Sekeluarga Mudik Jalan Kaki ke Yogyakarta

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Keluarga Mukti (60), warga Bekasi Jawa Barat ini memiliki cara yang tidak biasa untuk pulang mudik ke kampung halaman. Mukti bersama istrinya, Euis (52) dan si bungsu Rohman (10), jalan kaki dari Bandung menuju Yogyakarta. Cara luar biasa ini bukan karena keluarga itu tidak mampu, namun mereka punya misi.

Mereka telah menempuh perjalanan selama 16 hari dan sampai di Kutoarjo Kabupaten Purworejo pada H – 3 atau Kamis (22/06/2017). Ketiganya membersihkan diri dan salat di Masjid Agung Kutoarjo, kemudian istirahat di alun-alun Kutoarjo.

Mukti mengatakan, perjalanannya ke Yogyakarta diawali dari rumah mereka di Bekasi. "Kami naik kereta sampai Rancaekek Bandung, lalu lanjut jalan kaki lewat jalur selatan," kata guru les musik privat itu, kepada KRJOGJA.com.

Mereka memutuskan jalan kaki karena memang terbiasa menjadi musafir. Mukti kerap bersama keluarganya pergi ke beberapa kota dengan berjalan. Kepulangan ke Lempuyangan Yogyakarta dengan jalan kaki pada lebaran tahun ini juga bukan kali pertama.

Keputusan mudik dengan berjalan kaki karena Mukti dan keluarganya ingin belajar berbagai hal tentang kehidupan. "Untuk mencari jatidiri, untuk apa sebetulnya kita hidup, mengapa Allah menciptakan manusia. Cara seperti ini membuat kami berpikir bahwa kita sering terjerat sifat sombong, padahal semua itu milik Allah," ucapnya.

Selain itu, Mukti ingin mengajarkan anak-anaknya untuk prihatin. Mereka juga mendapat pelajaran tentang kebesaran Tuhan dengan melihat berbagai ciptaan-Nya. Rohman sudah tiga kali lebaran ikut mudik jalan kaki dengan orang tuanya.

Jangan bayangkan dalam perjalanan itu, mereka membawa banyak uang saku. Bekal mereka seadanya. Namun tidak ada raut wajah lelah atau terucap keluhan dari keduanya, bahkan Rohman sekalipun. Mereka menapaki aspal panas Bandung – Kutoarjo dengan penuh semangat.

Mukti meyakini, Tuhan akan menjaga keluarga sepanjang mereka memiliki keyakinan yang kuat. Kenyataannya, mereka tidak menemui kendala berarti sepanjang perjalanan. Bahkan selama perjalanan, mereka baru tiga kali batal puasa. (Jas)

BERITA REKOMENDASI