Minum Jamu Gendong, 11 Warga Mungkid Keracunan

MAGELANG, KRJOGJA.com – Diduga akibat mengkonsumsi jamu gendong jenis (uyub-uyub), 10 ibu menyusui asal Dusun Loning, Desa Senden, Kecamatan Mungkid, dan seorang ibu asal Desa Treko, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, dilarikan ke RSUD Muntilan, Senin (26/03/2018) malam. Mereka diduga keracunan setelah minum jamu tersebut, pagi harinya.

Direktur RSUD Muntilan, M Syukri dalam keterangannya mengatakan, saat ini ada 11 pasien yang sedang rawat inap di RSUD Muntilan, dengan gejala yang sama, yakni seperti orang mengalami keracunan. "Jadi kemarin (26/03/2018) sekitar pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB, berangsur-angsur kami mendapat pasien 10 orang ibu menyusui. Kemudian dari hasil analisa dokter, semunya habis meminum jamu uyub-uyub. Keluhan semua pasien pun sama, yakni mual, muntah, dan pusing. Kemudian, pada jam 00.00 WIB, kami mendapatkan satu pasien lagi, juga dengan gejala yang sama," kata M Syukri, Selasa (27/03/2018).

Dari data yang dihimpun KRjogja.com, korban yang mengalami keracunan jamu uyub-uyub yang dijual Ny S (53), seorang pedagang jamu gendong asal Treko tersebut, adalah Santi Rahmawati (27), Lusiana Arfiani (23), Haryanti (25), Ida Riwayati (33), Indah Saputri (22), Diah Tri Yuliani (29), Napsiah (30), Saidah (33), Anik Triyaningsih (37), Sarwati (25) semuanya warga Dusun Loning, dan satu warga Desa Treko, Kecamatan Mertoyudan, Maesaroh (20). "Semua korban sudah kita observasi. Kondisi korban saat ini sudah sadar, tetapi dalam kondisi yang lemah," ungkapnya.

Hingga saat ini, kata Sukri, seluruh pasien sedang dalam kondisi pemulihan, dokter ahli penyakit dalam tengah melakukan penanganan lebih lanjut kepada seluruh pasien. "Semoga dalam dua tiga hari kedepan, mereka sudah bisa pulang. Sekarang masih dalam taraf pemulihan," ujarnya.

Sementara Camat Mungkid, Sukamtono ditemui ditempat terpisah mengaku, sudah menerima laporan tersebut. "Laporan yang kami terima sama. Ada 11 ibu-ibu menyusui mengalami keracunan setelah meminum jamu jenis uyub-uyub. Hanya kami tidak bisa memastikannya. Perlu uji laboratorium untuk membuktikannya. Namun dilihat dari kronologinya, besar kemungkinan mereka benar telah keracunan," katanya.

Jika benar, pihaknya akan menemui pedagang jamunya. "Kalau benar, mungkin tidak ada unsur kesengajaan. Mungkin mereka keracunan, akibat proses dan penyajiannya yang tidak higienis. Atau bisa juga dicampur dengan jenis atau bahan lain yang sudah kadaluarsa. Yang pasti, kami akan secepatnya memanggil penjualnya. Kami akan lakukan pembinaan agar kejadian ini tidak terulang," pungkasnya. (Bag)

 

BERITA REKOMENDASI