Musim Tanam Nilam, Rendemen Minyak Meningkat

KEBUMEN, KRJOGJA.com – Petani nilam di Desa Wadasmalang Kecamatan Karangsambung Kebumen bersyukur dengan tingginya rendemen minyak nilam selama musim tanam  2017/2018 yang  mencapai 5,5 % atau meningkat tajam dibanding rendemen dalam musim tanam 2016/2017 lalu yang hanya 2,5 %.

"Tingginya rendemen tersebut kemungkinan disebabkan tingkat curah hujan sejak Oktober  2017 sampai Februari 2018 yang tak seekstrim curah hujan di bulan Oktober 2016 sampai  Februari 2017 lalu. Curah hujan memang sangat mempengaruhi rendemen nilam," ungkap petani sekaligus pengepul nilam Dukuh Krajan Desa Wadasmalang, Yoyon Maryono, di kebunnya, Minggu (04/02/2018).

Wadasmalang merupakan salah satu desa kawasan pegunungan Kebumen yang sejak 20 tahun lalu menjadi sentra tanaman nilam dan menghasilkan minyak nilam melalui usaha penyulingan daun dan batang nilam. Menurut Yoyon lahan nilam milik ratusan petani nilam di wadasmalang  kini mencapai ratusan hektar, yang hanya ditanam pada musim penghujan saja.

"Tanaman nilam merupakan jenis herba dengan musim tanam mencapai 6 bulan lamanya dengan 3 kali pemanenan. Daun dan batangnya yang kering di suling di tobong penyulingan kemudian minyak hasil penyulingan dijual kepada pedagang di Tambak Kabupaten Banyumas maupun di kota Purwokerto dengan harga Rp 450,- sampai Rp 600,- per kilogram, tergantung harga pasar yang sedang berlaku. Setelah itu, diekspor ke Cina dan Korea sebagai bahan baku industri farmasi," ujar Yoyon.

Adapun Samingun, salah satu petani nilam Wadasmalang mengungkapkan bahwa harga batang dan daun nilam segar kini mencapai Rp 2.500,-/kilogram. Sedangkan batang dan daun nilam kering Rp 3 ribu/kilogram. Dalam satu hektar lahan, produksi nilam rata-rata mencapai 6 kuintal batang dan daun nilam segar.(Dwi)

BERITA REKOMENDASI