Pantai Dieksploitasi, Semakin Berkurang Lokasi Ideal Penyu Hijau Bertelur

KEBUMEN KRJOGJA.com – Semakin banyak pantai di Kebumen yang dieksploitasi secara ekonomi,  dalam beberapa tahun terakhir ini, berdampak menyempitnya lokasi ideal penyu hijau untuk bertelur di kawasan pantai Kebumen.

"Dengan begitu maka semakin kecil pula peluang bagi upaya pelestarian reptil yang dilindungi undang-undang ini," ujar Ketua Forum Peduli Lingkungan (FPL) Kebumen, Ir Sunaryo kepada media, Minggu (17/02/2019).

Menurut Sunaryo, dalam beberapa tahun terakhir ini semakin banyak pantai di Kebumen yang dieksploitasi sebagai obyek wisata, pertanian, perikanan termasuk budidaya tambak udang. 

"Semua aktifitas ekonomi tersebut tentu saja berdampak perubahan ekosistemnya, yang beresiko munculnya gangguan bagi aktifitas penyu untuk mendarat dan bertelur di pantai. Padahal penyu sangat membutuhkan lokasi yang bersih, alami dan tenang untuk bertelur," ujar Sunaryo.

Semakin banyak pantai yang dieksploitasi secara ekonomi maka semakin berkurang pantai yang sepi dan alami sebagai lokasi ideal penyu bertelur. Sebagai contohnya adalah budi daya udang di sejumlah pantai di Mirit, Buluspesantren, Klirong, Petanahan dan Puring. 

"Aktifitas tambak-tambak udang akan memunculkan gangguan suara bising berupa suara genset-genset di tepi  kolam tambak selama 24 jam non stop. Adanya suara bising ini menyebabkan penyu urung mendarat dan bertelur," ujar Sunaryo.

Menurut Sunaryo saat ini memang sudah saatnya dipikirkan upaya penyediaan kawasan pantai lindung yang bertujuan untuk melindungi populasi sejumlah satwa yang dilindungi seperti penyu hijau. Secara regulasi pantai lindung tersebut haruslah dihindarkan dari berbagai aktifitas non konservasi.

"Mengingat urusan kelautan merupakan kewenangan pemerintah provinsi, maka sudah saatnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mulai fokus dan serius memikirkan kepentingan konservasi penyu hijau ini," ujar Sunaryo.(Dwi)

BERITA REKOMENDASI