Penyebab Jatuhnya Pesawat Basarnas HR-3602 Masih Diselidiki

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Kepala Basarnas Marsekal Muda TNI M Syaugi MM mengatakan tim investigasi jatuhnya helikopter HR-3602 masih terus bekerja untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Secara garis besar terdapat tiga penyebab kecelakaan, yakni manusia, media atau cuaca dan mesin pesawat. Semuanya diselidiki secara detail dan komprehensif yang nantinya akan dilaporkan kepada Basarnas. Tim investigasi terdiri dari TNI AL selaku yang mengoperasikan helikopter, Basarnas, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)

"Kami dan tim tidak bisa gegabah, untuk mencari penyebab kecelakaan itu. Saya yakin mudah-mudahan tidak dalam waktu lama segera terungkap," kata Kepala Basarnas Marsekal Muda TNI M Syaugi MM, usai memberikan penghargaan pada Tim SAR Gabungan Operasi SAR yang terlibat dalam evakuasi korban dan bangkai helikopter HR-3602 yang jatuh di Gunung Butak Desa Canggal Kecamatan Candiroto Temanggung, 2 Juli 2017 lalu, di Grha Bhumi Phala, Selasa (25/7/2017).

Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Muda TNI M Syaugi MM dan disaksikan Bupati Temanggung Mulyadi Bambang Sukarno dan potensi SAR yang ada. Mereka yang mendapat penghargaan adalah 92 lembaga dan organisasi relawan, antara lain BPBD Temanggung, Kodim 0706 Temanggung, Polres Temanggung, warga Desa Canggal, Baguna PDIP Temanggung, Orari, Pangkalan TNI AL Semarang dan Pangkalan TNI AL Yogyakarta.

Sambil menunggu hasil investigasi tersebut, Syaugi mengatakan kecelakaan helikopter telah menjadi cambuk bagi Basarnas untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan misi kemanusiaan dan melanjutkan perjuangan personel gugur untuk berkarya yang terbaik bagi nusa bangsa.

Dikatakan kecelakan heli tersebut juga menuntut anggota dan komponen SAR untuk memperkuat semangat dan mendalami keilmuan tentang SAR. Kecelakaan tersebut juga diharapkkan sebagai yang pertama dan terakhir. Sebelum operasi dipersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan berakhir baik dan sukses.

Dia mengatakan Basarnas akan menganggarkan dana untuk pembelian helikopter sebagai pengganti pesawat yang kecelakaan. Untuk jenisnya menunggu kajian sebab teknologi terus maju dan berkembang. "Kami masih ada banyak pesawat jadi untuk operasi kemanusiaan tidak terganggu," katanya.

Dia mengatakan penghargaan sebagai bentuk apresiasi Basarnas pada seluruh potensi SAR dan warga yang terlibat dalam evakuasi, pada 8 korban kecelakaan dan bangkai helikopter dari Gunung Butak. Tanpa mereka operasi tersebut tidak akan berhasil dengan baik dan berlangsung cepat. "Kami juga ucapkan terimakasih pada jurnalis yang sebarkan informasi secara akurat pada masyarakat," katanya.

Kepala Kantor SAR Semarang Agus Haryono mengatakan evakuasi jenazah dan bangkai helikopter berlangsung 2 – 6 Juli 2017. Evakuasi jenazah selesai pada tanggal 3 pagi sedang bangkai helikopter tanggal 6 sore. Penyerahan jenazah korban pada 3 Juli pagi.

"Evakuasi berlangsung cepat meski kondisi alam terkadang kurang mendukung, ini berkat dukungan seluruh komponen SAR, Pemerintah dan warga," katanya, sambil menambahkan pada 13 juli telah dilakukan tabur bunga dilokasi kejadian dan akan didirikan monumen untuk mengenang kejadian tersebut.(Osy)

BERITA REKOMENDASI