Sering Dipijat, Harga Sapi Jadi Mahal

MAGELANG (KRjogja.com) – Lereng Gunung Merapi di Kabupaten Magelang, tak hanya dikenal sebagai penghasil tambang galian C dan Salak Nglumutnya saja. Namun belakangan ini, juga dikenal sebagai penghasil sapi-sapi berkualitas. Seperti yang dilakukan oleh Nur Waluyo (43), warga Gowok, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung.

Tahun lalu, salah satu sapinya jenis simetal laku terjual Rp 68 juta oleh seorang pengusaha dari Tegal. Kini menjelang Idul Adha, dua ekor sapinya yang ia beri nama Sembodo dan Bimo, ia hargai Rp 80 juta dan Rp 90 juta. Berat keduanya pun mencapai lebih dari 1,2 ton. Padahal, 14 bulan lalu saat ia membelinya di Pasar Muntilan, hanya memiliki berat sekitar 500 kwintal.

Untuk membuat kedua sapinya memiliki berat ‘jumbo’, pertama yang harus dilakukan adalah memilih bentuk tubuh sapi yang bagus. Yakni porposional antara panjang dan tingginya. Usianya juga harus masih muda antara 1,5 tahun hingga dua tahun.

Setelah mendapatkan sapi yang bagus, langkah kedua adalah memberinya pakan yang bagus. Yakni diberi rumput hijau atau damen dan cacahan ketela yang dicampur dengan bekatul serta air garam. Selain makanan-makanan itu, keduanya juga rutin diberi buah pisang kluthuk batu. “Ibarat manusia, setelah menyantap makanan berat diperlukan makanan pencuci mulut. Untuk sapi, makanan pencuci mulut yang paling bagus adalah pisang klutuk batu. Alasannya, karena kandungan gizinya cukup tinggi,” jelasnya.

Selain makanan bergizi tersebut, sapi juga harus selalu diberi jamu agar selalu sehat. Untuk jamu ini, berisi ramuan empon-empon seperti jahe, kencur dan lainnya. Tujuannya untuk menjaga kondisi tubuh dan menambah napsu makan. “Terakhir yang juga penting, sapi harus rutin dipijat. Kalau tidak bisa memijat, cukup dengan menyikat badannya menggunakan sikat sepatu atau karpet," pungkasnya. (Bag)

BERITA REKOMENDASI