Pengelola Desa Wisata Dilatih Bikin Konten Medsos

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Badan Otorita Borobudur (BOB) melatih belasan pengelola desa wisata di kawasan otoritatif. Dalam Pelatihan dan Pendampingan Konten Digital SDM Parekraf itu, mereka dikenalkan cara memotret, memvideo, menulis, desain grafis, dan mengelola konten media sosial milik desa di objek wisata Glamping De Loano Desa Sedayu Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo.

Pelatihan diikuti pemuda Desa Sedayu Kecamatan Loano, Pandanrejo Kaligesing, Benowo Bener, dan Desa Nglinggo Kecamatan Samigaluh Kulonprogo. Pelatihan menghadirkan pemateri para ahli bidang fotografi, videografi, dan penulisan dari Yogyakarta. Kegiatan itu dibuka Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah Sinoeng N Rachmadi.

“Pelatihan ini adalah yang kedua, lanjutan dari kegiatan serupa yang diselenggarakan di Tebing Breksi. Kali ini di Glamping de Loano, karena ada banyak tempat yang bisa dijelajahi dan dijadikan contoh bagi para peserta,” terang Direktur BOB Indah Juanita, menjawab pertanyaan KRJOGJA.com, Selasa (17/11/2020).

Para peserta, katanya, akan diajak untuk memanfaatkan waktu dan peralatan sederhana untuk bisa menghasilkan konten yang menarik. Promosi, lanjut Indah, masih menjadi kendala bagi para pengelola objek wisata di desa.

Menurutnya, para pelaku wisata memang gencar membangun objek dan memberikan pelayanan prima bagi pengunjung. “Tapi mereka kadang lupa tidak promosi, padahal konten yang baik sangat diperlukan untuk meningkatkan kunjungan. Maka BOB ajak para pelaku wisata untuk bisa membuat konten yang baik,” ujarnya.

Ditambahkan, BOB merasa perlu untuk melatih desa-desa di kawasan otoritatif karena secara kelembagaan badan otorita juga bertanggung jawab melakukan sinkronisasi pembangunan pariwisata hingga ke tingkat terbawah. “Jika desa wisata bisa ikut bangun, maka pertumbuhan ekonomi yang diungkit dari sektor pariwisata akan meningkat. Itu salah satu tujuan adanya BOB,” tegasnya.

Kepala Disporapar Jawa Tengah Sineong R Rachmadi mengemukakan, pelatihan merupakan bagian dari usaha pemerintah dalam mengisi kekosongan aktivitas akibat keterbatasan dan pembatasan selama pandemi. Pelatihan dikonsep untuk mengajak pengelola agar sadar tentang strategi pemasaran yang baik dan perilaku konsumen.

Pengelola desa wisata, katanya, diharapkan mampu menyajikan konten yang menarik dan berbeda dengan kebanyakan konten pariwisara yang bertebaran di dunia maya. “Harus bisa menciptakan yang menarik dan berbeda. Menampilkan bahwa tempat itu aman, nyaman, sehingga memberi keyakinan bagi publik,” tuturnya.

Menurutnya, pengelola juga harus mampu membuat narasi dan literasi dengan tujuan membangun jejaring. “Tujuannya jangka panjang, yakni setelah pandemi teratasi. Konten menarik yang dibangun, kelak akan menjadi rujukan wisatawan ketika menentukan destinasi yang ingin dikunjungi,” ungkapnya.

Peserta pelatihan dari Desa Benowo, Dwi Kurniawati menambahkan, pelatihan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas konten promosi di akun medsos desa. Selama pandemi, medsos menjadi ujung tombak dalam promosi potensi wisata Desa Benowo.

“Harapannya besok bisa membuat konten yang baik. Saat ini, kami juga masih terkendala keterbatasan sinyal internet di desa, sehingga kadang admin medsos harus ke Purworejo ketika hendak mengunggah konten,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI