Potensi Garam Pantai Selatan Purworejo Dikembangkan

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Wasit Diono menuturkan, produksi garam dilakukan dengan memanfaatkan lahan bekas tambak udang. Pembuatannya menggunakan sistem tunnel.

Dikatakan, pengenalan produksi garam dengan sistem tunnel dilakukan sejak tahun 2018 oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal bekerjasama dengan DPPKP Kabupaten Purworejo. Penggaraman sistem tunnel, katanya, merupakan metode baru yakni model tertutup dengan lahan terasering.

Penerapan model tertutup bertujuan agar produksi garam bisa berlangsung sepanjang tahun, walaupun musim hujan. Meski berada dalam ruang yang tertutup plastik, tetap ada panas sehingga proses kristalisasi dapat terjadi.

Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat agar air dapat mengalir kapan saja dengan gaya gravitasi. “Sistem pembuatan garam ini secara organik, tidak menggunakan bahan kimia tambahan, serta ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya,” paparnya.

Wasit menjamin air laut minim cemaran yang diproses dengan sistem tunnel, mampu menghasilkan garam dengan kualitas bagus. “Hasil produksi garam laut selatan dengan kualitas bagus, warna putih bersih, dengan kadar NaCl 97,49 persen. Kandungan garam pantai selatan Purworejo itu sudah diteliti Sucofindo Semarang dan layak masuk ke sektor industri,” ungkapnya.

Petani garam Purworejo mampu memproduksi 2,2 ton garam pada Januari 2021 dan naik menjadi 3,1 ton pada bulan Mei. Garam krosok itu dijual dengan harga Rp 2.500 perkilogram, Rp 4.000 perkilogram, dan Rp 5.000 perkilogram.(Jas)

BERITA REKOMENDASI