Parakan Barometer Harmonisasi di Temanggung

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Belum pernah terjadi konflik keagamaan di Kota Parakan, sebab warganya mempunyai dinamisasi kehidupan sosial keagamaan yang menyatu dan hidup dalam harmoni, serta mempunyai kedewasaan dalam hidup.

“Parakan menjadi barometer kegiatan keagamaan, ketertiban dan keamanan di Temanggung, jika ada konflik di Temanggung tetapi Parakan aman maka Temanggung segera redam dan aman,” kata mantan Bupati Temanggung, KH Hasyim Afandi, pada seminar Parakan Kota Pusaka, yang digelar untuk memperingati HUT Temanggung ke 186, Rabu (18/11/2020).

Dia mengemukakan tradisi sosial budaya masih eksis hingga sekarang. Tradisi ini sebagai pengikat kehidupan warganya. Sebagai contoh saling mengirim makanan khas pada perayaan keagamaan. “Kegotongroyongan, saling membantu antar warga meski berbeda etnis dan agama tetap berjalan ini suatu yang bagus yang harus dilestarikan,” kata dia.

Menurutnya, sikap kedewasaan, memahami dan toleransi yang merupakan warisan dari senior membuat Kota Parakan yang pluralistik terhindar konflik. “Saya optimis Temanggung tentrem akan tercapai, dengan kedewasan sehingga menjadi marem dan gandem,” kata dia.

Dosen arsitektur Universitas Taruma Negara, Sutrisno Murtiyoso mengatakan dengan potensi yang dimiliki, Parakan dapat dikembangkan sebagai pariwisata berbasis warga. Ada dua keuntungan yang akan didapat yakni peningkatan PAD dan kesejahteraan warga Parakan serta Kabupaten Temanggung secara umum.

“Dalam kaitan yang lebih luas, untuk menjadikan Kota Temanggung sebagai simpul wisata regional dalam skala regional dan nasional. karena ada pada jarak yang sangat terjangkau terhadap tiga daerah tujuan wisata di daerah tersebut yakni Borobudur, Dieng dan Gedong Songo,” kata dia.

Dosen Sejarah dan Arkeologi UGM, Musadad mengatakan banyak yang perlu digali dari Kota Parakan, penggalian tidak hanya dari segi warisan tutur, tradisi budaya dan bangunan, tetapi juga penelusuran arsip nasional. “Salah satu pertanyaannya adalah mengapa Parakan dipilih menjadi ibu Kota Kabupaten Menoreh, padahal masih banyak daerah strategis di sekitar tempat itu, seperti Magelang dan Secang,” kata dia.

Dia mengatakan Parakan sebenarnya sudah ada jauh sebelum ada Kabupaten atau Kadipaten Menoreh. Lokasi tempat tersebut sangat mendukung, selain berada di titik tengah antara Pekalongan, Magelang, Yogyakarta, Wonosobo, juga memiliki sumber daya alam yang mendukung berupa tanah yang subur dan sumber air yang berlimpah.

Bupati Temanggung Al Khadziq mengatakan pembangunan di Temanggung tidak boleh kehilangan arah makanya harus menggali sejarah dan tidak melupakanya. Sebab itulah yang membentuk identitas dan karakter sebagai warga Temanggung dan menjadi bekal untuk menata kedepan yang lebih baik.

“Sejarah kehidupan di Parakan harus terus digali. Baik eksestensi masyarakatnya dengan kerukunan, kegotongroyongan maupun jejak arsitektur. Bahasa Temanggungan yang tetap eksis juga sebagai warisan tidak ternilai,” kata dia. (Osy)

BERITA REKOMENDASI