Money Politik Cenderung Sasar Kaum Ibu

MAGELANG, KRJOGJA.com – Jual beli politik uang selama Pemilu 2019 kemarin, berkisar antara 19,4 persen hingga 33,1 persen. Angka ini tertinggi ketiga se dunia setelah India dan USA. Sedang praktek money politik itu, biasanya para pelaku memanfaatkan kaum perempuan terutama ibu-ibu.

“Memang betul. Para politisi itu saat melakukan praktek money politik lebih percaya pada para ibu dibanding bapak-bapak. Selain lebih dipercaya, mereka juga lebih jujur. Dan mayoritas para politisi yang saat ini jadi, masih menggunakan praktek-praktek money politik tersebut,” kata Bambang Eka Cahya Widodo, mantan Ketua Bawaslu RI periode  2008 – 2012 saat menjadi nara sumber acara sosialisasi pengawasan partisipatif pembentukan desa pengawasan dan desa anti money politik yang digelar Bawaslu Kabupaten Magelang di Hotel Atria Kota Magelang, Senin (4/11/2019).

Dikatakan, ada lima tantangan utama yang harus diatasi untuk pemilu yang berintegritas, diantaranya membangun kedaulatan hukum untuk mendukung hak asasi mausia dan keadilan pemilu, membangun badan penyelenggara yang profesional dan kompeten dengan kemandirian bertindak yang penuh dan menyelenggarakan pemilihan dengan transparan dan mendapat kepercayaan politik.

Kemudian, kata Bambang Eka memperbaiki norma dan institusi mukti partai dan pembagian kekuasaan yang mendukung demokrasi sebagai sistem keamanan bersama diantara para kompetitor politik serta mengatasi hambatan hukum.

Sementara ada tiga level yang dirusak akibat politik uang. Yakni mengakibatkan arena pertandingan tidak berimbang, mengabaikan hak warga negara agar bebas memformulasikan dan mengekspresikan pilihan politiknya serta meruntuhkan integritas pemilu. “Ini menjadi tantangan kita bersama terutama Bawaslu sebagai penyelenggara pemilu yang salah satu tugasnya memberantas money politik,” lanjutnya.

Sementara KH Labib Achmad, mantan Ketua DPRD Kabupaten Magelang periode 2004-2009 sebagai pembicara kedua menyampaikan kriteria pemimpin yang baik, hanya ada dua. Yakni takut pada Allah dan sayang rakyat. “Mereka yang melakukan politik uang itu pasti tidak takut Allah. Sehingga bagaimana mereka mau menyayangi rakyat kalo pada Allah saja tidak takut?,” imbuhnya. (Bag)

BERITA REKOMENDASI