Pacu Ekspor Pertanian, Kementan Bersinergi Percepat Izin

Editor: KRjogja/Gus

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (BKP) bertekad memacu ekspor produk pertanian dan kehutanan. Badan Karantina melakukan sinergi lintas sektoral untuk mempercepat proses terbitnya sertifikasi produk sesuai permintaan negara tujuan ekspor.

Kepala Pusat Kerjasama Kepatuhan dan Informasi Perkarantinaan BKP Kementan drh Sujarwanto MM mengatakan, fasilitasi dioptimalkan mengingat besarnya potensi ekspor produk pertanian di Indonesia. "Fasilitasi mulai bimbingan teknis kepada pengusaha, bagaimana agar produk mereka tidak ditolak negara tujuan ekspor," ujarnya disela pelepasan ekspor produk kayu olahan PT Indotama Omicron Kahar Purworejo, Kamis (29/8).

Fasilitasi lain adalah usaha mempercepat proses sertifikasi dan inspeksi secara online. Produk tidak perlu menjalani pemeriksaan ulang di pelabuhan. Pemeriksaan dilakukan saat produk masih ada dalam pabrik.

BKP juga meningkatkan kerjasama dengan Bea dan Cukai. "Nantinya akan diterapkan 'single inspection', cukup satu kali pemeriksaan, tidak perlu dua lembaga memeriksa sendiri-sendiri. Sinergi itu mempercepat proses perizinan," tuturnya.

Ditambahkan, negara tujuan ekspor juga mensyaratkan 'Phytosanitary Certificate' (PC) untuk produk kehutanan. Sesuai dengan aturan perdagangan antar negara tentang ekspor komoditas yang menggunakan kemasan kayu seperti palet kayu, peti dan kotak harus dipastikan  bebas serangga, tidak rusak serta bebas jamur. "Untuk memenangkan persaingan, terobosan harus ditempuh. Bersama kita berantas hambatan ekspor," tegasnya.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Cilacap drh Puji Harto MP mengaku optimis permohonan sertifikasi ekspor tahun 2019 diperkirakan lebih tinggi dibanding 2018. Sepanjang 2018, jumlah sertifikasi ekspor sebanyak 679 kali.

Sementara data Januari hingga Agustus 2019, tercatat sebanyak 544 kali. Produknya, kaya Puji, beranekaragam mulai jamu-jamuan, olahan kayu, gula semut, sarang burung walet hingga daun ketapang. "Momentum kali ini, kami lepas ekspor 357 metrik ton kayu albasia ke Jepang dan Cina, 25 ton gula semut ke Srilanka, serta tujuh kilogram daun ketapang ke Korea Selatan dan Amerika Serikat," paparnya.

Terpisah, Asisten II Setda Purworejo Boedi Hardjono mengemukakan, menyampaikan bahwa pihaknya mengapresiasi fasilitasi Karantina Pertanian untuk produk ekspor dari Purworejo. "Tentunya kami berharap Kementan terus mendampingi, khususnya para pelaku pemuka. Sebab mudahnya persayaratan, semakin membuka peluang munculnya eksportir baru," tandasnya. (Jas)

 

BERITA REKOMENDASI