Rapuh, Plafon Ruang Guru SMPN 30 Ditopang Kayu

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Atap ruang guru di SMPN 30 Purworejo rapuh dan dinilai membahayakan aktivitas di bawahnya. Pihak sekolah menopang plafon ruangan itu menggunakan dua batang kayu. Kerusakan itu tidak sampai mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Kerusakan terjadi sejak beberapa tahun terakhir. "Namun setahun ini kami topang dengan batang kayu, kami khawatir atap runtuh saat musim hujan," kata Kepala SMPN 30 Purworejo Adib Wijayanto, menjawab pertanyaan KRJOGJA.com, Rabu (04/12/2019).

Bangunan tersebut didirikan pada tahun 1991 bersamaan dengan berdirinya sekolah. Sejak dibangun, gedung yang dimanfaatkan untuk ruang guru, tata usaha, ruang kepala sekolah, dan ruang arsip itu belum pernah mendapat bantuan renovasi. Beberapa bagian rangka kayu sudah patah.

Rapuhnya bangunan menyulitkan perawatan sejumlah ruangan itu. Tidak ada penjaga atau pekerja bangunan yang berani naik ke atap untuk melakukan perbaikan ringan, karena khawatir akan runtuh. Padahal, belum diketahui apakah atap bocor atau tidak ketika musim hujan tiba.

Kondisi itu, katanya, bukan karena pemerintah tidak memperhatikan sekolah. Pemerintah kerap mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk merehabilitasi ruangan. Sekolah telah melaporkan dan mengusulkan perbaikan ruang guru kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Purworejo.

Namun, ruangan yang menjadi sasaran program rehab adalah ruang kelas dan sanitasi sekolah. Ruang guru, kepala sekolah, dan tata usaha masuk kategori ruang lain, sehingga tidak bisa mendapat alokasi DAK. "Tahun ini kami dapat DAK untuk rehabilitasi dua ruang kelas, tapi bisa dikatakan cukup sulit kalau mau mengakses bantuan rehab ruang guru, karena dianggap ruangan lain," tuturnya.

Kepala sekolah berencana merelokasi sementara aktivitas guru ke ruang keterampilan ketika musim hujan tiba. "Sementara nanti kami pindah ke ruangan lain, ruang guru sekarang dikosongkan," ujarnya.

Guru Matematika SMPN 30 Purworejo Yohana Istanti mengaku khawatir dengan kondisi ruang tempatnya bekerja. Kekhawatiran bertambah apabila memasuki musim hujan. Sebanyak 44 guru dan pegawai tata usaha, beraktivitas di dalam kompleks bangunan itu. "Khawatir atapnya runtuh, tapi untungnya bukan ruang kelas, sehingga anak-anak tetap nyaman dan tidak terganggu belajarnya," ucapnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI