Putusan Sudah Tetap, Kejari Purwokerto Musnahkan Narkoba Hingga Miras

PURWOKERTO, KRJOGJA.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto, Senin (1/12/2019) memusnahkan sejumlah barang bukti perkara pidana yang disita dari 50 terdakwa dalam kurun waktu bulan Agustus hingga Desember 2019. Pemusnahan barang bukti itu dengan cara dibakar dan digilas di halaman belakang kantor Kejari Purwokerto.

Kepala Kejari Purwokerto Lidya Dewi SH MH yang memimpin pemusnahan barang bukti  perkara pidana menjelaskan, barang bukti yang dimusnahkan terdiri  1.030 botol minuman keras berbagai merek, 58,52 gram ganja,23,16 16 gram tembakau gorila, 12.62 gram sabu sabu, 831 butir obat daftar G, satu senpi mainan, 31 lembar uang palsu, 103 dus kosmetik ilegal, dua pohon ganja.

"Barangbukti yang dimusnahkan sudah ada putusan tetap dari pengadilan," kata Lidya Dewi. Menurutnya barang bukti tersebut berasal dari 50 terdakwa yang perkaranya di tangani Kejari Purwokerto.

Sebelumnya pada bulan Juli lalu, Kejari Purwokerto, juga sudah memusnahkan barang bukti. Dalam pemusnahan barang bukti itu disaksikan oleh Kapolresta Banyumas AKBP Whisnu Caraka,Kepala BNN Kabupaten Banyumas, Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dan Kepala Rubasan Purwokerto.

Dalam catatan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Heru Winarko menyebutkan, ada peningkatan peredaran narkoba selama tahun 2019 dari tahun sebelumnya sebesar 0,03 persen. Pengguna paling banyak berusia 15 hingga 65 tahun dan menembus angka tiga juta orang.

"Jadi narkoba ini bukan hanya di Indonesia ya, di seluruh dunia hampir sama. Tapi di Indonesia kita meningkat 0,03 persen. Lebih kurang jumlahnya 3.600.000 yang menggunakan (narkoba) di Indonesia ini," kata Heru.

Heru menjelaskan, sejauh ini jenis narkoba yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah ganja. Pengguna ganja mencapai 63 persen.

"Memang kalau untuk ini nanti langkah langkah kita, kenapa kita meningkat, pertama yang paling banyak menggunakan 63 persen adalah jenis ganja," kata Heru.

Oleh karena itu, BNN saat ini tengah fokus membabat habis ladang ganja di Aceh dan kawasan lainnya.

"Jadi kita sekarang fokus, di Aceh di beberapa daerah pemusnahan lahan lahan ganja kita lakukan," tegas Heru.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menambahkan, ada berbagai macam cara penyelundupan narkoba.

"Kalau jaringan lokalnya itu bisa macam-macam, kalau lokal biasanya di daerah tujuan penyelundupan, di daerah pemasaran atau marketnya, Kalimantan kolaborasi dengan Sulawesi, tetapi juga berkolaborasi dengan sindikat yang ada di Sumatera dan juga sangat memungkinkan untuk menyebar terus ke Jawa Timur dan Jakarta," bebernya.

Sedangkan sindikat internasional, sumber barang narkoba banyak dari Myanmar, Laos, dan Thailand, walaupun masuknya biasanya tetap transit Malaysia.

"Nah dari sini sudah jelas kita lihat bahwa sindikat yang terlibat terdiri dari beberapa kebangsaan dan kalau kita lihat dari sumber barangnya maka juga mereka berada di teritorial beberapa negara, dan memang narkotika itu tidak pernah ada satu negara saja yang terlibat kalau dia sudah sindikat internasional," kata Arman.(Dri)

 

BERITA REKOMENDASI