STIE Rajawali Fasilitasi Penguatan Kapasitas UMKM

Editor: Ivan Aditya

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Rajawali Purworejo memfasilitasi penguatan kapasitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Purworejo. Kampus meyelenggarakan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku UMKM di 16 kecamatan.

Pelatihan dilaksanakan dalam beberapa tahap. “Untuk tahap awal, mengingat adanya beberapa keterbatasan, kami akan fokus dulu di lima kecamatan,” kata Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STIE Rajawali Dr Hesti Respatiningsih SE MPar, menjawab pertanyaan KRJOGJA.com, Senin (22/03/2021).

Penguatan kapasitas itu merupakan tindak lanjut kerja sama antara STIE Rajawali dengan Dinas Koperasi UKM Perdagangan Purworejo. Mahasiswa STIE Rajawali diterjunkan untuk mengindentifikasi masalah dan melakukan pendataan terhadap UMKM di 16 kecamatan.

Proses pendataan dan identifikasi, katanya, sudah berhasil diselesaikan. UMKM di setiap kecamatan memiliki karakteristik permasalahan yang bermacam-macam. Namun hampir semua pelaku UMKM mengalami masalah administrasi keuangan, kemasan, dan pemasaran.

STIE Rajawali dan Dinas KUKMP Purworejo melakukan pemetaan masalah, kemudian menentukan fokus penguatan UMKM. “Lima kecamatan itu hasil pemetaan dan identifikasi masalah yang kami lakukan. Persoalan UMKM di Purworejo, Kemiri, Banyuurip, Bener dan Ngombol, mempunyai karakteristik yang hampir sama,” ungkapnya.

Penguatan UMKM akan dilaksanakan selama enam bulan dan dapat diperpanjang lagi sesuai kebutuhan. Pelaku usaha akan mendapat berbagai pelatihan dan pendampingan tentang fotografi produk, perbaikann kemasan atau labelisasi, pembukuan sederhana, pemasaran daring, dan e-commerce.

Dikatakan, pelatihan tahap pertama dilakukan di Kecamatan Banyuurip dengan sasaran pelaku usaha yang tergabung dalam Forum UMKM Banyu Mili. “Sekarang di Banyuurip dulu dan pesertanya yang paling membutuhkan dulu, adapun untuk kecamatan lain, akan dijadwalkan,” ucapnya.

Ketua Forum UMKM Banyu Mili Sumarmi mengemukakan, sebanyak 45 pengusaha dari total 60 anggota forum, telah terdata dalam katalog yang dibuat mahasiswa STIE Rajawali. Namun, baru 20 pelaku usaha yang menjadi peserta pelatihan. “Kita prioritaskan yang paling membutuhkan dulu, dan rencananya juga akan bertahap,” terangnya.

Pendampingan dan pelatihan yang konsisten, katanya, sangat penting bagi para pelaku UMKM. Apalagi, lanjutnya, dalam situasi pandemi di mana pelaku UMKM mengalami kemunduran usaha akibat merosotnya penjualan. “Dulu saat kami buka lapak banyak yang titip produk, sekarang semakin sedikit. Kami berupaya memotivasi anggota agar tetap semangat, meski pandemi UMKM harus tetap jalan,” tandasnya. (Jas)

BERITA REKOMENDASI