Pemerintah Jerman Bantu Lestarikan Candi Borobudur

Editor: KRjogja/Gus

MAGELANG (KRjogja.com) – Pemerintah Jerman sejak 2011-2016 telah mengucurkan dana sebesar 600.000 Euro atau senilai Rp 8,6 miliar melalui UNESCO untuk konservasi Candi Borodur. Sedang kegiatannya, meliputi pelatihan, penelitian bersama dan analisis tentang konservasi batu dan kegiatan pencocokan kepala Buddha serta parameter pengurangan risiko.

 

Selama kegiatan ini, UNESCO Jakarta bekerja sama dengan para ahli dari Jerman yang memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas untuk staf BKB, yakni Prof Dr Hans Leisen (ahli konservasi batu dari Cologne Lembaga Ilmu Pengetahuan Hayati), Dr Esther von Plehwe -Leisen (ahli konservasi batu dari Cologne University of Applied Sciences), Mike Boge Dipl Ing dan Bern Niedringhaus Dipl Ing (Spesialis manajemen air) serta Emmeline Decker Dipl (ahli laboratorium). Kelima ahli yang berasal dari Jerman itu, bekerja sama dengan staf BKB.

"Mereka melakukan kegiatan kolaboratif untuk konservasi Candi Borobudur termasuk melakukan pemetaan kerusakan batu dan pemantauan kelembaban di beberapa daerah di candi," kata Director and Representative, UNESCO Jakarta, Shahbaz Khan, di sela-sela workshop Capacity-Building for the Conservation of the Borobudur Temple Compounds within a Disaster Risk Reduction Framework atau Peningkatan Kapasitas untuk Konservasi Komplek Candi Borobudur dalam Kerangka Pengurangan Risiko Bencana di Hotel Manohara, Kompleks Candi Borobudur, Senin (26/09/2016).

Sementara itu, Balai Konservasi Borobudur (BKB) telah membatasi jumlah pengunjung Candi Borobudur, terutama saat berada di puncak candi. Pembatasan tersebut dilakukan sebagai salah satu untuk penyelamatan Candi Borobudur. “Pembatasan pengunjung di lantai VII untuk bisa naik 82 orang ke lantai VIII-X. Pembatasan ini dilakukan agar pengunjung tidak menumpuk demi keamanan candi,” imbuh Kepala BKB, Marsis Sutopo.

Pembatasan tersebut, lanjut Marsis, telah diterapkan sejak 2011 lalu. Hal ini agar para pengunjung tidak hanya berjubel di puncak candi. Selain itu, ada larangan pula bagi pengunjung untuk naik di stupa biar lebih tertib. "Adanya pembatasan jumlah kunjungan terutama di puncak candi ini dilakukan bertujuan untuk alasan keselamatan candi," jelasnya.

Dalam workshop yang diselenggarakan Kantor UNESCO Jakarta bekerja sama dengan BKB itu, dilangsungkan selama dua hari mulai tanggal 26 hingga 27 Septembe. Selain Marsias Sutopo, hadir pula pembicara Harry Widianto (Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman), Alexander Thielitz (Sekretaris Atase Pers dan Kebudayaan Kedutaan Jerman di Indonesia) dan Bernards A  Zako (Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta) serta Raditya Jati (Direktur Pencegahan Bencana BNPB). Sedang peserta berasal dari para ahli konservasi dari Jerman, BKB, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, BPCB DIY, BPBD Jateng, BPBD Magelang, PSBA UGM, NGO lokal dan BPPTKG. (Bag)

BERITA REKOMENDASI