Sinergi JNE, Bangun Asa UMKM Panahan Krandegan

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Anak panah melesat cepat menuju sasaran. “Jeb!” batang lurus dari bambu yang berujung tajam itu menancap cukup dalam di pusat lingkaran objek sasaran berbahan busa tebal.

Wahyudin Nur Abadi mengeluarkan segenap tenaga untuk mencabutnya. “Ternyata cukup dalam, hebat juga lentingan busurnya,” pria itu mengamati anak panah di tangan kanannya, sambil sesekali menolehkan pandangannya ke busur di tangan kirinya. Busur itu berbahan fiberglass yang baru saja selesai ia rakit.

“Seharusnya memanah sambil menunggang kuda,” batin pria berumur pertengahan kepala tiga itu membayangkan dirinya duduk di pelana kuda, bak prajurit Kekaisaran Mongolia yang memang terkenal dengan kemampuan memanah dari punggung kuda.

Lamunan Wahyudin buyar dikagetkan Syamil, anak keduanya yang merajuk mengajaknya bermain. “Ah, aku memang tidak bisa berkuda,” kata Wahyudin sambil meletakkan anak panah dan busurnya, lalu mengangkat anaknya tinggi-tinggi. Syamil tertawa kegirangan.

Wahyudin bukanlah prajurit pemanah berkuda, pun bukan atlet profesional untuk nomor olahraga prestasi bidang panahan itu. Namun, Wahyudin memiliki peran yang lebih penting. Ia memproduksi horsebow atau secara harfiah berarti busur kuda, yakni busur panah khusus untuk cabang olahraga horseback archery atau panahan berkuda.

“Saya mulai merintis pembuatan horsebow sejak dua bulan terakhir,” kata Wahyudin kepada KRJOGJA.com, saat ditemui di rumahnya, Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Selasa (4/1/2022).

Produk itu dibuat karena Wahyudin ingin mengharumkan nama Purworejo dengan caranya sendiri. Yakni dengan memproduksi horsebow yang bisa dipakai para atlet di berbagai kompetisi. “Mimpi saya, kelak bisa muncul atlet panahan Purworejo yang sukses menorehkan prestasi dengan busur buatan lokal,” terangnya.

Dalam bisnis busur dan anak panah, Wahyudin bukanlah pemain baru. Ia memproduksi piranti olahraga itu sejak tahun 2015. Wahyudin belajar secara otodidak lewat berbagai kanal media digital. “Awalnya saya bekerja sebagai sales mainan anak-anak, lebih dari tujuh tahun lalu saya melihat ada peluang di panahan. Saya melihat olahraga atau hobi yang satu ini punya prospek yang cerah di masa depan,” terangnya.

Berkali-kali mencoba, Wahyudin akhirnya menemukan resep membuat alat panahan yang baik. Produknya pun laku keras di pasaran.

Hebatnya lagi, ia tidak perlu lelah membawa set alat panahannya ke mana-mana. Cukup duduk di rumah, ia sudah mampu menjual puluhan set busur dan anak panah per minggu. “Sejak awal, saya memang menjual produk secara daring,” tuturnya.

Sembilan puluh persen pesanan datang lewat ponsel. Pesanan datang begitu ia mengunggah foto produk di status WhatsApp dan Facebook Marketplace. “Setelah transaksi, barang tinggal dikirim lewat jasa ekspedisi. Biasanya saya memakai jasa JNE di Kelurahan Bandung, Kecamatan Kutoarjo,” tuturnya.

Produk Wahyudin merajai pasaran busur dan anak panah. Kualitas prima membuat konsumen percaya dengan produk buatan UMKM unggulan Desa Krandegan itu. Beberapa rekanan datang dan berminat menjadi perantara penjualan. Pemasaran pun semakin terdongkrak.

Terlebih pada awal masa pandemi Covid-19, ketika publik memilih di rumah saja karena khawatir terpapar virus dan ketatnya pembatasan aktivitas oleh pemerintah. Sebagian masyarakat menjatuhkan pilihan pada hobi panahan untuk mengisi waktu. Alhasil, ratusan set busur dan anak panah terjual dalam satu bulan.

Bahkan, beberapa pembelinya berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Untuk mencukupi produksi, pria tiga anak itu merekrut sejumlah perajin kayu di Krandegan untuk turut memproduksi busur dan anak panah.

Namun, namanya usaha yang berkembang, tidak lepas dari terpaan badai persaingan. Pelan-pelan produk buatan Wahyudin mulai meredup ketika ada pesaing yang menjual set panahan dengan harga lebih murah. “Saya ikhlas saja mas, tidak masalah. Prinsip saya, kalau sudah rezeki, ya tidak akan ke mana,” ucapnya.

Wahyudin tetap memasarkan produknya secara digital, meski tidak bisa semaksimal pada masa awal produksi beberapa tahun lalu. Wahyudin menyadari bahwa sekarang ia lebih fokus memproduksi ketimbang memasarkan. “Namun demikian, kemitraan tetap dibangun dan komunikasi intensif dilakukan, tidak hanya dengan konsumen, tapi juga mitra lain termasuk JNE. Jika ada pesanan, saya sering mengirim lewat JNE karena saya sudah percaya pada layanan mereka. Produk saya bisa sampai di tangan konsumen tepat waktu dan tanpa ada kerusakan,” terangnya.

Turunnya skala bisnis tak lantas membuat Wahyudin meredupkan mimpinya. Produk baru yang memiliki prospek lebih cerah dibandingkan set alat panahan lama, coba ia buat. Horsebow menjadi pilihannya karena bentuknya yang simpel tapi punya kekuatan dan ketahanan yang luar biasa.

Untuk membuat busur itu, lembaran fiber dan kayu direkatkan dengan metode khusus. Setelah itu, Wahyudin memolesnya hingga produk menjadi halus dan siap dipasangi tali busur.

Modifikasinya juga banyak, antara lain dengan lukisan busur, dilapisi kulit, dipasangi tanduk kerbau, hingga penggunaan bulu halus untuk peredam getaran. Semua ada nilainya sendiri, sehingga produsen bisa leluasa menentukan harga. “Tapi untuk sekarang, saya masih memakai harga standar saja, Rp350 ribu per busur. Sangat terjangkau untuk jenis horsebow. Sambil menjual, saya juga minta masukan dari konsumen guna menyempurnakan produk,” ungkapnya.

Horsebow memiliki pangsa pasar tersendiri, yakni mereka yang memiliki keahlian memanah, dan bukan sekadar hobi untuk bersenang-senang saja. Wahyudin meyakini, jalan produk itu lebih terang karena ada berbagai kompetisi panahan yang bakal digelar.

Sejalan dengan pemikiran Wahyudin, Pemerintah Desa (Pemdes) Krandegan mengonsep kawasan olah raga panahan terpadu dengan UMKM busur dan anak panah sebagai pusat keunggulan utama.

Kepala Desa Krandegan Dwinanto mengatakan, UMKM milik Wahyudin merupakan potensi unggulan desa. “Sayang kalau tidak dikembangkan secara terpadu,” ujarnya.

Wujud konsep terpadu gagasan pemdes antara lain dengan membangun kawasan produksi, sarana latihan, dan tempat komunal yang dipadukan dengan berbagai sarana pendukung seperti kolam renang, pusat kuliner, gedung pertemuan, serta lahan parkir yang luas. Pemdes berencana membangunnya di lahan milik desa seluas kurang lebih empat ribu meter persegi.

Sedianya, kata Dwinanto, infrastruktur itu mulai dibangun tahun 2021. Namun, gegara pandemi, pembangunan diundur pada tahun 2022. “Akan dibangun secara bertahap dengan alokasi dana bantuan keuangan dari gubernur dan juga dana desa,” tuturnya.

Kawasan terpadu itu kelak diharapkan akan menjadi sentra prestasi panahan Kabupaten Purworejo. Pemdes menunjuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa) Krandegan mengelola kawasan dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan pembinaan. “Selain pembinaan atlet, nantinya juga akan dikembangkan untuk wisata minat khusus,” katanya.

Untuk itu, Dwinanto berharap dukungan dari seluruh pemangku kebijakan termasuk sektor penting pendukung usaha. “Kami memiliki sistem pemasaran digital dan kelak juga akan diproyeksikan untuk memasarkan produk UMKM panahan Krandegan. Tidak hanya itu, dukungan dari sisi pengiriman logistik pun sangat penting, misalnya JNE yang menjadi salah satu perusahaan ekspedisi tumpuan para pelaku usaha di Krandegan. Harapan kami, pelayanan prima yang selama ini diberikan, bisa selalu dipertahankan,” tuturnya.

Ya, harapan besar untuk JNE, perusahaan ekspedisi terbesar di Indonesia. #JNE31Tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu pula JNE ditempa hingga menjelma menjadi salah satu perusahaan terbaik dalam melayani pelanggannya.

Pelayanan prima yang terlihat dari aktivitas gerai, termasuk di Kelurahan Bandung, Kutoarjo, tempat Wahyudin dan pelaku UMKM lainnya mempercayakan pengiriman barang kepada konsumennya.

Pelaku UMKM memang menjadi salah satu fokus utama JNE. Pelaku usaha kecil tetap memiliki kemampuan bertahan dari serbuan pandemi apabila didukung dengan pemasaran dan pengiriman logistik yang mumpuni.

UMKM yang berkembang dengan baik, serta didukung dengan sistem pemasaran daring, membutuhkan sektor pengiriman logistik yang kuat. Jasa ekspedisi terbaik, dengan ketepatan waktu pengiriman, kualitas barang konsumen yang selalu terjaga, serta harga bersaing, akan menjadi pilihan publik.

Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi mengemukakan, JNE sudah menjadi bagian integral dari masyarakat Indonesia, termasuk para pelaku UMKM. JNE mampu memberikan peran signifikan pada sisi distribusi barang, khususnya produk UMKM di Indonesia. “Semua berkat dukungan pemerintah. JNE terus berupaya agar mampu memberikan pelayanan optimal agar daya saing logistik semakin merata di seluruh Indonesia, sehingga mimpi #JNEMajuIndonesia bisa diwujudkan,” tegas Eri dalam rilis yang diterima KRJOGJA.com belum lama ini.

Tidak hanya soal kelancaran distribusi logistik, JNE juga menerapkan kebijakan pemerataan informasi dengan membuat aneka konten melibatkan para kreator dari seluruh Indonesia. “Informasi yang merata, lengkap, dan akurat, berperan penting dalam bisnis ekspedisi. Maka #jnecontentcompetition2021 yang melibatkan konten kreator dan media massa menjadi salah satu terobosannya,” tandasnya.

Sektor produksi dan konsumsi tidak bisa dilepaskan dengan ekspedisi sebagai perantara di tengah keduanya. Ketiga sektor itu membentuk supply chain atau rantai pasokan dan di situlah arus barang dan jasa akan selalu berputar. Terus berputar untuk menjaga para pelaku UMKM seperti Wahyudin agar selalu bisa menjaga asa mereka.

Sebuah mimpi mulia yang tidak sekadar bermotifkan ekonomi pribadi, akan tetapi keinginan Wahyudin agar kelak produk panahannya menjadi andalan bagi para atlet yang ingin menorehkan prestasi demi mengharumkan nama bangsa. Semoga. (Jas)

BERITA REKOMENDASI