Purworejo Masuk Radar Investasi

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Kabupaten Purworejo masuk dalam radar investasi. Sejumlah perusahaan berskala menengah hingga besar, mulai melirik wilayah tersebut sebagai calon lokasi untuk menanamkan modal.

Keberadaan tiga proyek nasional yakni Bandara Internasional Yogyakarta (BIY), Badan Otorita Borobudur (BOB) dan Bendungan Bener, dinilai menjadi magnet investasi Purworejo. Calon investor berskala besar yang berminat ke Purworejo antara lain Grup Bakrie. Manajemen perusahaan nasional itu telah datang ke Purworejo untuk penjajakan bisnis.

"Purworejo sekarang berbeda, sudah menjelma jadi kabupaten yang seksi untuk investasi. Tiga proyek besar menjadi faktor penariknya," tutur Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (Din PMPTSP) Kabupaten Purworejo Widyo Prayitno, kepada KRJOGJA.com, Senin (21/10/2019).

Menurutnya, situasi kondusif sangat dibutuhkan agar investor mau datang ke Purworejo. Widyo menilai, Purworejo dalam kondisi yang aman dan tenteram, sehingga menumbuhkan iklim investasi yang baik. "Memang baru-baru ini ada gesekan antara investor dengan oknum warga, seperti persoalan di Wonosari Ngombol, namun itu hanya kasuistik saja. Secara umum iklim Purworejo sangat kondusif dan aman untuk investasi," ungkapnya.

Persoalan antara investor dengan oknum warga di Desa Wonosari terjadi ketika PT Jakarta Kencana Baru (JKB) yang memproduksi beton readymix dengan beberapa warga setempat. Investor tersandung terkait lahan yang sudah dibeli sesuai prosedur.

Manajer Legal PT JKB Budi Santoso mengatakan, pemerintah desa dan hampir seluruh warga, merespons positif. "Mulai awal sosialisasi hingga sekarang, masyarakat memberikan dukungan. Hanya ada segelintir orang yang ingin membuat suatu kegaduhan yang tidak diinginkan," terangnya.

Persoalan tersebut, katanya, ditandai dengan munculnya oknum warga yang menanami jagung di lahan yang dibeli perusahaan dan telah bersertipikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama PT JKB. Tanah seluas kuranglebih 7.000 meter persegi itu dibeli dari sejumlah petani pemegang sertipikat.

"Saat kami beli, pihak BPN melakukan pengecekan dan tidak ada masalah, selanjutnya dibuat akta jual beli, penurunan hak, dan sekarang objek tanah sudah bersertipikat HGB," paparnya.

Budi heran ketika tiba-tiba ada warga yang menanami lahan tersebut tanpa izin PT JKB. Padahal, katanya, selama belasan tahun dipegang pemilik lama, lahan itu tidak terkelola dengan baik. Namun, lanjutnya, perusahaan tidak arogan dan memberi kesempatan petani memanen jagungnya.

"Tetapi setelah diberi kesempatan itu, bukannya berhenti, mereka justru akan menanam bibit kakao di tanah HGB. Terus terang kami keberatan, karena perusahaan ingin investasi dalam iklim yang kondusif," tegasnya.

Perusahaan melaporkan persoalan itu ke Polres Purworejo dan ditindaklanjuti. Perusahaan dan warga yang mempersoalkan hak tanah juga melakukan mediasi, didampingi pihak BPN, polisi, dan pemerintah desa.

Kaur Tata Usaha Desa Wonosari Pancer Widodo mengatakan, tanah yang dibeli PT JKB tersebut memiliki riwayat yang benar menurut buku administrasi desa. "Tanah itu dibeli dan menjadi PT JKB melalui tahapan yang benar," katanya.

Terpisah, Kepala Dusun I Wonosari, Sujari menegaskan, hampir seluruh warga menyambut positif kehadiran investor di desanya. Warga, lanjutnya, berharap perusahaan itu menyerap tenaga kerja dari penduduk Wonosari. Selain itu, dampak lingkungan dari keberadaan perusahaan, kata Sujari, dinilai kecil.

"Perusahaan mengolah bahan dari luar, bukan menambang di Wonosari. Mereka juga sudah mempekerjakan beberapa warga, padahal perusahaan belum beroperasi," tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI