Program Pengembangan Desa Wisata Dicermati

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Program Pengembangan Desa Wisata mendapat pencermatan dari anggota DPRD sebab ada yang terkesan dipaksakan dan yang punya potensi wisata justru belum tersentuh. Sedang Desa wisata yang terencana dapat meningkatkan kesejahteraan warga.

Anggota Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Temanggung Chakiem Harmoko mengatakan program pengembangan desa wisata sangat bagus dan pihaknya mendukung, namun harus cermat dan sesuai potensi.

"Banyak desa yang tidak mempunyai potensi terlalu memaksakan membangun destinasi wisata yang ahkirnya hanya sesaat dikunjungi selanjutnya sepi pengunjung," kata Chakiem, Kamis (31/10/2019).

Dia berharap agar Pemerintah Kabupaten Temanggung mendampingi desa yang mempunyai potensi wisata untuk membuat master plan atau perencanaan yang tentunya berdasar pada kondisi lapangan. Yakni apakah layak sebagai desa wisata atau tidak.

Setelah terbentuk desa wisata, katanya, maka Pemerintah Kabupaten dapat mempromosikan dengan membuat Paket Wisata dengan pelayanan yang profesional sehingga harapan untuk menjadikan desa wisata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah dapat terwujud.  

Bupati Temanggung Al Khadziq mengatakan desa wisata sebagai salah satu penopang wisata di Temanggung, dengan pengelolaan yang bagus akan berdampak pada tingkat kunjungan yang tinggi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. " Kami akan dampingi pengelolaan desa wisata, Desa wisata harus mendasarkan kearifan lokal," katanya.

Dikatakan di Kabupaten Temanggung ada tren pengalokasian dana desa untuk membuat obyek wisata, namun pihaknya tetap memberikan masukkan agar disesuaikan dengan potensi, dan perlu penguatan kelembagaan. 

Sementara itu, Desa Rejosari Kecamatan Bansari mengalokasikan Dana Desa untuk membangun kawasan eduwisata Sindoro Waterpark pada lahan seluas 5550 meter persegi di kaki Gunung Sindoro dengan ketinggian 1050 meter dari permukaan laut (mdpl). 

Kepala Desa Rejosari, Teguh Rahayu, mengatakan pembangunan kawasan eduwisata menelan dana Rp 5,8 miliar dengan memanfaatkan tanah kas desa yang tidak produktif. Pembangunan mulai 2018 dengan membangun waterpark untuk anak-anak, senilai Rp 500 juta. 

"Proyek akan selesai sempurna dalam beberapa tahun ke depan, dengan memanfaatkan dana desa dan pendapatan dari obwis tersebut, sembari mengatakan pemasukkan dari waterpark sudah mencapai rata-rata Rp 15 juta per bulan," kata Teguh. 

Dikatakan pada tahun depan selain dari dana desa, pembangunan kawasan eduwisata akan dibantu Dinas Pariwisata senilai Rp 500 juta, dari Provinsi Jateng Rp 195 juta.
 
Seorang warga Wahini (43) warga Desa Rejosari mengatakan ekonomi keluarga terbatu dengan keberadaan Sindoro Waterpark. Dalam sehari pendapatan Rp 200 ribu per hari dari menjual sayuran, gorengan, kopi, dan makanan tradisional. "Saya sekarang konsentrasi mengurus warung," katanya.(Osy)

BERITA REKOMENDASI