SMK Muhammadiyah di Magelang Miliki Fasilitas COE

Editor: KRjogja/Gus

MAGELANG, KRjogja.com – Tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah di Kabupaten Magelang, secara resmi memiliki fasilitas baru berupa perangkat program COE (Center Of Excellence). COE adalah program pusat keunggulan pendidikan dengan metode pembelajaran yang merupakan kolaborasi pendidikan vokasi (keahlian terapan) dengan dunia industri dan juga dunia usaha.

Tiga sekolah tersebut adalah SMK Muhammadiyah Salaman dengan fasilitas COE berupa Kompetensi Keahlian Tata Boga, SMK Muhammadiyah Mungkid berupa fasilitas bengkel mesin dan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif serta SMK Muhammadiyah 2 Muntilan berupa program keahlian tata kelola perkantoran. Peresmian Fasilitas CEO dilakukan oleh Direktur SMK Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Republik Indonesia, Dr. Ir. Bakrun, MM di SMK Muhammadiyah Salaman.

Hadir dalam acara persemian Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Drs Tafsir, MAg, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Jawa Tengah, Dr Nikmah Nurbaiti, M.Pd dan Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PWM Jawa Tengah, Dr Iwan Junaedi, M.Pd. Selanjutnya Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang, Drs Jumari dan Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Magelang Muhammad Tohirin M.Ag.

Bakrun dalam sambutannya mengatakan, bahwa SMK yang memperoleh program COE akan di tetapkan menjadi SMK Pusat Keunggulan (PK) pada tahun 2021.
“Dengan adanya SMK PK, pemerintah memiliki target setiap lulusan sekolah kejuruan bisa langsung beradaptasi dengan dunia kerja dan juga mampu kreatif untuk berwirausaha,” harapnya.

Disisi lain, kata Bakrun, sekolah dengan fasilitas program COE ini, juga diharapkan menjadi tempat yang mampu menumbuhkan inspirasi dan inovasi baru, sehingga mampu menjadi contoh bagi sekolah lain disekitarnya. “Melatih siswa untuk siap kerja juga perlu dibarengi dengan melatih siswa untuk siap berwirausaha. Hal ini karena meskipun berkompeten sesuai permintaan industri, tapi lapangan pekerjaan dan jumlah lulusan tidak seimbang,” lanjutnya.

BERITA REKOMENDASI