Pengelola Destinasi Disiapkan Hadapi Pandemi

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Puluhan pengelola destinasi di kawasan otoritatif Badan Otorita Borobudur (BOB) disiapkan menghadapi rencana pembukaan objek wisata di tengah pandemi Covid-19. Mereka dilatih adaptasi kebiasaan baru bidang pariwisata dan cara mengatur kunjungan agar aktivitas di destinasi sesuai dengan protokol kesehatan.

Pelatihan dilaksanakan di tujuh desa di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta secara bertahap. Tujuh desa penerima program pelatihan adalah Pandanrejo Kecamatan Kaligesing, Sedayu Loano, Benowo Bener di Kabupaten Purworejo, Desa Ngargoretno Kecamatan Salaman Magelang, Pagerharjo, Gerbosari, dan Ngargosari di Kecamatan Samigaluh Kulonprogo. Pelatihan itu dibuka Direktur Destinasi Pariwisata BOB Agustin Peranginangin di objek wisata Bukit Sibutrong di Desa Pandanrejo Kaligesing, Senin (15/03/2021).

Direktur Destinasi Pariwisata BOB Agustin Peranginangin mengatakan, kegiatan pelatihan merupakan rangkaian dari upaya BOB menyiapkan SDM pengelola destinasi. “Masa pandemi seperti sekarang, pariwisata diharapkan mampu jalan, meski harus dibatasi. Untuk menuju tahapan itu, kita dekati SDM pengelola destinasi, kita tingkatkan kapasitas mereka,” tuturnya menjawab pertanyaan KRJOGJA.com.

Menurutnya, peserta pelatihan diajak untuk dapat memahami dan menerapkan protokol kesehatan dalam segala aktivitas di destinasi. “Misal dulu toilet dalam satu bangunan, sekarang dipisah, dulu makanan dihidangkan, sekarang harus dibungkus. Sebenarnya sudah ada dalam sapta pesona, hanya perlu disesuaikan dengan situasi pandemi dan dikuatkan lagi,” terangnya.

Pelatihan di masing-masing desa dilaksanakan selama empat hari. Peserta pelatihan mendapat materi tentang adaptasi kebiasaan baru destinasi, meliputi pemetaan daya tampung pengunjung, alur wisatawan, zonasi kunjungan, hingga simulasi.

Dua hari berikutnya, peserta diajak berdiskusi tentang hasil yang ditangkap. “Lalu disesuaikan dengan situasi destinasi yang dikelola. Mereka menyusun sendiri soal prokes di objek, kami hanya memicunya saja,” ucapnya.

Dikatakan, muara pelatihan adalah pengelola destinasi mampu meyakinkan publik bahwa tempat wisata yang mereka kelola telah menerapkan protokol kesehatan. “Kalau bisa meyakinkan, insyaallah wisatawan akan datang karena mereka merasa aman,” ujarnya.

Kendati demikian, Agustin mengingatkan adanya kendala konsistensi yang kerap dihadapi para pelaku wisata. Dikatakan, tidak banyak orang yang sabar menghadapi situasi pandemi, sehingga mereka memilih meninggalkan aktivitas di sektor wisata.

“Misalnya di salah satu desa, dulu dilatih 60 penggerak dan ketika kami datang lagi beberapa bulan kemudian, hanya sepuluh yang masih konsisten merawat objek,” paparnya.

Untuk mencegah kondisi itu, BOB mengajak para pengelola destinasi untuk medeklarasikan komitmen dalam pelaksanaan protokol kesehatan di destinasi, pada akhir rangkaian pelatihan. “Harapan kami dengan deklarasi itu, mereka selalu konsisten merawat dan mengembangkan destinasi, sehingga ketika pandemi teratasi dan wisata dibuka normal, mereka siap menerima kunjungan,” tegasnya.

Ketua Pokdarwis Bukit Sibutrong, Saiman Iswanto menuturkan, sebanyak 20 pengelola destinasi dan pelaku wisata di Desa Pandanrejo mengikuti pelatihan tersebut. Saiman menyambut baik kegiatan lantaran dinilai sangat bermanfaat untuk para pelaku di desa wisata.

“Kami jadi lebih paham bagaimana menyiasati pandemi dan memastikan para pengunjung aman serta sehat ketika berwisata di Desa Pandanrejo,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI