Petani Lereng Sumbing Tanam Ubi Jalar, Ini Alasannya

MAGELANG, KRJOGJA.com – Petani tembakau di lereng gunung Sumbing wilayah Kecamatan Windusari Kabupaten Magelang beralih budi daya ubi jalar
karena dinilai lebih menguntungkan dibanding budi daya tanaman
tembakau.

Seorang petani Toyani (54) mengatakan budi daya ubi jalar dijalani
dalam beberapa tahun terakhir, jenisnya Cilembu dan Manohara. Ubi
jalar berdasar praktek di lapangan lebih menguntungkan. Namun, diakui
petani belum bisa meninggalkan budi daya tembakau.

"Sebagian kecil lahan masih ditanami tembakau. Dahulu semua lahan
ditanami tembakau," kata pria yang juga Kades Windusari itu, Minggu
(27/1).

Dia mengemukakan dalam satu lahan luasan 1000 meter persegi dapat
menghasilkan sekitar Rp 1 juta. Dalam satu tahun bisa tiga kali tanam.
Bila ditanami tembakau menghasilkan separuhnya sudah bagus. Ubi jalar
ini diambil pengepul untuk yang kualitas ekspor. Sedangkan kualitas
biasa dijual ke pasar. " Petani di Desa Windusari sudah banyak yang
tanam ubi jalar, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga bergerak di ubi
jalar," katanya.

Pedagang Miftah mengatakan mengekspor ubi jalar Cilembu atau Manohara ke Singapura sekitar 1 ton per dua minggu. Tetapi sebenarnya berapapun ubi jalar yang dikirim pasti terserap, sebab pangsa pasar
masih terbuka lebar. " Ubi jalar dari Windusari kualitasnya bagus dan disukai. Kami pun mendorong petani untuk bertanam ubi jalar. Petani lantas menanamnya, karena hasilnya lebih menguntungkan," katanya. (Osy)

BERITA REKOMENDASI