Pergeseran Budaya Belanja Picu Sepinya Pasar

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Pergeseran budaya masyarakat dalam berbelanja dinilai menjadi pemicu sepinya pasar tradisional di Kabupaten Purworejo. Sebagian masyarakat terutama generasi muda memilih cara belanja online untuk memenuhi kebutuhan mereka.
  
"Kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin mengabaikan pertemuan langsung dengan penjual. Sekarang orang berusaha itu tidak perlu lapak, ada teman yang mampu jual seratus pakaian saat lebaran kemarin, padahal tidak punya lapak dagangan. Untuk pembayarannya secara cash on delivery (COD)," kata pembina UMKM Purworejo juga Kaprodi Administrasi Bisnis Politeknik Sawunggalih Aji (Polsa) Kutoarjo, Agus Fitri Yanto SE MM, kepada KRJOGJA.com, Minggu (7/7).

Kondisi sepi tidak hanya terjadi di pasar besar seperti Pasar Baledono. Pasar tradisional seperti Pasar Kutoarjo juga turut terdampak pergeseran pola hidup masyarakat itu. "Saya tinggal di Kutoarjo dan parameternya pasar setempat saat lebaran. Saya amati Pasar Kutoarjo lebaran kemarin lebih sepi dibanding tahun lalu," ucapnya.

Menurutnya, butuh terobosan konkrit dan inovatif untuk menggairahkan kunjungan ke pasar tradisional. Untuk Pasar Baledono, lanjutnya, pemerintah dapat memanfaatkan lantai dua bangunan dengan dibangun foodcourt atau wahana permainan anak.

Sementara itu, pedagang Pasar Baledono Narti mengemukakan, jumlah pembeli yang datang ke lapaknya pada lebaran 2019, lebih sedikit dibanding sebelum terjadi kebakaran. Sepinya kunjungan diduga karena banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di kawasan Jalan A Yani dan Jalan KH Ahmad Dahlan sisi barat Terminal Kongsi.

"Dagangan yang dijual pedagang di luar sama dengan di Pasar Baledono. Di sana warga tidak perlu repot parkir, bisa langsung ketemu pedagang," tutur pedagang bumbu di lantai dua pasar itu.

Selain itu, katanya, beberapa pelanggan juga menyebut keengganan konsumen ke Pasar Baledono karena lantai dua pasar dinilai lebih tinggi dibanding bangunan lama, sehingga lebih mudah lelah. "Kata mereka, naik ke lantai dua lebih tinggi, jadi cepat lelah. Daripada harus naik, mereka pilih beli pada pedagang yang di dekat jalan," ungkapnya.
  
Narti menuntut pemerintah membuat kebijakan yang tegas untuk meramaikan Pasar Baledono. "Jangan lembek, jangan biarkan pedagang di luar pasar bebas berjualan, suruh mereka naik pasar," tandasnya.(Jas) 

BERITA REKOMENDASI