Puncak Khayangan Sigendol, Spot Baru Wisata Purworejo

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Semangat warga membangun tempat atau objek wisata (Obwis) di Kabupaten Purworejo terus menggelora. Desa-desa yang memiliki potensi alam berpacu dengan menyediakan berbagai fasilitas agar bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Giyombong Kecamatan Bruno membangun Obwis baru dengan memanfaatkan alam pegunungan yang ada di wilayah desa setempat. Obwis baru ini diresmikan Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti SH.

”Obwis ini sudah dikenal dengan Puncak Khayangan Sigendol,” kata Ketua Pokdarwis 2 Desa Giyombong Santo, Jumat (22/09/2017).

Posisi Puncak Khayangan Sigendol di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) memiliki kesejukan udara yang sangat menyenangkan untuk dinikmati. Hamparan perbukitan hijau menjadi suguhan tersendiri bagi pengunjung untuk menikmatinya. ”Dari puncak ini pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah dan sejuk,” jelas Santo.

Untuk membangun Obwis ini menurut Santo, membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan hingga wisata alam Puncak Khayangan Sigendol dapat diresmikan. Berbagai fasilitas yang dibangun menggunakan dana desa.

”Kami sudah menghabiskan dana sekitar Rp 25 juta. Kami mengajukan Rp 60 juta lagi untuk membangun infrastruktur lainnya,” paparnya.

Dari Puncak Khayangan Sigendol ini pengunjung dapat menikmati pemandangan sekaligus selfie dengan adanya beberapa spot yang telah disediakan. Di antaranya, perahu jomblang anom dan tebing Matahari.

Pihak Pokdarwis masih akan terus mengembangkan kawasan wisata ini dengan membangun beberapa spot lagi. ”Yang masih kami proses ada hutan bambu, area perkemahan dan golden sunrise,” jelasnya.

Diakui, Puncak Khayangan Sigendol ini masuk kawasan Perhutani KPH Kedu Selatan. Namun sudah terjalin kerja sama bagi hasil dari tiket masuk. ”Kami berharap dengan adanya Obwis alam ini Desa Giyombong bisa lebih maju,” ungkapnya.

Kerja sama yang dibangun dengan Perhutani ini dengan sistem bagi hasil, di mana 70 persen pemasukan untuk desa dan 30 persen untuk Perhutani. Setiap pengunjung dikenakan retribusi Rp 5.000 dan parkir kendaraan Rp 2.000. (Nar)

BERITA REKOMENDASI