Seniman Gunung Sajikan ‘Sotho Kembang Madu’

TEMANGGUNG (KRjogja.com) – Seniman gunung Sumbing yang tergabung dalam Sekar Laras dari Desa Tanggulangin Kecamatan Selopampang Temanggung menyajikan sendratari 'Sotho Kembang Madu' di Pendopo Pengayoman komplek rumah dinas bupati setempat. Penampilan seniman yang semuanya petani tembakau itu menunjukkan mereka tidak hanya jago dalam budi daya tembakau namun juga berolah rasa, baik seni gerak dan kerawitan.

Pencipta dan penata sendratari tersebut Sutopo Minggu (7/8/2016) mengemukakan berkesenian merupakan satu dari sekian kepiawaian petani tembakau di Temanggung. Berkesenian mengasah jiwa menjadi halus dan peka terhadap keadaan lingkungan. "Berkesenian tidak hanya menghibur, tetapi menyuarakan kebenaran sekaligus memperjuangankannya," katanya.

Kesenian yang biasa yang mainkan adalah diantaranya kuda lumping, sholawat duduk, kethoprak dan wayang kulit. Masing-masing desa setidaknya punya dua kelompok kesenian. Mereka pentas di desa maupun di luar desa. Bahkan ada yang ditunjuk mengisi di anjungan Jateng di TMII mewakili Kabupaten Temanggung dan pentas di sejumlah daerah. "Kami berlatih minimal satu bulan dua kali," katanya.

Dikemukakan Sutopo, sendratari Sotho Kembang Madu berkisah tentang awal mula daun tembakau dan padi raja lele dan penyebarannya di wilayah lereng gunung Sumbing dan Sindoro. Berkat dua komoditas tersebut wilayah yang kini menjadi Kabupaten Temanggung itu, rakyatnya
menjadi sejahtera.

Alkisah seorang pemuda Joko Teguh diberi biji tembakau dan padi raja lele oleh Sunan Kudus. Biji tembakau ternyata berkasiat untuk mengobati sakit sedangkan padi di makan dengan rasa enak. Dalam perkembangannya membuat iri raja Dampo Awang dari negeri seberang lautan untuk datang dan mendapatkan tembakau dan raja lele.

Pertempuran terjadi hingga menimbulkan banyak korban. Pada pertempuran itu tumpukan jerami warga dirubah oleh Dampu Awang menjadi gundukan tanah. Sebaliknya Joko Teguh mengubah prahun yang dibawa Dampu Awang menjadi gunung yang kini dikenal Gunung Prahu.

Sunan Kudus yang mendengar itu lantas mendamaikannya. Diambil kesepakatan Joko Teguh dan anak buahnya bertugas menanam tembakau sedangkan Dampo Awang bertugas menyalurkan hasil bumi pada sunan Kudus untuk diracik menjadi obat hisap atau lintingan. (Osy)

BERITA REKOMENDASI