SMK Batik Perbaik Lomba Kostum Carnival

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – SMK Batik Perbaik Purworejo menyelenggarakan lomba kostum carnival antarkelas, Selasa (20/08/2019). Sebanyak 23 kostum hasil rancangan siswa didampingi guru wali kelas, ditampilkan di lapangan upacara sekolah itu.

Kepala SMK Batik Perbaik Yati Dwi Puspita mengatakan, lomba tersebut merupakan agenda tahunan. Pada pelaksanaan 2019, sekolah mengundang Kabid Pengembangan Kapasitas dan Promosi Dinparbud Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih dan desainer batik Ganjar Widiantoro sebagai juri. "Setiap tahun, sejak 2016 kami menggerakkan kreativitas anak untuk membuat kostum carnival," ujarnya kepada KRJOGJA.com, usai lomba.

Setiap kelas wajib membuat kostum. Mereka dibebaskan menentukan tema dan memilih bahan pembuat kostum. Namun guru wali kelas mendampingi proses desain hingga tahap akhir pembuatan kostum.

Kostum dibuat menggunakan aneka  bahan, mulai barang bekas hingga material baru yang dibeli di toko. Setiap kostum menghabiskan anggaran antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Pihak sekolah memberi subsidi kepada setiap kelas untuk meringankan beban siswa.

Setelah dilombakan, kostum tersebut akan diikutkan dalam pawai budaya yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo pada Selasa siang. "Setiap tahun kami ikut pawai pakai kostum terbaru, sedangkan kostum lama disimpan dan disewakan," ungkapnya.

Peserta pawai kelas XII Anis menuturkan, kostum yang dipakainya seberat kurang lebih sepuluh kilogram. Namun ia mengaku tidak masalah dengan berat kostum. "Kostum ini hasil karya kelas kami, jadi meski berat, saya senang dan puas," ucapnya.

Dalam lomba itu, kostum buatan kelas 11 OTKP 2 dengan tema Roro Jonggrang berhasil menjadi juara pertama. Pemenang kedua diraih kostum buatan pelajar kelas 12 AKL 2 dan juara ketiga kelas 12 BDP.

Dyah Woro Setyaningsih mengemukakan, pemerintah mengapresiasi langkah sekolah menggelar lomba kostum buatan sendiri. Menurutnya, keterampilan membuat kostum carnival itu merupakan potensi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Ditambahkan, kostum carnival di Purworejo memang kalah populer dengan Jember atau Banyuwangi. Namun, Purworejo tetap bisa mencuat apabila memiliki keunggulan yang berbeda dengan pagelaran serupa di kota lain.

“Bisa diarahkan, misal bikin kostum carnival yang megah, tapi temanya unik dan lucu, atau kostum yang merepresentasikan tokoh tertentu. Akan tetapi kami di dinas melihat kemampuan siswa SMK Batik itu adalah potensi," tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI