Seni Tradisional Dolalak Kehilangan Pakem

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Kesenian khas Kabupaten Purworejo, Dolalak yang selama ini dibanggakan sebagai kesenian tradisional asli Purworejo, kini mulai bergeser dari pakem. Bahkan dalam setiap pentas, kesenian ini justru mengedepankan seni popular, yang berbalut dangdut dan campur sari dengan alasan permintaan pasar.

“Itu yang terjadi di masyarakat. Arah kesenian Dolalak sudah tidak jelas. Jauh melenceng dari pakem sebagai kesenian tradisional,” kata penggiat seni tradisional Purworejo Sumarnoso, Selasa (6/2/2018).

Dalam setiap pentas Kesenian Dolalak lanjut Sumarsono, musik khas  seperti bedug, terkadang hanya sebagai pajangan, yang dimainkan justru gitar dan organ, yang dalam kesenian tradisional Dolalak sebenarnya tidak ada.

“Otomatis penarinya juga keluar dari pakem. Sehingga jangan heran jika pentas dolalak, tapi penarinya berjoged ala dangdut, dan diikuti para penontonya, meskipun mereka menamakan diri sebagai komunitas pencinta Dolalak atau Ndolalak Fans Club (BFC),” jelas Sumarsono.

Dalam setiap pentas kesenian tradisional ini menurut pengamatannya, Dolalak yang tampil hanya sekitar 10 persen dari durasi pertunjukan, lainnya dangdung dan campursari. Termasuk tembang yang dibawakan dalam pentas itu, terlantum tembang-tembang dangdut seperti Bojoku Galak, Bajing Loncat, atau campur sari Caping Gunung, Suket Teki, Jaran Goyang, Ditinggal Rabi dan lainnya. (Nar)

 

 

BERITA REKOMENDASI