Perajin Tetap Pertahankan Batik Tulis Khas Purworejo

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Kabupaten Purworejo dikenal menjadi salah satu sentra batik tulis di wilayah selatan Jawa Tengah. Perajinnya tersebar di sejumlah kecamatan, tetapi paling banyak berada di wilayah Bagelen dan Grabag.

Puluhan pengusaha dengan ratusan perajin yang sebagian perempuan, menjalankan aktivitasnya melestarikan warisan budaya itu. Mereka bertahan dengan membuat dan memasarkan batik dengan corak khas, seperti Lung Kenongo.

Namun, keberadaan batik tulis khas Purworejo kini mulai terancam seiring tidak lancarnya pemasaran produk. Pandemi dinilai berpengaruh besar terhadap pemasaran batik khas itu.

Perajin hanya aktif ketika ada pesanan batik dari konsumen. Perajin besar yang biasanya mendapat pesan hingga tiga puluh lembar batik perbulan, saat ini hanya menjual empat hingga lima kain.

“Memang terasa sekali penurunannya, dulu kami sering mendapat pesanan dalam jumlah besar. Terutama jika ada instansi yang memesan untuk kebutuhan seragam karyawan,” ungkap perajin batik di Desa Sumberagung Grabag, Parni, kepada KRJOGJA.com, Jumat (28/08/2020).

Konsumen dari Purworejo dan sekitarnya, katanya, juga kerap datang ke Sumberagung untuk melihat proses produksi, kemudian memesan batik. Namun selama pandemi, sangat jarang konsumen datang untuk membeli langsung kepada perajin.

Parni mengaku menjual sendiri produknya kepada konsumennya di Yogyakarta. Parni menjual batik antara Rp 250.000 – Rp 500.000 perhelai. “Saya selalu ke Yogya untuk antar pesanan, atau menawarkan produk kepada relasi di sana. Sekaligus juga membeli bahan baku dari kain sampai pewarna,” katanya.

Jumlah pembatik tulis yang masih bertahan di Sumberagung tersisa kurang lebih sepuluh perajin. Mereka rata-rata berusia paruh baya dan hanya sedikit perempuan muda yang mau mewarisi kemampuan membatik itu.

Pembatik menjadikan usahanya sebagai sampingan untuk mengisi waktu luang. Untuk mencukupi kebutuhan harian, mereka bekerja di bidang lain seperti pertanian, peternakan, dan perdagangan.

Pengusaha batik Sumpeno mengakui, penghasilan batik tulis saat ini sudah tidak bisa untuk sumber pokok guna mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, tidak ada pembatik tulis di Sumberagung yang hidupnya kesusahan karena mereka tetap bekerja dan menghasilkan rupiah dari sektor lain. “Sudah tidak bisa untuk pokok, tidak seperti saat kami masih muda dulu. Kami hidup dan makan dari menjual batik,” ucapnya.

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap perajin di desa akhir-akhir ini dinilai berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dulu, lanjutnya, batik tulis dikembangkan dengan diselenggarakannya pelatihan, serta dibuka banyak kesempatan untuk memasarkannya di tingkat lokal.

Kendati demikian, Sumpeno meyakini pembatik tulis akan bertahan karena mereka memiliki semangat untuk menjaga agar batik khas Purworejo tidak punah. “Khusus kami, kami akan tetap mempertahankan batik sampai kapan pun karena ini adalah warisan leluhur keluarga kami. Suatu saat kami pun akan mewariskannya kepada anak dan cucu,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI