Peluang Kerja TKI Formal di Malaysia Masih Tinggi

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Kebutuhan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sektor formal di Malaysia masih tinggi. Satu perusahaan resmi bahkan bisa memberangkatkan hingga seribu pekerja migran untuk bekerja di berbagai perusahaan di negara itu setiap tahun.   

Perusahaan teknologi, manufaktur dan konstruksi menjadi peminat TKI. "Perkembangan Malaysia yang cukup maju, membutuhkan banyak tenaga kerja. Namun tidak sembarang orang bisa bekerja di sana," kata Direktur Pelaksana Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) PT Jafa Indo Corpora Sunarno, di Purworejo, Rabu (30/10/2019). 

Imbas kondisi itu, katanya, perusahaan bisa memberangkatkan 581 TKI formal sepanjang September – Oktober 2019. Mereka bekerja pada perusahaan yang telah membuat kerjasama dengan agensi dan P3MI.  

Mereka yang berangkat ke negara tujuan langsung bekerja di perusahaan yang dituju dengan kontrak rata-rata dua tahun. "Untuk perusahaan kami, setahun rata-rata seribu yang berangkat. Pekerja formal ke Malaysia dan nonformal sebagai penata laksana rumah tangga ke Taiwan, Singapura dan Hongkong," terangnya. 

Menurutnya, seluruh pekerja yang berangkat berstatus resmi. Selama setahun beroperasi, tidak pernah ada persoalan yang dihadapi pekerja migran di negara tujuan.  

Sunarno menjelaskan, perusahaan membuka informasi detail pekerjaan dan negara tujuan, secara transparan kepada calon TKI. Selain itu, perusahaan selektif memilih calon TKI yang akan diberangkatkan. "Kita seleksi ketat dan sesuai ketentuan yang berlaku, tidak bisa asal berangkat. Kehidupan mereka terjamin asalkan berangkat secara resmi," tegasnya. 

P3MI tidak sekedar memberangkatkan, namun juga memantau gaji yang diberikan perusahaan. "Kami berkomunikasi secara intensif dengan perusahaan lewat agensi P3MI di negara tujuan. Untuk penghasilan TKI formal rata-rata Rp 4,5 juta – Rp 8 juta perbulan," ungkapnya. 

Calon pekerja migran Ma'ruf mengaku sudah pernah berangkat ke Malaysia dan bekerja di sektor formal, bermodalkan ijazah SMK. Ma'ruf senang bekerja di Negeri Jiran itu karena penghasilannya banyak dan status pekerjaannya terjamin. Selain itu, Ma'ruf kesulitan mendapat pekerjaan di Indonesia. "Kali ini berangkat lagi dan akan bekerja di perusahaan konstruksi. Kerja di Malaysia tidak begitu berat, semua sesuai kontrak," ucapnya. 

Terpisah, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinpernaker) Purworejo Pracoyo SSos mengingatkan P3MI yang berkantor di Purworejo untuk tidak melakukan pelanggaran regulasi dalam memberangkatkan pekerja migran. Pelanggaran seperti pemalsuan umur, katanya, justru akan mengundang masalah yang berdampak pada pekerja migran. 

Sebanyak 600 – 800 pekerja migran asal Purworejo berangkat ke luar negeri pertahun. Mereka merupakan pekerja resmi yang tercatat dalam database Dinpernaker Purworejo. "Kalau resmi mudah diurus apabila ada masalah," tandasnya.(Jas)

TKI

BERITA REKOMENDASI