Puluhan Mitra Program Ngingu Domba Tarik Surat Tanah

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJa.com – Puluhan mitra program Ngingu Bareng Domba Koperasi Konsumen Induk UMKM Indonesia (KOIN) Kabupaten Purworejo menarik surat tanah berupa sertipikat dan letter C yang dititipkan di kantor koperasi. Para mitra mengambil surat tanah karena ingin mengamankan aset di tengah polemik yang membelit program budidaya kambing dengan sistem kemitraan itu.

Para mitra hadir ddidampingi sejumlah koordinator kecamatan, kuasa hukum mitra Kunto Wibisono SH, dan Ketua LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Hariyadi. “Kami datang untuk membuktikan pernyataan pihak KOIN saat audiensi di DPRD Purworejo, bahwa mitra boleh mengambil sertipikat atau letter C yang dititipkan, tanpa dipersulit,” tutur Kunto Wibisono.

Proses pengambilan sertipikat di kantor KOIN Purworejo di Jalan Gajah Mada Candisari Banyuurip itu berlangsung cepat hanya hanya empat bidang. Sementara untuk letter C, sebanyak 50 berkas ditarik para mitra.

Pengambilan surat tanah itu diwarnai dengan audiensi. Mereka diterima oleh Manajer Kemitraan KOIN Purworejo Nanang Suwito. Dalam audiensi, mereka mempertanyakan berbagai persoalan terkait kepastian waktu pengisian domba.

Menurut Kunto, pengambilan sertipikat dan letter C bukan berarti mereka mundur dari kemitraan yang dijalin dengan KOIN Purworejo. “Hanya demi keamanan aset di tengah gonjang-ganjing program Ngingu yang tak kunjung ada kejelasan. Kami juga tetap mendukung program itu, selama pihak terkait dalam hal ini pemerintah, membantu mengawasi, sehingga KOIN Purworejo dapat melengkapi semua yang diatur dalam perundang-undangan yang berlaku di Purworejo,” tegasnya.

Kunto juga mengingatkan pihak KOIN Purworejo yang dinilai kerap membingungkan, bahkan terkesan menyalahkan mitra. “Kami tadi meluruskan dengan klarifikasi dan mengingatkan kepada KOIN, agar tolong para mitra ini tidak dibebani dengan bahasa penekanan, intimidasi maupun kesalahan, apapun bentuknya. Kami sudah memiliki bukti-bukti tersebut,” terangnya.

Sementara itu, Nanang Suwito menegaskan, penarikan letter C dan sertipikat bukan merupakan bentuk pengunduran diri mitra. “Benar ada pengambilan sertipikat dan letter C. Mereka memohon untuk mengambil letter C asli atau salinan letter C dari desa, tapi tidak mengundurkan diri,” ungkapnya.

Ditambahkan, tidak semua mitra mengumpulkan salinan berstempel basah. Sebagian mengumpulkan fotokopi yang dilegalisir pemerintah desa. “Jadi bukan kami menahan yang asli, tapi saat mengajukan ada yang sudah foto kopi,” jelasnya.

Tidak ada konsekuensi atau biaya khusus akibat pengambilan sertifikat. Namun, katanya, berbeda jika para mitra mengundurkan diri.

“Kalau mengundurkan diri bagi mitra yang kandangnya sudah dibangun pasti ada hitung-hitungannya karena itu aset kontraktor yang belum diserahkan ke kami,” tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI