Ngangsu, Kebiasan Sebagian Warga Somorejo Cukupi Kebutuhan Air

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Sejumlah warga Dusun Sejagir, Desa Somorejo, Kecamatan Bagelen tidak lagi menerima air dari selang yang dihubungkan dari sumber mata air perbukitan yang lebih tinggi dari rumah mereka. Sumber tersebut mati sejak berlangsungnya musim kemarau.

Mereka mengandalkan air dari sumber Singo Barong. Mata air tersebut terus menghasilkan meski kemarau panjang terjadi di Somorejo. “Tapi letaknya lebih bawah dari rumah kami, jadi tidak bisa pasang selang. Kami harus mengambilnya langsung,” kata ibu rumah tangga warga Dusun Sejagir, Wiji, kepada KRJOGJA.com, Rabu (02/09/2020).

Sejumlah warga pun ‘ngangsu’ atau mengambil air bersih secara langsung dengan peralatan seadanya. Mereka berjalan kurang lebih lima ratus meter menuju sumber yang berada di bawah lereng.

Warga pemilik motor bisa mengambil air dalam jumlah banyak. Namun, kata Wiji, bagi yang berjalan kaki maksimal membawa dua ember air dengan cara dipikul. Perempuan itu enam kali bolak-balik menuju sumber air.

Wiji mengaku tetap mengambil dari sumber meski ada bantuan dari pemerintah. Warga di lereng kesulitan mengakses karena jarak rumahnya cukup jauh dari jalan raya. “Kami selalu ke sumber selama musim kemarau, belum pernah ikut ambil kalau pas ada bantuan karena tempatnya jauh,” ujarnya.

Air digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mulai memasak, mencuci, mandi dan MCK. “Airnya untuk semua kebutuhan termasuk minum, alhamdulillah kami sekeluarga belum pernah ada keluhan kesehatan,” ungkapnya.

Warga lain, Reihan mengaku mengambil air tujuh kali dalam sehari. Air digunakan untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, untuk memasak dan minum, keluarganya membeli air galon isi ulang.

Sementara itu, Kepala Desa Somorejo Supangat mengemukakan, pasokan air dari sumber mata air masih mencukupi memasuki puncak kemarau. Namun, sebagian warga harus mengambilnya sendiri di sumber.

Air sumber belum bisa dialirkan ke setiap rumah tangga karena sebagian bermukim lebih tinggi dari mata air. Sumber Singo Barong, lanjutnya, disedot dan dialirkan dengan selang oleh beberapa warga yang tinggal di bawahnya.

Dusun Tepus dan Sejagir, lanjutnya, memang menjadi langganan kekeringan setiap tahun. “Kami coba atasi, tahun lalu desa melobi dan memfasilitasi pembangunan dua sumur bor di Tepus, bantuan dari organisasi paguyuban pramugari. Air berhasil keluar dan dimanfaatkan seratusan warga,” terangnya.

Menurutnya, bantuan itu akan ditindaklanjuti desa dengan membangun pralonisasi untuk menghubungkan sumur dengan rumah warga. “Rencana kami ke depan akan ada pralonisasi, tapi rencana itu dilakukan bertahap sesuai kemampuan keuangan dasa,” ucapnya.

Meski demikian, desa juga tetap meminta bantuan air bersih kepada BPBD untuk warga yang tinggal di perbukitan. “Ada sebagian yang tinggal di Sejagir atas berbatasan dengan desa tetangga, yang kesulitan mengakses air bersih karena permukiman lebih tinggi dibanding sumber airnya,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI