Satu Pasien DBD di Purworejo Meninggal, PSN Digencarkan

Editor: Agus Sigit

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Seorang pasien perempuan dengan diagnosa demam dengue (DD) atau Demam Berdarah (DBD) meninggal dunia dalam perawatan dokter di Puskesmas Maron, Kecamatan Maron, Kabupaten Purworejo. Dinas Kesehatan (Dinkes) Purworejo merekomendasikan peningkatan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Desa Trirejo Kecamatan Loano, yang merupakan tempat tinggal pasien tersebut.

Kematian pasien tersebut dinilai mengagetkan karena secara umum kondisi fisiknya bagus. “Hasil pemeriksaan suhu tubuh tidak naik, tekanan darah dan pernafasan bagus, tidak ada perdarahan atau ‘Dengue Shock Syndrome’ (DSS) seperti serangan khas DBD. Bahkan komunikasinya juga baik, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain,” ungkap Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Purworejo dr Darus, mewakili Kadinkes dr Sudarmi, kepada KRJOGJA.com, Selasa (18/2).

Hasil tes laboratorium menyimpulkan terdapat virus Dengue dalam darah pasien tersebut. Trombosit dalam darah juga mencapai 40.000, turun di bawah kadar normal 150.000 – 400.000. Namun, lanjutnya, kondisi itu belum masuk kriteria demam berdarah dengue (DBD) karena sesuai keputusan komisi ahli, kadar hematokrit atau perbandingan kandungan sel darah merah dalam darah dengan volume keseluruhan darah, masih di bawah 20 persen.

Pasien itu meninggal pada Minggu (16/2) setelah sehari mendapat perawatan di puskesmas. Beberapa hari sebelumnya, perempuan yang berprofesi sebagai pedagang makanan di kompleks Jalan Kemuning Purworejo itu mengeluhkan gejala demam. “Sampai akhirnya dibawa ke puskesmas dan dirawat inap. Tidak dirujuk karena kondisinya bagus, tidak ada gejala kedaruratan yang mengharuskan pasien dibawa ke rumah sakit yang lebih besar,” tuturnya.

Dinkes menindaklanjuti peristiwa itu dengan penyelidikan epidemologi di lingkungan tempat tinggal pasien. Tim dinkes menemukan adanya jentik nyamuk aedes aigepty dan meminta masyarakat untuk menggencarkan PSN rutin dan intensif. Puskesmas juga berencana melakukan pengasapan di lokasi tempat tinggal pasien.

Kendati demikian, belum bisa dipastikan apakah pasien digigit nyamuk di lingkungan rumah atau di lokasinya berjualan. “Pasien ini berangkat pagi buta dan pulang petang, bisa saja tidak digigit nyamuk di lingkungan rumah, melainkan di tempatnya berjualan. Memang ada satu yang diduga terkena DD, tapi masih kami pelajari apakah telah terjadi penularan setempat atau tidak,” terangnya.

Kasus DD dan DBD di Kabupaten Purworejo meningkat memasuki puncak musim hujan. Dinkes mendata, sepanjang Januari – Februari 2020, terdapat 150 pasien DD dan 19 diantaranya dinyatakan positif DBD. Seluruh pasien, lanjutnya, mendapat perawatan layak dari tim dokter dan sebagian dinyatakan sembuh. (Jas)

 

BERITA TERKAIT