Santoso, pentas juga diisi Dolalak massal anak-anak, tari tradisional Sanggar Tari Prigel dan musik perkusi. Pagelaran pagi hingga sore pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. "Ternyata masyarakat menikmati pentas, terutama ketika melihat aksi penari pria," tuturnya.(Jas)

 

BERITA REKOMENDASI