Pertanian Berbasis Energi Surya, Cara Krandegan Merawat Alam

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Terik matahari siang pertengahan Bulan Agustus benar-benar terasa menyengat. Dwinanto tak lagi mempedulikannya. Pria itu tetap saja berdiri di tepi pematang sawah blok Dusun Krajan, Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

“Tengkuk boleh menghitam, tapi yang penting hati ini senang,” batin pria yang menjabat sebagai Kepala Desa Krandegan itu. Dwinanto menyapu pandangan ke sekeliling, hanya sawah kerontang terhampar di depannya. Tidak terlihat satu pun warganya yang beraktivitas di tengah terik seperti itu.

“Alhamdulillah panen padi musim gadu sudah selesai,” katanya lirih. Suara lirih yang lebih mirip gumaman, diikuti senyuman tipis. Hingga tak disadari seorang petani warga Dusun Krajan bernama Nurfuadi (52) berjalan mendekat.

“Pak Lurah, maturnuwun sampun dibantu toya irigasi gratis, menawi mboten kadose panenane kirang sae (‘Pak Lurah terima kasih sudah dibantu air irigasi gratis, jika tidak sepertinya panen padi kurang bagus’),” ujar Nurfuadi. Dwinanto tersenyum mendengar kalimat ucapan yang sering disampaikan petani kepadanya.

Kalimat yang menjadi pertanda bahwa mereka benar-benar menikmati hasil jerih payah pemerintah desa dan para donatur penyokong program mulia bernama Irigasi Gratis itu. “Nggih Pak Nur, alhamdulillah bilih panenane sae (‘Iya Pak Nur, alhamdulillah kalau hasil panennya bagus’),” jawab Dwinanto.

Tak heran jika Nurfuadi sangat berterima kasih dengan Dwinanto atas kinerjanya membuat program Irigasi Gratis. Sebab, memang cukup berat baginya untuk mengolah sawah pada musim kemarau.

Sawah Nurfuadi terjangkau irigasi teknis yang bersumber dari Bendung Jrakah di Sungai Dulang. Tapi letak desa yang berada di hilir irigasi, membuat air kerap tidak sampai dalam jumlah cukup ke sawah warga. Mesin pompa pun menjadi pilihan petani yang menanam padi pada musim kemarau, atau musim tanam kedua dan ketiga.

Nurfuadi mengatakan, pos biaya untuk pengairan sawah memakan porsi yang cukup besar dalam budidaya padi musim kemarau. “Saya mengolah lima ratus ubin atau sekitar tujuh ribu meter persegi sawah, dan pasti butuh pompa kalau ditanami saat musim kemarau,” tuturnya kepada KRJOGJA.com, Kamis (26/08/2021).

Untuk satu musim tanam, Nurfuadi menghabiskan biaya kurang lebih tiga juta rupiah untuk menyewa pompa dan mengisi bahan bakarnya. Akan lebih murah apabila menggunakan pompa milik desa yang volume sedotnya lebih besar. “Tapi karena terbatas, saya pilih menggunakan pompa sendiri, dan menyewa milik kelompok tani atau tetangga,” paparnya.

Beruntung sawah Nurfuadi memiliki produktivitas yang cukup bagus, mencapai lima ton untuk satu musim panen. Namun, keuntungan tetap tidak dapat dimaksimalkan karena ada sebagian penghasilan yang dialokasikan untuk menutup biaya operasional pompa.

Kisah Nurfuadi itu merupakan kenyataan yang dialami seluruh petani padi di Krandegan. Dwinanto paham betul dengan situasi tersebut. Ia membuat terobosan dengan meluncurkan program kemanusiaan untuk membantu petani.

Irigasi Gratis mulai dilaksanakan pada awal 2020. Ia menggalang donasi dari masyarakat Krandegan yang sukses menjalankan usahanya.

Dwinanto mengatakan, operasional program Irigasi Gratis menggunakan sepuluh mesin pompa untuk menyedot air Sungai Dulang, Sungai Jali, dan sumur bor. Air dialirkan lewat saluran irigasi tersier yang sudah ada menuju sawah petani. “Ada kurang lebih tujuh puluh hektare sawah yang terjangkau program tersebut,” tuturnya.

Pada awalnya, program itu benar-benar gratis karena ada donatur yang membantu. Namun ketika petani juga menikmati hasil dengan peningkatan produksi, mereka kemudian diajak membayar zakat dan sedekah dalam bentuk gabah. “Gabah itu disimpan untuk berbagai keperluan sosial, salah satunya mendukung program irigasi,” tuturnya.

Petani Krandegan benar-benar menikmati hasil selama dua kali panen pada musim kemarau. Maka, program Irigasi Gratis harus tetap berjalan karena terbukti meningkatkan kesejahteraan para petani.

Akan tetapi, ada hal yang mengganjal dalam pikiran Dwinanto. Pada akhirnya, tidak mungkin Pemerintah Desa Krandegan terus-menerus mengandalkan donasi pihak ketiga untuk mendukung program tersebut. Seandainya ada donatur pun, Dwinanto berencana mengalokasikannya untuk kegiatan sosial lainnya.

Ganjalan itu pun sudah sejak awal diperkirakan. “Dalam analisis SWOT kami, keterlibatan pihak donatur yang tidak bisa terus-terusan adalah ancaman bagi keberlanjutan program. Tapi sekaligus menjadi tantangan bagi kami, bagaimana program itu kelak harus tetap berjalan apabila sudah tidak ada donasi,” terangnya.

Dwinanto memutar otak untuk mengatasi potensi hambatan tersebut. Ia mencoba membuka komunikasi dengan beberapa akademisi dari sejumlah universitas di Jawa Tengah, salah satunya dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Dwinanto sempat berkomunikasi dengan dosen Fakultas Teknik UNS, Dr Didik Sri Wiyono. Dr Didik, kata Dwinanto, sudah banyak terlibat dalam program digitalisasi Desa Krandegan hingga desa tersebut menjadi viral dan terkenal. “Sayangnya belum sempat mewujudkan solusi untuk kendala yang bakal kami hadapi, Tuhan memanggil beliau. Dr Didik wafat karena terpapar Covid-19 dan kami sangat kehilangan sosok beliau,” tuturnya.

Asa mewujudkan irigasi gratis secara berkelanjutan pun nyaris sirna, hingga tanpa diduga ada sejumlah akademisi Universitas Islam Negeri Syarif Kasim Riau yang menghubungi Dwinanto. Mereka, katanya, mengenal Desa Krandegan lewat media massa. “Mereka ingin dan siap menjalin kerja sama untuk mendukung inovasi yang dikonsep desa,” ucapnya.

Pemerintah Desa Krandegan menangkap peluang tersebut. Terlebih ketika para akademisi menyodorkan konsep pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung pertanian secara berkelanjutan. Energi panas matahari akan dijadikan solusi.

Tim UIN Syarif Kasim yang terdiri atas Dr Kunaifi, Dr Alex Wenda, Zulfatri Aini, dan Ewi Ismarendah bersinergi dengan Pemdes Krandegan. Mereka juga didukung ahli cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II Yogyakarta, Wahyu Anjarjati. Langkah awal yang ditempuh adalah melakukan berbagai kajian.

Hasilnya antara lain pemanfaatan energi surya sangat layak dilakukan di Desa Krandegan. Desa itu memperoleh radiasi matahari dengan nilai rata-rata 4,9 KWh/m2 per hari. Energi matahari pada puncak kemarau akan semakin mengoptimalkan kinerja pompa.

Pemanfaatan sinar matahari untuk sumber energi alternatif merupakan hal yang mulai lazim dilakukan di Indonesia. Sebagai negara tropis yang dibelah garis khatulistiwa, Indonesia mendapat paparan sinar matahari yang cukup panjang setiap tahunnya.

Menurut penelitian berjudul “Beyond 207 Gigawatts: Unleashing Indonesia’s Solar Potential”, yang dilakukan  Institute for Essential Services Reform (IESR) dan  Global Environmental Institute (GEI) potensi teknis Photovoltaik (PV) di Indonesia berkisar antara 16 hingga 95 kali lebih besar dibandingkan dengan perkiraan nasional saat ini, yaitu 207 gigawatt.

Potensi tersebut belum seluruhnya termanfaatkan secara optimal. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan energi surya, antara lain mahalnya investasi awal mengingat sebagian besar komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) masih diimpor dari luar negeri. Perlu ada pembiayaan berbunga lunak dengan jangka pengembalian yang lama.

Kendala tersebut memang persoalan utama yang juga dipikirkan Dwinanto. Namun, apabila ditelaah, nilai manfaat yang akan dirasakan petani dari pemanfaatan energi surya diyakini lebih besar dan berjangka waktu lama.

Dwinanto menjelaskan, pemanfaatan energi matahari untuk menghidupkan pompa diperkirakan akan menurunkan biaya operasional. Berdasarkan perhitungan pemerintah desa yang disinkronkan dengan kajian tim ahli UIN Syarif Kasim, biaya operasional penggunaan pompa berbahan bakar fosil untuk sawah seluas tujuh puluh hektare di Krandegan rata-rata Rp280 juta per musim, atau kurang lebih Rp4 juta per hektare per musim.

Perhitungan tersebut masih menggunakan harga terkini dan belum memperhitungkan apabila terjadi kenaikan harga bahan bakar. “Kalau kelak harga bahan bakar naik, beban petani tentu bertambah berat,” katanya.

Mahalnya biaya hanyalah satu kendala. Masalah lain yang muncul adalah adanya pencemaran gas karbondioksida (CO2) dan karbonmonoksida (CO). Bahan bakar minyak juga kerap tercecer sehingga mencemari tanah di sekitar pompa.

Pemanfaatan energi surya, kata Dwinanto, memang membutuhkan biaya mahal. Dalam Proposal Proyek Irigasi Tenaga Surya di Desa Krandegan, Purworejo yang dibuat oleh tim ahli UIN Syarif Kasim dan ahli dari BMKG Kelas II Yogyakarta, besaran investasi yang dibutuhkan mencapai Rp1,29 miliar. Namun, instalasi tersebut dapat dimanfaatkan selama 20 – 25 tahun.

Ada kurang lebih sepuluh pompa yang digerakkan arus listrik DC yang akan dimanfaatkan untuk mengairi sawah di Krandegan. Pompa disebar di lima titik pengambilan air sesuai dengan areal sawah sasaran, yakni di tepi Sungai Dulang, Sungai Jali, dan sumur bor.

Berdasarkan hasil kajian dan pendampingan tim ahli, Pemerintah Desa Krandegan semakin mantap untuk mewujudkan asa pertanian ramah lingkungan berbasis energi surya. “Kami bersama tim langsung bergerak memaparkan konsep pertanian ramah lingkungan itu ke beberapa pihak, antara lain Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Purworejo, dan pihak swasta,” paparnya.

Gayung pun bersambut. Pemprov Jateng menanggapi positif paparan yang disampaikan Pemerintah Desa Krandegan. Bahkan, pemprov berencana membiayai salah satu paket pompa air tenaga surya yang memiliki jangkauan terluas, yakni lima puluh hektare, dengan nilai pembiayaan Rp600 juta. “Menurut pemprov rencana tersebut akan masuk dalam daftar usulan anggaran tahun 2022,” katanya.

Tim teknis di desa juga mulai membuat purwarupa mesin pompa bertenaga surya. Mereka akan mengikutsertakan inovasi itu dalam kompetisi Krenova 2021 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Purworejo. Pengerjaan instalasi itu sudah selesai sekitar delapan puluh persen.

Pemerintah Kabupaten Purworejo pun menanggapi positif konsep yang sedang dikembangkan di Desa Krandegan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Purworejo Bambang Jati Asmara mengemukakan, ide kreatif masyarakat Desa Krandegan yang didukung para ahli dapat direplikasi di desa lain.

Menurut Bambang, Kabupaten Purworejo berpotensi menjadi lokasi pengembangan listrik tenaga surya. Ada banyak kawasan terbuka di wilayah itu yang dapat dimanfaatkan untuk instalasi.

Pemerintah kabupaten menilai tenaga surya tidak hanya dapat dimanfaatkan para petani padi. Namun energi itu diyakini akan mampu menekan biaya produksi dalam budidaya udang vanamei dan produksi garam. “Petambak udang selalu butuh solar untuk menghidupkan kincir air atau pompa. Sama halnya dengan pembuat garam, mereka butuh bahan bakar untuk menyedot air laut untuk dimasukkan dalam kolam penampungan,” terangnya.

Berdasarkan penuturan petambak udang, mereka mengoperasikan dua kincir air dan satu pompa untuk setiap bidang tambak. Kincir digerakkan dua mesin diesel berbahan bakar solar dengan kebutuhan mencapai 1.700 liter per musim budidaya.

Kebutuhan solar tinggi karena kincir harus digerakkan sepanjang waktu untuk menjaga agar udang tetap sehat. Tingkat kebutuhan solar itu berbeda dengan kebutuhan premium atau pertalite yang hanya sekitar 160 liter per musim budidaya. Pompa berbahan bakar premium hanya dipakai untuk menyedot air ketika proses pengisian tambak. “Jika dirupiahkan bisa lebih dari Rp9 juta untuk kebutuhan satu musim budidaya. Apabila teknologi ramah lingkungan itu bisa diterapkan pada budidaya udang, tentu akan sangat menolong petambak,” tegasnya.

Pemerintah kabupaten pun siap memfasilitasi inovasi masyarakat selama memiliki manfaat yang besar untuk peningkatan kesejahteraan. “Temuan sudah ada, tinggal menyempurnakan desain. Kami akan mendukung termasuk membantu sosialisasinya. Harapan kami, pemanfaatan energi terbarukan itu tidak berhenti di Krandegan saja, tapi bisa ditularkan ke desa-desa lainnya,” ungkapnya.

Pemanfaatan energi ramah lingkungan memang sudah seharusnya menjadi keniscayaan. Dwinanto paham betul bahwa sumber daya yang melimpah dan murah, adalah harapan bagi setiap masyarakat. Setidaknya, mereka yang selama ini sudah menikmati irigasi gratis, dapat terus merasakan manfaatnya sampai anak cucunya kelak.

Terlebih, energi terbarukan itu sekarang ini memang belum termanfaatkan secara optimal. Bahkan, dalam perencanaannya pun, cahaya mentari yang didapat gratis setiap hari sepertinya belum menjadi pilihan utama.

Mengutip kajian dalam “Beyond 207 Gigawatts: Unleashing Indonesia’s Solar Potential”, PLTS belum menjadi prioritas dalam perencanaan sistem tenaga yang tercantum pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019 – 2028. PV surya hanya menyumbang sebesar 1,6 persen atau 908 MW dari total 56,4 GW penambahan kapasitas daya yang direncanakan.

Terlepas dari hal tersebut, Dwinanto bersama warga dan tim pendampingnya akan tetap bergerak mewujudkan asanya, yakni membangun pertanian ramah lingkungan sekaligus merawat alam dengan memanfaatkan energi surya. Mereka meyakini bahwa semangat, keyakinan, usaha, dan doa, adalah 99 persen kesuksesan, dan satu persennya adalah takdir Yang Mahakuasa. (Jas)

BERITA REKOMENDASI