Sadranan Lemeng, Warga Giring Bebek

Editor: KRjogja/Gus

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Sadranan Lemeng digelar warga Desa Purwosari Kecamatan Kranggan Temanggung untuk menanamkan cinta pada alam lingkungan agar tetap asri pada generasi penerus, Jumat (18/10). Ritual ditandai dengan digiringnya bebek putih oleh sesepuh desa menyusuri sungai yang menjadi irigasi pertanian. Bebek tersebut menyusuri sungai sejauh sekitar satu kilometer. Puluhan warga, yang berpakaian tradisional, mengikuti di belakang sambil memungut sampah non organik, untuk kemudian dikumpulkan dan diproses daur ulang.

Usai digiring sampai hulu, bebek kemudian diangkat dan disembelih yang dipimpin tokoh agama. Sementara itu kaum ibu dan remaja putri menyiapkan bumbu tradisional untuk di lemeng. Bumbu antara lain berupa bawang, campuran rempah-rempah dan daun ketela. Lemeng sendiri dalam bahas umum dikenal dengan dibakar menggunakan bumbung bambu jawa.

Setelah masak, daging bebek tersebut ditempatkan terpisah antara kepala, kaku dan badannya untuk kemudian diletakkan dibeberapa tempat disepanjang irigasi. Sedangkan makanan yang dibawa dari rumah, di santap bersama. Tidak lupa mereka juga menyantap bebek yang dimasak lemeng tersebut.

Tokoh Masyarakat Karno Budianto mengatakan Sadranan Lemeng sebagai wujud cinta pada alam lingkungan terutama menyelematkan alam lingkungan sehingga terjauh dari malapetaka, seperti banjir, longsor dan pencemaran. Air yang mengalir di saluran irigasi tetap bersih, jernih sehingga hasil panen dari hasil pertanian tetap baik dan berkualitas.

"Kami berdoa pada Tuhan, dengan warga mencintai alam lingkungan, alam pun memberikan yang terbaik pada warga Purwosari. Hasil pertanian baik demikian juga dengan hasil peternakan," katanya, sembari menyebutkan bebek sebagai simbol ternak yang menyukai alam lingkungan dan dipelihara sebagian besar warga.

Dikatakan sadranan sebagai kegiatan budaya dan wisata, serta sosialisasi cinta alam semesta. Sebab dengan cinta alam semesta dapat menyelamatkan umat manusia. Ritual sekaligus untuk Camat Kranggan Tri Harjo mengatakan ritual dapat dikemas untuk pengembangan wisata desa dan penanaman kearifan lokal seperti kebersamaan, kegotongroyongan, saling menghormati dan mengingat pada jasa leluhur.

"Kegiatan ritual di desa-desa di kecamatan Kranggan diharapkan semakin baik dan menjadi aset budaya serta wisata," katanya. (Osy)

 

BERITA REKOMENDASI