Ombak Sudah Kondusif, Hasil tangkapan Nelayan Masih Minim

Editor: KRjogja/Gus

KEBUMEN, KRJOGJA.com – Pasca libur panjang sekitar 4,5 bulan lebih sejak munculnya musim gelombang tinggi dan angin kencang di awal Mei 2018 lalu, sebagian nelayan Kebumen akhirnya mulai kembali melaut sejak akhir September sampai minggu pertama Oktober 2018, karena kondisi ombak memang sudah aman bagi pencarian ikan.

" Namun hasil tangkapannya masih minim, belum memberikan keuntungan bagi kami, terpaksa kami libur melaut lagi," ungkap nelayan Desa Tegalretno Kecamatan Petanahan Kebumen, Narto, Minggu (07/10/2018).

Dituturkan oleh Narto, pada Minggu (30/09/2018) pagi lalu 12 nelayan Tegalretno dan 2 nelayan Ampelsari Kecamatan Petanahan Kebumen mencoba untuk turun melaut dengan menggunakan 7 perahu. Dalam 7 jam melaut, mereka berhasil mendapatkan ikan bawal putih dan layur.

" Namun dari 7 perahu tersebut hanya 3 perahu yang hasilnya memuaskan, diantaranya mendapatkan 30 ekor bawal putih yang laku dijual Rp 800 ribu. Namun 4 perahu lainnya hasilnya minim, diantaranya hanya mendapatkan 3 ekor bawal putih yang terjual Rp 250 ribu, padahal modal pembelian bensin dan bekal makanan mencapai Rp 300 ribu," ujar Narto.

Dengan penghasilan yang belum sesuai harapan tersebut, pada Minggu (07/10/2018) pagi hanya 2 nelayan Ampelsari yang berangkat melaut, sedangkan puluhan nelayan Tegalretno memutuskan untuk libur karena pesimis dengan hasil tangkapan yang akan diperoleh.

" Dugaan kami, belum adanya hujan menyebabkan ikan di perairan laut masih langka. Kemungkinan bila sudah mulai turun hujan jumlah ikan di perairan laut akan melimpah," jelas Ahmadi, rekan Narto.

Adapun di pangkalan nelayan Desa Tanggulangin Kecamatan Klirong Kebumen,  hingga Minggu (07/10/2018), belum ada nelayan Tanggulangin yang mulai melaut. Penyebabnya adalah masih dangkalnya kondisi muara Sungai Luk Ulo di Desa Jogosimo Kecamatan Klirong Kebumen yang belum bisa dilewati perahu mereka. (Dwi)

 

BERITA REKOMENDASI