Situs Liyangan, Penemuan Peradaban Masa Lalu

Editor: Ivan Aditya

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com – Teknologi mitigasi nenek moyang kita yang luar biasa, perlu dipelajari untuk kemudian diangkat lagi dan dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan yang mungkin bisa diterapkan di masa ini. Karena dalam situs yang baru diketemukan tahun 2008 itu diketahui bila nenek moyang sudah memiliki teknologi pertanian, pemukiman dan mitigasi bencana alam yang baik.

Koordinator Staf Khusus Presiden RI AAGN Ari Dwipayana dan Staf Khusus Presiden RI Sukardi Rinakit sangat mengagumi perencanaan dan tata wilayah di Situs Liyangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dalam Perjalanan Budaya , Kamis (11/03/2021) disebutkan, dari situs yang baru ditemukan pada 2008 itu, diketahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah memiliki teknologi pertanian, pemukiman dan mitigasi bencana alam yang baik.

“Situs Liyangan merupakan situs yang lengkap sebagai sebuah penemuan peradaban masa lalu,” ujar Ari Dwipayana.

Karenanya, Koordinator Staf Khusus Presiden ini berharap Situs Liyangan dapat terus dimanfaatkan. Baik untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, membangun nilai-nilai kebanggaan bangsa dan juga sebagai pilihan destinasi wisata heritage.

Dalam perjalanan keliling situs di tengah guyuran hujan, Ari memperhatikan kondisi kawasan yang cukup luas dan banyak diketemukan bagian candi yang tinggal kaki. Ada sebuah kaki candi yang di atasnya terdapat sebuah yoni dengan bentuk unik.

Ari bahkan sangat tertarik penjelasan dari arkeolog Sugeng dari Balau Arkeologi (Balar) Yogyakarta bahwa bentuk susunan batu yang ada bisa untuk melihat apakah di atasnya itu merupakan kompleks hunian, ritual atau pertanian.

“Ini penemuan peradaban, penemuan luar biasa yang bisa jadi laboratorium untuk mempelajari berbagai aspek kehidupan pada masa lalu” ujar Ari.

Dari temuan kompleks hunian, ritual, hingga pertanian, maka ini penemuan peradaban, penemuan luar biasa yang bisa jadi Laboratorium untuk mempelajari berbagai aspek kehidupan pada masa lalu.

Sebelumnya Kepala BPCB Jawa Tengah Sukron Edi menjelaskan, situs Liyangan merupakan sebuah situs berupa peradaban sebuah kota kecil di zaman Mataram Kuno yang aktif sekitar abad ke 2-11 masehi. Peradaban Liyangan berakhir saat Gunung Sindoro meletus. “Yang hebat kami sama sekali tidak menemukan korban baik penduduk maupun hewan ternak. Artinya mitigasi kebencanaan leluhur kita sangat baik saat itu,” tutur Edi.

Saat ditemukan, situs Liyangan tertimbun tanah sekitar 5 meter. Luas situs Liyangan dibagi dalam dua zona, yaitu zona inti yang mencapai 8,12 hektar dan zona penunjang yang luas sekitar 18 hektar. Terdapat tiga tingakatan yang ditemukan dalam peradaban Liyangan, yaitu hunian, ritual, dan pertanian.

“Selain keramik pada mas Dinasti Tang dan juga perkakas , kita temui juga ada ijuk, kayu, dan padi yang dalam bentuk arang karena terbakar abu panas Gunung Sundoro yang saat itu meletus,” kata Edi. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI